ORANG tua mana yang tak tersenyum saat membayangkan wajah anaknya? Bahkan sebelum lahir, si kecil sudah menjadi pusat doa, harapan, dan rencana. Di banyak masyarakat Muslim, ada sebuah tradisi yang tak lekang oleh waktu—membacakan Surat Yusuf dan Surat Maryam saat masa kehamilan.
Konon, Surat Yusuf dibaca dengan harapan anak kelak berparas elok dan berakhlak mulia. Sedangkan Surat Maryam? Tidak hanya karena ia sarat kisah kehamilan—kisah istri Imran, kisah istri Nabi Zakaria, dan tentu saja kisah Maryam binti Imran—tetapi karena surat ini menyentuh akar terdalam dari sebuah pertanyaan: untuk apa kita ingin memiliki anak?
Pertanyaan itu terdengar sederhana, namun jawabannya menentukan seluruh arah pengasuhan, bahkan sebelum sang anak menghirup udara pertama.

—
Niat: Pondasi yang Tak Terlihat
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini oleh sebagian ulama disebut Ummus Sunnah—induk dari segala hadis—karena ia menjadi penentu diterima atau tidaknya amal di sisi Allah. Niat adalah pembeda antara ibadah dan kebiasaan, antara kebaikan yang bernilai abadi dan kebaikan yang hanya meninggalkan kesan sesaat.
Maka, ketika kita menanti kelahiran anak, pertanyaan ini layak menggema di hati:
Apa niat kita memiliki anak?
Apakah hanya demi kebanggaan keluarga? Demi memiliki pewaris harta? Atau sekadar agar tak kesepian di masa tua?
Surat Maryam seperti menyodorkan cermin kepada setiap ayah dan ibu: Apakah tujuan terbesarmu adalah agar anak itu menjadi penyejuk hati, penerus kebaikan, dan penjaga agama?
—
Fitrah dan Lintasan Waktu
Cinta kepada keturunan adalah fitrah. Allah menanamkan rasa itu di dada setiap manusia. Begitu seorang anak hadir, pikirannya berputar—dari mencari nafkah, mengatur pendidikan, hingga memastikan kesehatan mereka terjaga.
Ketika usia muda, kita sibuk menyiapkan segala kebutuhan mereka. Saat usia senja, kita memikirkan warisan apa yang akan kita tinggalkan. Namun di titik inilah Surat Maryam mengajukan pertanyaan yang lebih tajam:
“Apa yang sebenarnya ingin kamu wariskan? Tanah dan rumah? Tabungan yang bisa habis? Atau sesuatu yang tak lekang oleh waktu?”
Jawaban yang paling mulia adalah agama—iman yang kokoh, tauhid yang bersih, dan akhlak yang luhur. Sebab kekayaan dunia bisa lenyap, namun agama yang tertanam akan memandu anak, cucu, dan generasi berikutnya melewati zaman yang berganti.
—
Kisah-Kisah yang Meneguhkan
Surat Maryam dipenuhi kisah orang-orang yang memohon keturunan bukan karena ambisi dunia, tetapi karena ingin melanjutkan amanah menjaga agama.
Nabi Zakaria, misalnya. Ia berdoa bukan sekadar ingin menggendong bayi, tetapi ingin ada penerus yang memelihara risalah. Istrinya, yang semula mandul, Allah karuniai Yahya—seorang nabi yang teguh.
Keluarga Imran, istrinya yang berdoa agar anak yang dikandungnya menjadi hamba yang ikhlas berkhidmat. Dari rahimnya lahirlah Maryam, wanita suci yang melahirkan Isa ‘alaihissalam tanpa ayah, menjadi tanda kebesaran Allah.
Nabi Ibrahim yang mendidik Ismail dan Ishaq untuk menjadi pembawa panji tauhid. Nabi Ya‘qub yang mengingatkan Yusuf untuk menjaga amanah meski kelak berkuasa. Semua kisah ini mengikat satu benang merah: anak adalah penerus risalah, bukan sekadar penerus nama.
—
Pewarisan yang Sesungguhnya
Dari awal hingga akhir, Surat Maryam memuat dua kata kunci yang berulang: walad (anak) dan wiratsah (pewarisan). Seolah Allah ingin kita menyadari bahwa kelahiran anak selalu terkait dengan warisan—bukan hanya materi, tetapi lebih dari itu: warisan nilai, warisan iman, warisan kebaikan.
Bayangkan sebuah generasi yang mewariskan iman kepada generasi berikutnya, lalu generasi itu meneruskannya lagi. Betapa kokoh peradaban akan berdiri. Sebaliknya, jika satu generasi lalai, lalu tumbuh generasi yang tak mengenal Allah, maka pintu kerusakan terbuka: budaya mengikuti hawa nafsu, perilaku keji, dan hilangnya rasa malu.
—
BACA JUGA: Mendidik Anak yang Masih di Sulbi Sang Ayah
Menanam Niat Sejak Dalam Kandungan
Kehamilan bukan hanya proses biologis. Ia adalah madrasah pertama untuk orang tua—waktu yang Allah berikan untuk menata niat. Di sinilah kita belajar bahwa doa untuk anak tak boleh berhenti pada “Ya Allah, jadikan ia sehat dan bahagia”, tetapi harus naik kelas menjadi “Ya Allah, jadikan ia hamba-Mu yang taat, penjaga agama-Mu, dan cahaya bagi ummat.”
Sebab, jika niat kita benar, seluruh proses pengasuhan akan mengikuti jalurnya. Kita akan memilih pendidikan yang tepat, lingkungan yang baik, dan teladan yang lurus. Kita tak akan mudah kecewa ketika anak tumbuh, karena kita sejak awal sudah menambatkan tujuan pada ridha Allah, bukan pada pencapaian dunia.
—
Surat Maryam mengajak setiap ayah dan ibu untuk berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan bertanya kepada diri sendiri:
“Anak ini, kelak, akan menjadi apa di hadapan Allah? Dan apa yang akan aku wariskan kepadanya agar ia selamat di dunia dan akhirat?”
Jawaban yang lahir dari hati yang jujur akan menjadi kompas, membimbing langkah kita dari masa kehamilan hingga ajal menjemput. Dan di ujung perjalanan, kita berharap anak-anak itu berdiri di sisi kita—bukan sekadar sebagai darah daging, tetapi sebagai buah hati yang membawa kita menuju surga. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

