DI TENGAH dunia modern yang dipenuhi iklan, media sosial, dan dorongan untuk “tampil sempurna”, gaya hidup konsumerisme telah menjadi norma. Ukuran kesuksesan banyak diukur dari apa yang dimiliki, bukan siapa diri seseorang sebenarnya. Rumah megah, mobil mewah, gadget terbaru, pakaian bermerek — semua itu dianggap sebagai standar hidup layak. Namun, benarkah kebahagiaan terletak di situ? Dalam kebisingan dunia materialistik ini, keteladanan Rasulullah ﷺ tentang hidup sederhana menjadi cahaya yang menenangkan hati.
Kesederhanaan Rasulullah ﷺ
Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling mulia yang pernah menginjakkan kaki di bumi, justru hidup dengan kesederhanaan luar biasa. Beliau bisa memilih hidup mewah, namun beliau menolaknya. Rasulullah pernah tidur di atas tikar kasar hingga berbekas di punggungnya. Makanan beliau pun sangat sederhana, kadang hanya kurma dan air putih, bahkan ada hari-hari ketika api tidak menyala di rumah beliau karena tak ada makanan yang bisa dimasak.
Diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang makan roti gandum selama dua hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
BACA JUGA: Lelaki Itu Bernama Rasulullah Muhammad
Kesederhanaan ini bukan karena kemiskinan, tapi karena pilihan hidup. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa hakikat hidup bukan pada seberapa banyak yang kita miliki, tapi seberapa ridha kita terhadap takdir Allah.
Ulama Salaf dan Kesederhanaan
Para ulama salaf juga meneladani kehidupan Rasulullah dalam bersikap zuhud. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah misalnya, meskipun sangat terkenal dan dihormati, tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia berkata: “Aku lebih memilih makan roti dengan garam di rumahku daripada duduk di meja makan para penguasa.”
Ibnul Qayyim rahimahullah menulis: “Kesederhanaan adalah jalan orang-orang yang diberi taufik. Ia benteng dari sifat tamak, dan penawar bagi cinta dunia.” (Madarij as-Salikin, 2/20)
Kesederhanaan bukan berarti miskin atau menolak nikmat Allah, tetapi menjaga hati agar tidak diperbudak dunia.
Tantangan di Era Konsumerisme
Saat ini, manusia dikelilingi oleh godaan untuk membeli, memiliki, dan memamerkan. Budaya konsumtif mendorong seseorang untuk mengukur nilai dirinya dari harta benda. Padahal, Islam mengajarkan bahwa keberkahan hidup tidak selalu datang dari kelimpahan materi, melainkan dari hati yang qana’ah (merasa cukup).
BACA JUGA: 3 Sumpah Rasulullah yang Pasti Akan Terjadi
Allah berfirman: “Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan yang dicari dengan belanja, jalan-jalan, dan memamerkan gaya hidup, seringkali hanya sementara. Namun ketenangan yang lahir dari kesederhanaan dan keimanan — itulah yang kekal dan membahagiakan.
Penutup: Saatnya Meneladani Rasulullah
Kini saatnya bagi kita merenung: Apakah kita hidup untuk dunia, ataukah dunia hanya sarana menuju akhirat? Meneladani kesederhanaan Rasulullah bukan berarti hidup serba kekurangan, tetapi hidup dengan bijak, hemat, dan penuh rasa syukur. Dalam dunia yang haus akan kepemilikan, marilah kita menjadi jiwa yang merdeka — cukup dengan yang halal, ridha dengan yang sederhana.
Karena sesungguhnya, seperti kata seorang ulama salaf: “Jika engkau ridha dengan sedikit, maka engkau akan menjadi orang paling kaya.”[]
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
