DI antara hal yang paling menakutkan pada Hari Kiamat—hari yang Allah Subhanahu wa Ta’ala gambarkan sebagai “hari yang membuat anak kecil beruban” (QS. Al-Muzzammil: 17)—adalah jika seseorang dinyatakan sebagai musuh Allah. Bayangkan, Dzat Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, justru memusuhi seorang hamba. Itulah puncak kehinaan dan kecelakaan yang abadi.
Padahal, Allah Ta’ala adalah Dzat Yang Kasih Sayang-Nya meliputi segala sesuatu. Dia berfirman: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A’raf: 156)
Namun, ada orang-orang yang karena kezalimannya kepada manusia lain, kecurangan dan pengkhianatan mereka, justru menjadi golongan yang diancam sebagai musuh Allah di Hari Pembalasan.
TIGA GOLONGAN YANG DIMUSUHI ALLAH DI HARI KIAMAT
Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada tiga golongan yang Aku menjadi musuh mereka pada Hari Kiamat:
(1) Seorang yang bersumpah atas nama-Ku, lalu berkhianat.
(2) Seorang yang menjual orang merdeka, lalu memakan hasil penjualannya.
(3) Seorang yang mempekerjakan pekerja, dan pekerja itu telah menyelesaikan pekerjaannya, tetapi ia tidak memberikan upahnya.”
(HR. Al-Bukhari no. 2227)
Renungkanlah betapa mengerikannya kedudukan sebagai musuh Allah. Karena siapa yang dimusuhi Allah, ia tak akan pernah selamat.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menjelaskan dalam Fath al-Bari bahwa hadits ini menunjukkan besarnya dosa berkhianat, menzalimi manusia, dan mengambil hak mereka tanpa sebab yang dibenarkan syariat.^1
KEBANGKRUTAN DI AKHIRAT
Akhlak buruk kepada manusia akan membawa kebangkrutan di akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?”
Mereka menjawab, “Orang yang tidak punya dirham dan tidak punya harta.”
Beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah yang datang pada Hari Kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia pernah mencaci si fulan, menuduh si fulan, memakan harta si fulan, menumpahkan darah si fulan, dan memukul si fulan. Lalu diambil dari kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada mereka. Jika kebaikannya habis sebelum utangnya selesai, diambil dari dosa-dosa mereka dan dilimpahkan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim no. 2581)
Inilah salah satu gambaran nyata keadilan Allah Ta’ala di akhirat. Dosa yang berhubungan dengan manusia (haqqul adami) tidak cukup hanya taubat antara dia dan Allah, tapi harus diselesaikan dengan orang yang dizalimi.
AKHIR ZAMAN DAN FITNAH AKHLAK
Di akhir zaman, Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa akan muncul banyak fitnah yang mengikis akhlak manusia.
Beliau bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipuan; pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat dipercaya, orang amanah dikhianati, dan ruwaibidhah akan berbicara.”
Para sahabat bertanya: “Siapakah ruwaibidhah itu?”
Beliau menjawab: “Orang bodoh yang berbicara urusan umum.”
(HR. Ibnu Majah no. 4036, dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albani)
Fenomena ini tampak hari ini: orang yang berkhianat dijadikan tokoh, pedagang yang curang justru dianggap sukses, sedangkan orang jujur dicemooh dan disingkirkan.
LAGI, TIGA GOLONGAN LAIN YANG CELAKA DI HARI KIAMAT
Masih dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ada tiga golongan yang Allah tidak akan berbicara kepada mereka, tidak melihat kepada mereka, tidak mensucikan mereka, dan bagi mereka azab yang pedih:
(1) Lelaki yang punya kelebihan air di padang pasir tapi tidak mau memberikannya kepada musafir.
(2) Lelaki yang menjual barang dagangan dengan sumpah palsu.
(3) Lelaki yang membaiat pemimpin hanya demi dunia; kalau diberi dunia dia loyal, kalau tidak, dia ingkar.”
(HR. Al-Bukhari no. 2369 dan Muslim no. 108)
Tiga golongan ini menunjukkan betapa beratnya dosa berbohong, kikir, dan menjadikan agama untuk kepentingan dunia.
PERKATAAN ULAMA SALAF TENTANG AKHLAK
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Bukanlah iman itu dengan berangan-angan dan berhias kata, tetapi iman adalah yang menetap di dalam hati dan dibuktikan dengan amal perbuatan.” (Az-Zuhd oleh Imam Ahmad, hlm. 260)
Dan Abdullah bin Mubarak rahimahullah berkata: “Aku lebih suka meninggalkan satu dirham yang syubhat daripada bersedekah seratus ribu dirham yang haram.” (Siyar A’lam an-Nubala’, 8/403)
Mereka memahami bahwa akhlak bukan hanya soal senyum, tapi kejujuran dalam muamalah, amanah, dan menahan diri dari menzalimi orang lain.
BELAJAR DARI AKHLAK RASULULLAH ﷺ
Syaikh Salman al-Audah dalam bukunya Inilah Rasulullah ﷺ (hlm. 69-71) menegaskan bahwa dua hadits tentang tiga golongan musuh Allah dan tiga golongan yang tidak dipedulikan Allah adalah isyarat betapa Rasulullah ﷺ sangat menekankan akhlak.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 273, dinyatakan shahih oleh Al-Albani)
ISLAM DAN HAK-HAK MANUSIA
Syariat Islam sangat tegas dalam menjaga hak orang lain. Nabi ﷺ bersabda: “Barangsiapa mengambil hak orang lain walau hanya sejengkal tanah, maka akan dikalungkan di lehernya tujuh lapis bumi pada Hari Kiamat.” (HR. Al-Bukhari no. 2453 dan Muslim no. 1610)
Imam Nawawi rahimahullah menulis dalam Syarh Muslim bahwa dosa mengambil hak manusia lebih berat daripada dosa yang hanya terkait langsung dengan Allah, karena dosa itu mengandung unsur kezaliman.
PESAN UNTUK KITA DI AKHIR ZAMAN
Di masa yang penuh fitnah, di mana banyak orang menjadikan agama untuk kepentingan dunia, kita perlu sering-sering bercermin:
Apakah kita sudah adil kepada orang lain?
Apakah kita sudah amanah dalam pekerjaan?
Apakah kita sudah jujur dalam perdagangan?
Sebab kelak, di Mahsyar, kita tidak akan ditanya tentang banyaknya ibadah semata, tetapi juga bagaimana kita bermuamalah.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Abu Dawud no. 4682, dinyatakan hasan shahih oleh Al-Albani)
BACA JUGA: 10 Nubuah Akhir Zaman yang Disebutkan Nabi ﷺ
PENUTUP: AGAR TAK DIMUSUHI ALLAH
Agar selamat dari ancaman menjadi musuh Allah, kita harus:
1- Menjaga kejujuran, terutama dalam sumpah dan muamalah.
2- Menepati janji dan membayar hak orang lain.
3- Tidak menjadikan agama untuk mencari keuntungan dunia.
4- Senantiasa bertobat jika pernah berbuat zalim, dan mengembalikan hak orang yang dizalimi.
5- Meminta pertolongan Allah agar diberi taufik untuk berakhlak mulia.
Semoga Allah menjaga kita semua dari termasuk golongan yang dimusuhi-Nya, dan mengumpulkan kita kelak bersama Rasulullah ﷺ dan para shiddiqin, syuhada, dan shalihin. []
📚 Catatan Kaki (Referensi):
Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, juz 4 hlm. 447
Salman al-Audah, Inilah Rasulullah ﷺ, hlm. 69-71
Imam An-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, jilid 5 hlm. 107
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 2227, 2369, 2453
Muslim, Shahih Muslim, no. 108, 1610, 2581
Syaikh Al-Albani, Silsilah Ash-Shahihah dan Shahih al-Adab al-Mufrad
Ibnu Rajab, Jami’ al-Ulum wa al-Hikam
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE


