SETELAH empat puluh tahun kau berdiri di punggung usia,
Terhimpit waktu yang tak pernah surut, tak lagi muda,
Jika dunia belum juga memberimu harta melimpah sebagai perhiasan fana,
Maka saatnya kau menoleh, memandang akhirat sebagai tujuan utama.
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Umur umatku antara enam puluh hingga tujuh puluh, dan sedikit yang melebihinya” (HR. Tirmidzi).
Maka apa gerangan yang hendak kau banggakan, wahai insan papa?
Usia senja bukan sekadar angka, ia tanda panggilan untuk pulang pada-Nya.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
“Barangsiapa yang mencapai usia empat puluh, dan kebaikannya belum juga mengungguli keburukannya, hendaklah ia bersiap menuju neraka.”
Betapa getir jika kita lalai, menumpuk cita-cita,
Namun lupa bekal di jalan panjang setelah nyawa berpisah dari raga.
BACA JUGA: Di Usia 40 Tahun: Sebuah Titik Balik Kehidupan
Tak semua orang dikaruniai rizki yang berlimpah ruah,
Sebagian diuji dengan kesempitan, lapar, lelah dan pasrah,
Namun Allah maha adil, bagi siapa yang tak digenggamnya dunia,
Ia bukakan jalan mulia: kejar akhirat, dan kelak kaulah pemenangnya.
Wahai engkau yang masih terjaga di malam panjang,
Ketika usia empat puluh telah singgah menorehkan keriput di wajahmu,
Ingat sabda Rasulullah ﷺ,
“Allah membiarkan seseorang sampai usia empat puluh, maka Allah berfirman kepada malaikat: Jagalah dia! Jika ia bersyukur, maka Aku tambahkan nikmat-Ku, dan jika tidak, maka siapkan untuknya jalan menuju neraka.” (HR. Abu Ya’la).
Tak perlu malu jika engkau tak bergelimang harta,
Malulah jika engkau tak punya amal shalih untuk dibawa,
Karena kemiskinan dunia hanyalah cobaan,
Namun kemiskinan akhirat adalah bencana yang tiada tara.
Ibnu Qayyim rahimahullah pernah menasihati,
“Waktu adalah modal terbesar seorang mukmin, maka rugilah siapa yang menukarnya dengan kelalaian.”
Jika engkau tak mampu menumpuk emas, maka tumpuklah istighfar dan shalawat,
Jika engkau tak sanggup mendirikan istana megah, maka dirikanlah malam dengan sujud yang khusyuk dan taat.
Berhentilah menoleh pada dunia yang mengejek kekosongan sakumu,
Karena hisab nanti takkan pernah bertanya: “Berapa hartamu?”
Tapi akan menanyakan: “Apa yang engkau lakukan dengan umurmu?”
Apa yang engkau taburkan untuk memanen di ladang kuburmu?
Jangan biarkan uban menjadi saksi bisu kelalaian,
Jangan biarkan langkahmu hanya mengejar bayang semu,
Karena sejatinya, tak ada satu dirham pun yang menyeberang ke alam kubur,
Kecuali amal shalihmu yang tulus dan sujud yang tak terputus.
Ingatlah pesan Hasan al-Bashri rahimahullah,
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari pergi, maka pergilah sebagian dari dirimu.”
Maka segeralah kejar akhirat, sebelum nyawa tiba di kerongkongan,
Karena esok bukan hakmu, dan hari ini pun hanya pinjaman.
BACA JUGA:5 Perubahan Laki-Laki saat Usia 40 Tahun, dari Hormon hingga Kecemasan
Jika Allah tak memberimu kaya, mungkin Dia hendak memuliakanmu dengan hati yang qana’ah,
Jika dunia engkau lewatkan, semoga akhirat menjadi kejutan paling indah,
Berpalinglah dari gemerlap fana, luruskan langkahmu menuju surga,
Karena kelak yang kau temui hanyalah Dia, satu-satunya tempatmu kembali dan bermuara.
Usia empat puluh bukan akhir, melainkan permulaan hijrah,
Untuk membersihkan hati, menyucikan lisan, dan menata niat semata,
Dan biarlah orang berkata, “Ia tak kaya di dunia,”
Asal kelak para malaikat menyambutmu: “Selamat datang, engkau yang kaya amal dan setia.”
Semoga renungan ini menggugah hati:
Bahwa jika setelah usia empat puluh engkau tak kaya, jangan biarkan kau pun miskin di akhirat.
Segeralah berlari, kejar ridha Allah, dan buktikan cintamu pada-Nya,
Karena hanya itu yang sejatinya berharga,
Dan hanya itu pula yang abadi selamanya. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
