SEJAK pertama kali diumumkan, film Superman garapan James Gunn sudah memancing rasa penasaran penggemar film dan komik di seluruh dunia. Sebagai reboot besar DC Universe yang digadang-gadang membawa warna baru, film ini tidak hanya dinilai dari segi aksi dan efek visual, tetapi juga dari pesan-pesan moral yang disematkan di dalamnya. Belum juga tayang penuh di beberapa negara, media sosial sudah ramai membicarakan dugaan bahwa film ini punya pesan “membela Palestina” lewat adegan-adegannya yang dianggap mirip konflik nyata di Gaza.
Perdebatan pun muncul dari berbagai sudut: ada yang menganggap film ini sebagai kritik kemanusiaan universal, ada juga yang menilai terlalu berani menyinggung isu sensitif Timur Tengah. Apalagi, kabar mundurnya komedian asal Mesir, Bassem Youssef, dari proyek ini karena ia dikenal pro-Palestina, makin memperkuat opini publik bahwa di balik cerita Superman kali ini, ada pesan politik yang tak tersurat.
James Gunn sendiri membantah filmnya berpihak ke salah satu konflik nyata, meski tak bisa dipungkiri bahwa simbolisme dan dialog di dalamnya membuat banyak penonton langsung teringat pada penderitaan rakyat Palestina.
Benarkah Superman besutan James Gunn ini hanya sekadar karya fiksi, atau memang ada niat untuk menyampaikan kritik sosial tentang ketidakadilan yang terjadi di dunia nyata? Mari kita telaah bersama.
🎬 1. Produksi & Konteks Pembuatan
Sutradara & Penulis: James Gunn, sebelumnya terkenal lewat trilogi Guardians of the Galaxy, mengambil peran ganda sebagai sutradara dan penulis naskah. Film ini adalah reboot yang memulai fase baru DC Universe, setelah sebelumnya memilih model yang lebih serius di era Snyder
Awal Naskah dan Inspirasi: Gunn menyelesaikan draft awal pada akhir April 2023, dengan syuting dimulai pada 29 Februari 2024 dan selesai pertengahan 2024 . Ia menegaskan dalam wawancara bahwa film ini terlahir dari ide narasi imigrasi Superman, serta “politik dan moralitas”, bukan kritik spesifik terhadap konflik Timur Tengah
Isu Bassem Youssef: Ada rumor bahwa komedian Mesir, Bassem Youssef, batal masuk karena pro‑Palestina. Gunn membantah, menyatakan karakter tersebut memang dihapus sebelum komentar Youssef, dan tak pernah ada tudingan politik di baliknya
📝 2. Sinopsis Ringkas & Alur
Sinopsis: Clark Kent (David Corenswet) tumbuh di Smallville, Kansas. Ia bekerja sebagai jurnalis dan memiliki alter ego Superman. Konflik utama muncul ketika Superman menghentikan invasi Boravia (negara fiktif berkulit putih dan sekutu AS) ke negara tetangga Jarhanpur (lebih lemah, non‑putih, dipotret mirip wilayah Timur Tengah)
Konflik moral: Lois Lane (Rachel Brosnahan) menanyakan apakah Superman seharusnya melakukan intervensi militer unilateral, menekankan bahwa Jarhanpur mungkin tidak sepenuhnya tak berdosa, sehingga bisa menjadi ancaman jika dibiarkan tanpa kontrol.
💵 3. Pendapatan & Penerimaan
Anggaran & Box Office: Film ini dibangun dengan anggaran US$225 juta, dan telah meraup US$232,9 juta dunia per 14 Juli 2025, termasuk US$137,9 juta dari AS/Kanada dan US$95 juta dari pasar internasional
Proyeksi Keuntungan: Namun, menurut Deadline dan The Hollywood Reporter, film membutuhkan setidaknya US$500‑700 juta global agar menguntungkan penuh, mengingat total biaya produksi + promosi mendekati US$400 juta
Tanggapan Awal: Penerimaan awal cukup positif — nilai IMDb sekitar 7,7/10 (120.000+ review), dan perolehan hari pertama mencapai US$56,5 juta, menjadi salah satu pembukaan terkuat untuk tahun 2025 .
🕊️ 4. Adegan Konflik Boravia–Jarhanpur & Kaitan Palestina

a. Visual dan simbolisme
Kesamaan Gaza: Banyak penonton dan pengamat menganggap adegan Boravia menyerang warga sipil Jarhanpur sangat mirip dengan insiden Israel di Gaza, termasuk situasi perbatasan, warga non‑bersenjata, dan anak-anak yang mengejar perlindungan
Penerjemahan sosial media: Sejumlah cuitan di X/Threads menekankan kesan pro‑Palestina tersebut:
“shit made me cry … those poor kids in gaza being massacred … I still can’t believe he made a superman movie about palestine”
“#Superman … powerful and clear commentary on the senseless genocide towards Palestinians in Gaza …”
“yall were not kidding about how anti-israel and pro palestine that superman movie was …”
b. Reaksi negara & konsekuensi
Seruan boikot: Di Israel muncul seruan boikot—beberapa pengguna menyebut film tersebut sebagai “propaganda pro‑Hamas dan Al‑Jazeera”
Kritik konservatif: Sosok seperti Ben Shapiro juga mengkritik film ini. Namun, netizen justru membela Superman: “Ben Shapiro disliking a film is the highest praise it could possibly receive”
c. Sudut pandang Gunn
Gunn menegaskan bahwa filmnya bersifat fiksi; wilayah seperti Boravia dan Jarhanpur bukan representasi langsung Israel–Palestina, namun dibuat universal agar tetap relevan tanpa menyinggung negara tertentu
Ia memang membicarakan tema imigrasi dan moralitas, bukan konflik Timur Tengah secara eksplisit .
🔍 5. Ulasan & Perbandingan
| Aspek | Catatan |
|---|---|
| Alur dan pesan | Mengangkat tema intervensi kekerasan vs perlindungan warga sipil. Fokus pada apa yang benar menurut moralitas, bukan politik negara. |
| Representasi imigrasi | Superman diposisikan sebagai imigran yang berhijrah ke dunia baru, termasuk aspek intelektual mengenai “kewarganegaraan global” merdeka.com+1CNA.id: Berita Indonesia, Asia dan Dunia+1. |
| Kritik visualisasi konflik | Adegan perbatasan, warga sipil tanpa senjata berhadapan dengan tank, barisan pasukan—dengan estetika yang sangat mirip konflik Gaza—sangat terasa politis dan memancing interpretasi. |
| Tanggapan penonton | Banyak memuji keberpihakan pada soal kemanusiaan: “Superman fights for justice for all… as frightened children raise a makeshift flag of Superman’s logo… one can’t help but think of… Palestinian disabled, children…” . |
| Sisi kritis | Beberapa kritikus menganggap pesan moral terlalu “bersih” dan penyederhanaan konflik kompleks jadi hitam-putih . |
🧾 6. Kesimpulan & Refleksi
Film Superman karya James Gunn bukanlah pernyataan eksplisit bahwa sutradara “membela Palestina”; ia menegaskan bahwa situasi Boravia vs Jarhanpur bersifat fiksi dan universal. Namun, banyak elemen visual dan dialog—aplikasi konsep tentang kekuasaan, imigrasi, serta perlindungan warga sipil yang lemah—dipersepsikan sebagai alegori terhadap konflik Israel–Palestina.

Sensasi ini diperkuat melalui narasi karakter Lois, konflik moral terbuka di antara tokoh utama, serta reaksinya di media sosial dan beberapa pihak Israel. Bagi sebagian penonton, ini adalah film dengan sentimen “pro‑Palestina” yang jelas; sementara bagi James Gunn, fokusnya tetap pada “politik dan moralitas” secara luas, bukan dukungan terhadap satu isu nyata.
Ulasan (ringkas):
Dari sudut produksi dan penulisan, Superman lebih ingin menjadi narasi universal tentang intervensi militer dan tanggung jawab moral pahlawan, bukan drama politik Timur Tengah.
Namun visualisasi invasi dan korban sipil melalui sosok Jarhanpur mengundang resonansi kuat terhadap konflik nyata di Gaza, sehingga mengundang pro dan kontra.
Apakah ini representasi simbolik atau rekayasa fiksi belaka. Interpretasi selerang terbuka — menjadi refleksi nilai kemanusiaan di era modern.
Pada intinya, Superman James Gunn tidak secara resmi “membela Palestina”, namun melalui tema dan simbolik visualnya, ia dibaca banyak orang sebagai film dengan nuansa pro‑kemanusiaan yang selaras dengan simpati terhadap rakyat Palestina. Interpretasi semacam ini adalah produk reaksi penonton terhadap apa yang mereka lihat di layar—di balik kata “fiksi universal” yang diusung Gunn. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

