KETIKA kita berbicara tentang para sahabat Rasulullah ﷺ, banyak nama yang muncul dengan berbagai keutamaannya. Ada Abu Bakar yang terkenal dengan keimanan dan pengorbanannya, Umar bin Khattab dengan ketegasan dan keadilannya, Utsman bin Affan dengan kelembutan dan kedermawanannya, serta Ali bin Abi Thalib dengan keberanian dan keilmuannya. Namun, ada satu nama yang tidak kalah gemilang, seorang sahabat yang dikenal sebagai saudagar ulung, pengusaha jenius, dan hartawan dermawan. Ia adalah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu.
Sejarah mencatat, Abdurrahman bin Auf bukan hanya seorang kaya raya, tetapi juga seorang ahli surga. Rasulullah ﷺ bersabda: “Abdurrahman bin Auf di surga dengan merangkak.” (HR. Ahmad)
Hadis ini bukan berarti Abdurrahman bin Auf mendapat celaan, melainkan peringatan agar beliau berhati-hati dengan harta kekayaannya. Sebab, begitu besar kekayaannya sehingga harus dihisab lebih lama dibanding orang lain. Tetapi, meskipun demikian, ia tetap dijamin masuk surga.
Pertanyaan yang sering muncul: seberapa kayakah sebenarnya Abdurrahman bin Auf? Bagaimana ia bisa mengumpulkan harta sebanyak itu, dan bagaimana ia menggunakannya di jalan Allah?
Estimasi Kekayaan Abdurrahman bin Auf
Riwayat sejarah menunjukkan bahwa Abdurrahman bin Auf adalah salah satu orang terkaya di Madinah. Saat hijrah ke Madinah, ia awalnya tidak memiliki apa-apa. Ia meninggalkan seluruh kekayaannya di Makkah. Namun, dengan kecerdasan dan keberkahan dari Allah, ia segera bangkit kembali.
Ketika sampai di Madinah, Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Rabi’ al-Anshari, salah satu sahabat yang kaya. Sa’ad bahkan menawarkan setengah kekayaannya kepada Abdurrahman. Tetapi Abdurrahman menolak dengan sopan dan berkata: “Tunjukkan kepadaku di mana pasar berada.” (HR. Bukhari)
Dari situlah perjalanan kekayaannya dimulai. Abdurrahman berdagang dengan jujur, penuh integritas, dan dalam waktu singkat ia menjadi saudagar besar.
Beberapa catatan sejarah menggambarkan betapa besarnya kekayaan beliau:
1- Memiliki 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, dan 3000 ekor kambing.
Semua hewan ternaknya bukan hanya sekadar simbol kekayaan, tetapi juga menjadi sumber keberkahan untuk umat.
2- Meninggalkan warisan yang luar biasa besar.
Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam Thabaqat bahwa setelah wafatnya, beliau meninggalkan harta senilai 2.8 juta dinar emas. Jika dikonversi dengan nilai saat ini, jumlahnya bisa mencapai triliunan rupiah.
3- Pernah menyumbangkan 700 ekor unta penuh dengan barang dagangan.
Dalam suatu kesempatan, Abdurrahman bin Auf mendatangkan kafilah besar berisi 700 ekor unta yang sarat muatan dagangan. Kaum Muslimin Madinah terheran-heran melihatnya. Tetapi di hari itu juga, ia bersedekah seluruh muatan kafilah itu di jalan Allah.
4- Membiayai pasukan perang.
Pada Perang Tabuk, Abdurrahman bin Auf menyumbangkan 200 uqiyah emas (sekitar 5 kg emas) untuk mendukung jihad. Jumlah itu sangat besar di masa itu.
Dengan segala catatan ini, sejarawan menilai Abdurrahman bin Auf adalah salah satu sahabat terkaya. Bahkan, sebagian ulama menilai kekayaannya bisa dibandingkan dengan raja-raja pada zamannya. Namun, yang membedakan adalah: kekayaan itu tidak pernah membuatnya lupa akhirat.
Pandangan Ulama Salaf Tentang Kekayaan Abdurrahman bin Auf
Para ulama salaf banyak memberikan komentar tentang kekayaan Abdurrahman bin Auf dan bagaimana beliau mempergunakannya.
Imam az-Zuhri berkata: “Hartanya tidak pernah masuk ke dalam hatinya. Harta itu hanya berada di tangannya, lalu ia salurkan di jalan Allah.”
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dahulu kami mengenal Abdurrahman bin Auf sebagai orang yang diberi keberkahan pada perniagaannya. Ia tidak pernah menjual sesuatu kecuali selalu mendapatkan keuntungan, dan keuntungan itu ia sedekahkan di jalan Allah.”
Al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah menuturkan: “Ada orang yang diuji dengan kefakiran lalu ia bersabar, dan ada orang yang diuji dengan kekayaan lalu ia bersyukur. Abdurrahman bin Auf adalah teladan dari golongan kedua.”
Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wa an-Nihayah menulis: “Kekayaannya sangat besar, namun ia tetap zuhud. Ia tidak pernah tertipu oleh dunia, dan ia menyalurkan hartanya untuk kepentingan agama Allah.”
Dari pandangan para ulama ini, kita bisa melihat bahwa Abdurrahman bin Auf adalah gambaran ideal seorang Muslim kaya. Ia bukan hanya mengumpulkan harta, tetapi juga menginfakkannya dengan penuh ketulusan. Kekayaannya bukan penghalang menuju surga, melainkan wasilah untuk meraih surga.
Penutup: Kekayaan yang Menggetarkan Jiwa
Sejarah Abdurrahman bin Auf memberikan kita pelajaran penting tentang arti kekayaan. Kekayaan bisa menjadi fitnah, tetapi juga bisa menjadi bekal menuju surga. Semua tergantung kepada bagaimana kita mempergunakannya.
Bayangkan, seorang sahabat yang dulunya berhijrah ke Madinah tanpa harta, hanya berbekal semangat dan tawakal, kemudian berubah menjadi saudagar raksasa. Namun, di puncak kejayaan, ia tidak pernah berpaling dari Allah. Ia tetap sederhana, tetap zuhud, dan tetap dermawan.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentang beliau: “Telah masuk surga Abdurrahman bin Auf dengan merangkak.”
Sebagian orang mungkin melihat hadis ini sebagai tanda kehati-hatian. Namun, jika kita renungkan lebih dalam, betapa besar tanggung jawab seorang kaya raya. Jika saja Abdurrahman bin Auf yang dikenal dermawan dan sahabat Rasulullah harus melewati hisab yang panjang, bagaimana dengan kita yang hartanya jauh lebih sedikit tetapi masih enggan bersedekah?
Saudaraku, mari kita bayangkan hari ketika Abdurrahman bin Auf berdiri di hadapan Allah. Ribuan dinar emas, ribuan unta, ribuan kambing, seluruh hartanya dihisab. Tetapi satu per satu catatan kebaikannya pun muncul:
1- Puluhan pasukan yang ia biayai untuk berjihad.
2- Ratusan unta yang ia sedekahkan.
3- Ribuan orang fakir yang ia beri makan.
4- Jutaan dirham yang ia keluarkan untuk Islam.
Semua itu menjadi saksi di hadapan Allah.
Maka, janganlah kita salah memahami kekayaan. Harta bukan musuh, harta bukan pula tujuan utama. Harta hanyalah amanah, sarana untuk menggapai ridha Allah.
BACA JUGA: Seberapa Kaya Rasulullah Muhammad ﷺ?
Abdurrahman bin Auf adalah contoh nyata bahwa seorang Muslim bisa kaya raya sekaligus zuhud. Ia membuktikan bahwa menjadi kaya tidak berarti mencintai dunia, selama hati tetap terpaut pada akhirat.
Dan di akhir hayatnya, ia meninggalkan dunia dengan nama harum, dengan harta yang bukan hanya dinikmati keluarganya, tetapi juga umat Islam sepanjang zaman.
Sungguh, ketika kita menyebut nama Abdurrahman bin Auf, kita sedang berbicara tentang seorang hartawan ahli surga. Sosok yang membuktikan bahwa kekayaan sejati bukan diukur dari jumlah harta, tetapi dari seberapa banyak harta itu bermanfaat untuk agama Allah.
Maka, mari kita bertanya pada diri sendiri:
Seandainya kita diberi kekayaan seperti Abdurrahman bin Auf, apakah kita akan menggunakannya di jalan Allah? Atau justru menjadi hamba dunia?
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang meneladani kedermawanan beliau, dan semoga kelak kita dapat dipertemukan bersama Abdurrahman bin Auf dalam surga-Nya, bukan dengan merangkak, tetapi dengan wajah berseri-seri karena ridha Allah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

