PERTANYAAN tentang poligami model gini menyentuh isu sosial dan psikologis yang kompleks, serta sering menjadi bahan perbincangan dalam masyarakat. Untuk menjawabnya secara jujur dan berimbang, mari kita lihat dari beberapa sudut pandang:
1. Naluri dan Biologis Lelaki
Secara biologis, banyak ahli menyatakan bahwa laki-laki memiliki dorongan naluriah untuk menyebarkan keturunannya.
Ini tidak berarti semua laki-laki ingin poligami, tapi ada kecenderungan biologis yang bisa menjelaskan keinginan tersebut, terutama bila tidak dikendalikan dengan akhlak dan tanggung jawab.
BACA JUGA: Apa Ciri-ciri Suami yang Ingin Poligami tapi Tidak Mampu namun Selalu Ngomong ke Sana ke Mari?
2. Pemahaman Agama yang Parsial
Beberapa laki-laki memahami bahwa Islam membolehkan poligami, tetapi seringkali hanya melihat sisi bolehnya, bukan syarat dan tanggung jawab berat yang datang bersamanya. Al-Qur’an jelas menyebutkan dalam Surah An-Nisa:3:
“…Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja…”
Ayat ini bukan perintah, tapi izin dengan syarat berat: berlaku adil. Banyak yang abaikan bagian ini.
3. Ego dan Superioritas Gender
Sebagian lelaki merasa poligami adalah simbol kekuasaan atau kejantanan. Ini bisa berasal dari ego yang tidak terkendali, merasa “berhak” atas lebih dari satu istri meski secara finansial, emosional, dan spiritual belum siap.
4. Fantasi vs Realita
Ada juga yang berfantasi bahwa memiliki lebih dari satu istri akan membahagiakan, padahal dalam kenyataannya, poligami tanpa kesiapan bisa memicu kemiskinan, kehancuran rumah tangga, dan penderitaan psikologis bagi istri dan anak-anak.
5. Miskin tapi Poligami?
Ada yang bilang, “Rezeki itu dari Allah. Kalau menikah lagi, Allah tambah rezeki.”
Betul, Allah Maha Memberi Rezeki, tapi tidak ada jaminan otomatis bahwa menikah lagi akan memperkaya.
Bahkan dalam banyak kasus, poligami yang tidak dikelola dengan bijak justru memperparah kemiskinan.
BACA JUGA: Istri Tak Cantik, Suami Bosan, Malah Mau Nikah Lagi?
Kesimpulan Renungan
Poligami bukan masalah boleh atau tidak semata, tapi siap atau tidak.
Boleh secara hukum agama tidak berarti tepat secara moral, emosional, atau sosial, terutama jika:
Belum mampu menafkahi dengan layak
Belum bisa berlaku adil
Tidak siap mental dan spiritual
Hanya karena keinginan, bukan kebutuhan yang syar’i
“Lelaki sejati bukan yang banyak istri, tapi yang mampu setia, bertanggung jawab, dan menjaga amanah.” []
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

