Motor Lama Itu-itu Saja, Tanda Orang Setia?

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Freepik

BAGI sebagian orang, gonta-ganti kendaraan adalah gaya hidup. Setiap ada model motor terbaru, langsung booking inden, meskipun motor lamanya masih kinclong dan kilometernya belum menyentuh angka 10.000. Tapi ada juga tipe manusia yang sejak awal punya motor, sampai sekarang motornya itu-itu saja. Platnya sudah pudar, joknya mulai retak, tapi tetap setia dipakai ke mana-mana. Katanya sih, itu tanda orang setia.

Kalau dipikir-pikir, punya motor yang sama bertahun-tahun itu memang unik. Setiap goresan di bodinya menyimpan cerita. Pernah jatuh di tikungan depan minimarket, pernah kehujanan dari kantor sampai rumah, pernah juga mogok pas mau kencan (dan berakhir jadi cerita lucu). Motor itu bukan cuma alat transportasi, tapi saksi hidup perjalanan kita.

Bukan Nggak Mau Ganti, Tapi…

Realitanya, orang yang motornya itu-itu saja belum tentu nggak mau ganti. Ada faktor lain: cicilan rumah, kebutuhan anak sekolah, atau bahkan tabungan yang lebih sering bocor daripada terisi. Di titik ini, motor lama jadi pilihan logis. Selama masih bisa jalan, kenapa harus ganti?

BACA JUGA: 8 Perbedaan Mencolok antara Orang Kaya dan Orang Miskin di Indonesia

Apalagi kalau motornya tipe “bandel”, jarang rewel, bensin irit, dan spare part-nya murah. Mau tampil keren di jalan memang menyenangkan, tapi kalau ujung-ujungnya dompet menangis, lebih baik mundur perlahan.

Ada Nilai Sentimental

Buat sebagian orang, motor lama itu punya nilai emosional. Bisa jadi itu motor pertama hasil keringat sendiri, atau hadiah dari orang tua yang sudah tiada. Mengganti motor seperti itu rasanya seperti melepas bagian dari diri sendiri.

Motor lama kadang punya nama panggilan, seperti “Si Hitam”, “Si Bebek Setia”, atau “Si Kebo” (karena kuat nanjak). Nama itu lahir dari rasa sayang yang nggak mungkin dibeli dengan uang.

Komentar Orang Bukan Masalah

Seringkali pemilik motor lama jadi sasaran komentar. “Wih, motor lu masih yang itu aja?” atau “Nggak ganti-ganti, sih. Biar gue beliin, deh” (padahal cuma bercanda). Tapi orang yang nyaman dengan motornya biasanya nggak terlalu ambil pusing.

Karena yang penting bukan apa kata orang, tapi apakah motor itu masih berfungsi dengan baik. Lagipula, nggak semua orang punya obsesi untuk selalu mengikuti tren. Ada yang justru bangga karena motornya awet dan hemat.

Gaya Hidup Minimalis ala Motor Lama

Tren minimalisme sebenarnya cocok untuk para pemilik motor lama. Prinsipnya: “Kalau masih berfungsi, kenapa harus ganti?” Pemilik motor lama tanpa sadar sedang menerapkan hidup sederhana, fokus pada fungsi, bukan gengsi.

Kadang hidup memang butuh prioritas. Motor baru bisa memberi rasa bangga sesaat, tapi finansial sehat memberi ketenangan jangka panjang. Kalau harus memilih, banyak orang akan memilih tenang daripada pusing mikirin cicilan.

Dalam Islam, gaya hidup sederhana sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, ukuran kebahagiaan bukan dari seberapa baru motor kita, tapi dari rasa syukur dan puas terhadap rezeki yang Allah beri.

Imam Al-Ghazali juga pernah menasihati, bahwa salah satu penyakit hati adalah hubbud dunya (cinta dunia berlebihan), termasuk rasa ingin selalu terlihat lebih dari orang lain lewat harta benda. Padahal, kendaraan hanyalah sarana. Selama bisa mengantarkan kita ke tujuan, maka ia sudah menjalankan fungsinya.

Mempertahankan motor lama bukan berarti ketinggalan zaman, tapi bisa jadi tanda seseorang mampu melawan sifat boros dan gengsi. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan…” (QS. Al-Isra: 27)

BACA JUGA: Bolehkah Boncengan dengan yang Bukan Mahram? Perhatikan Tiga Syarat Ini

Maka, tidak salah jika seseorang tetap memakai motor lamanya, selama masih layak pakai. Bahkan, dari sudut pandang Islam, itu bisa menjadi wujud zuhud—tidak terpikat pada gemerlap dunia, tapi tetap memanfaatkan nikmat Allah dengan bijak.

Motor itu-itu saja bukan tanda kemiskinan, tapi tanda kesetiaan—bukan hanya pada kendaraan, tapi juga pada prinsip hidup. Selama masih bisa dipakai, masih aman dikendarai, dan masih menemani perjalanan kita, motor lama justru bisa jadi simbol kebersahajaan.

Karena pada akhirnya, yang membuat kita sampai tujuan bukan seberapa baru motornya, tapi seberapa mantap hati kita mengendarainya, sambil tetap bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *