Lari dari Masalah, Nyungsep di Jalan yang Sama?

Yudi
By Yudi
6 Min Read
Foto: Freepik

PERNAH nggak sih kamu merasa hidupmu penuh masalah, lalu mencoba kabur dengan dalih “healing”? Tapi anehnya, setelah healing pun, bukan makin waras, malah makin nyungsep di lubang yang sama? Entah itu mantan yang sama, kebiasaan scroll TikTok sampe jam 3 pagi, atau pengeluaran impulsif yang bikin dompet megap-megap. Kalau pernah, tenang, kamu tidak sendirian. Ini adalah kisah klasik anak muda era milenial yang mencoba kabur dari masalah tapi malah kepleset di jalan yang itu-itu lagi. Lucu? Memang. Tapi juga menyedihkan.

Lari dengan Dalih Aktivitas Produktif

Banyak dari kita yang sebenarnya bukan mencari solusi, tapi pengalihan. Kita bilang, “gue pengen sibuk biar lupa,” lalu isi hari dengan ikut webinar, buka usaha kecil-kecilan, bikin konten tiap hari, sampai jadi admin komunitas pecinta alpukat se-Jabodetabek. Tapi diam-diam kita tahu, ini bukan passion, bukan cita-cita, tapi sekadar pelarian.

Produktif? Ya. Tapi bukan solutif. Masalah utama tetap tertimbun di bawah tumpukan aktivitas. Saat malam datang dan notifikasi sepi, tiba-tiba rasa hampa itu datang menyergap. Dan boom! Kita kembali overthinking soal hal yang sama: “Kenapa ya hidupku begini-begini aja?”

BACA JUGA: Kalau Hidupmu Kacau, Coba Cek Lagi Wudhumu

Healing atau Kabur Sementara?

Traveling ke tempat-tempat estetik, minum kopi di rooftop, staycation di glamping mewah — semua dilakukan atas nama “healing.” Tapi kenyataannya, yang kita butuhkan bukan pemandangan baru, tapi cara pandang yang baru. Kita bisa kabur ke Bali, ke Jepang, bahkan ke Mars (kalau Elon Musk baik hati), tapi kalau hati nggak pernah diberesin, ya tetap aja bakal nyungsep di lubang yang sama: overthinking, kurang self-worth, dan nyari validasi dari orang yang bahkan gak tahu kita ada.

Jebakan Repetisi Emosional

Yang bikin ironi makin kental adalah: kita tahu kita salah, tapi tetap ngulang. Sudah tahu chatting si doi toxic itu bikin capek hati, tapi tetap balas dengan dalih, “cuma nanyain kabar kok.” Sudah tahu begadang bikin badan lemah, tapi tetap scroll video masak jam 2 pagi sambil lapar. Ini seperti masuk ke labirin yang kita buat sendiri: berputar-putar di situ aja.

Kenapa bisa begitu? Karena otak kita suka yang familiar. Sekalipun familiar itu menyakitkan. Otak memilih zona nyaman walau isinya racun, daripada risiko masuk ke dunia baru yang tidak pasti.

Milenial dan Budaya “Sibuk Biar Gak Patah”

Anak muda zaman sekarang punya kebiasaan unik: menyembuhkan luka dengan menjadi super sibuk. Ini bukan soal ambisi, tapi seringnya justru bentuk penyangkalan. Kita bikin to-do list panjang, ikut project sana-sini, sampai nggak sadar udah burnout. Kita bilang, “Aku sibuk,” padahal yang sebenarnya kita maksud adalah, “Aku nggak mau diam karena nanti kepikiran semua hal yang belum selesai.”

Masalahnya, sibuk itu bukan penyembuh. Sibuk hanya memperpanjang penundaan. Dan saat energi habis, kita tetap harus berhadapan dengan akar luka yang belum pernah benar-benar kita hadapi.

Ketika Lari Tak Lagi Menyelamatkan

Akhirnya, kita harus akui bahwa lari itu nggak menyelesaikan apa-apa. Lari hanya bikin masalahmu ikut lari juga, tapi terus mengejarmu dengan stamina yang lebih kuat. Kita pikir sudah jauh dari titik awal, padahal kita cuma muter-muter di track yang sama.

Dan lucunya, setelah sekian lama muter, baru sadar bahwa satu-satunya jalan keluar bukan lari makin kencang, tapi berhenti, diam, dan menghadapinya. Ya, sesederhana itu. Tapi juga sesulit itu.

Refleksi Sejati Dimulai dari Hati yang Tenang

Dalam Islam, lari dari masalah tanpa perenungan adalah bentuk kedangkalan jiwa. Allah tidak menciptakan ujian untuk dilompati seperti rintangan olahraga, tapi untuk dihadapi dengan sabar dan iman. Surah Al-Baqarah ayat 286 mengajarkan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Artinya, setiap beban yang kamu rasakan saat ini, sebenarnya kamu mampu memikulnya. Tapi bukan dengan cara lari, apalagi nyungsep terus. Islam mendorong kita untuk ber-tadabbur (merenung), untuk muhasabah (introspeksi), dan kembali memperkuat koneksi spiritual kita.

Ketika kita mulai berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pelarian, dan menengok ke dalam, maka di situlah titik balik dimulai. Bukan dengan lari lebih cepat, tapi dengan berjalan perlahan, tapi yakin.

BACA JUGA: Gak Harus Sempurna Buat Bahagia!

Yuk, Ganti Jalur

Jadi, buat kamu (dan saya) yang selama ini merasa hidupnya kayak lagu replay yang menyebalkan, mungkin sekarang saatnya menekan tombol stop, bukan next. Kita tidak perlu sok kuat, sok sibuk, atau sok healing. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri, berani menghadapi rasa tidak nyaman, dan perlahan-lahan mulai memperbaiki arah jalan. Biar tidak kepleset di lubang yang sama terus.

Dan hei, kalau nanti kamu nyungsep lagi, nggak apa-apa. Asal bukan di lubang yang itu-itu lagi. Setidaknya, upgrade dikit lah ya. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *