BERTAHAN di saat krisis dan menemukan solusi yang cepat serta tepat, seharusnya bukan perkara sulit bagi umat Islam. Mengapa? Karena seluruh perjalanan masa lalu—sejak Nabi Adam diciptakan hingga peristiwa akhir zaman—telah diungkapkan dan didokumentasikan dengan lengkap. Apalagi yang kurang?
Lebih dari itu, semuanya dijaga oleh Allah dalam Al-Qur’an dan hadits. Tidak ada mitos, khayalan, atau rekaan. Khazanah pengalaman dan keilmuan ini sudah sangat cukup, bahkan komprehensif, untuk menghadapi setiap kondisi.
Siapa yang memiliki warisan sebesar ini? Hanya umat Islam. Maka, seharusnya umat Islamlah yang paling siap menghadapi krisis dan yang paling cepat keluar darinya. Pertanyaannya: mengapa kita tidak belajar dari sejarah dan nubuwah Rasulullah ﷺ?
BACA JUGA: Penyebab Kesulitan di Hari Tua
—
1. Krisis sebagai Penempaan Jiwa
Setiap hari umat Islam ditempa oleh Allah melalui ibadah dan akhlak. Bukankah sabar dan shalat menjadi penolong utama?
Sabar: penempaan jiwa, melatih ketahanan batin.
Shalat: penempaan fisik sekaligus penopang jiwa.
Jika jiwa sudah kuat, apakah ada yang bisa menghalangi dan mencelakakan? Dengan perangkat ini saja, umat Islam seharusnya mampu bertahan dalam setiap krisis.
—
2. Bimbingan Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ tidak hanya mengabarkan peristiwa yang akan dihadapi umat hingga hari kiamat, tetapi juga memberikan cara menghadapinya. Setiap potensi kehancuran—huru-hara, krisis, kebaikan maupun keburukan—sudah beliau jelaskan. Tugas kita hanyalah berijtihad sesuai zaman, lalu mempraktikkan bimbingan itu.
Bimbingan beliau pun tidak pernah putus. Sunnah Rasulullah ﷺ senantiasa hidup. Bahkan dalam sejarah, beliau hadir dalam mimpi para ulama dan pemimpin yang bertakwa.
Imam Hasan As-Syadzali misalnya, pernah bertemu Rasulullah ﷺ dalam mimpi, saat umat Islam menghadapi serangan tentara Salib di bawah pimpinan Raja Louis IX. Di sana Rasulullah ﷺ memberikan strategi kemenangan. Pertanyaannya: mengapa kita jarang mengambil sunnah Rasulullah ﷺ dalam menghadapi krisis? Mengapa beliau tidak hadir pula dalam mimpi-mimpi kita?
—
3. Bimbingan Allah yang Tak Pernah Putus
Allah senantiasa memberikan hidayah kepada hamba yang bertakwa. Jalan keluarnya jelas:
1- Membuka kembali Al-Qur’an.
2- Menaati syariat-Nya.
3- Mengambil keputusan berdasarkan maqasid syariah dan ushul fiqh.
Bahkan, Allah bisa mengilhamkan ilmu laduni langsung ke dalam dada manusia yang bersungguh-sungguh mencari-Nya. Perangkat menghadapi zaman telah Allah siapkan: wahyu, syariat, sejarah, hingga ilham.
—
4. Warisan Para Ulama
Syekh Nawawi al-Bantani dalam Nasihah al-‘Ibad mengutip perkataan para ahli hikmah: “Terlahir sebagai Muslim sudah cukup membuatku bersyukur kepada Allah.”
Mengapa demikian? Karena dalam Islamlah seluruh perangkat menghadapi zaman sudah disiapkan dan diajarkan. Tinggal pertanyaannya: sudahkah kita benar-benar merasakannya?
BACA JUGA: Hukum Kesulitan dalam Catatan Lauhul Mahfudz
—
Kesimpulan
Umat Islam sesungguhnya adalah umat yang paling siap menghadapi krisis. Kita memiliki panduan ilahi, bimbingan Rasulullah ﷺ, teladan para ulama, dan khazanah sejarah yang tak tertandingi. Namun semua itu akan tetap menjadi teks dan cerita, jika tidak dihidupkan dalam jiwa, amal, dan keputusan kita. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
