Kenapa Memasak Bisa Jadi Terapi yang Menenangkan?

6 Min Read
Foto: Freepik

MEMASAK  sering kali dianggap sebagai aktivitas sehari-hari yang melelahkan, terutama bagi mereka yang harus melakukannya setiap hari. Namun, di balik hiruk pikuk dapur, ternyata memasak menyimpan manfaat yang luar biasa, bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk jiwa. Banyak orang menyebut bahwa memasak dapat menjadi salah satu bentuk terapi sederhana yang bisa menenangkan pikiran.

Bahkan, dalam dunia psikologi, kegiatan ini dikenal sebagai salah satu bentuk mindfulness activity aktivitas yang membuat seseorang hadir penuh dalam momen yang sedang dijalani.
Lalu, kenapa memasak bisa menjadi terapi yang menenangkan? Mari kita bahas lebih dalam.

1. Memasak Membuat Kita Fokus pada Saat Ini

Dalam dunia yang serba cepat, pikiran manusia sering dipenuhi banyak hal. Kita mudah cemas memikirkan masa depan atau menyesali masa lalu. Nah, saat memasak, seseorang dituntut untuk fokus. Mulai dari memotong sayur, mengaduk bumbu, hingga menunggu masakan matang—semuanya membutuhkan perhatian penuh.

BACA JUGA: Kenapa Lelaki Jadi Lebih Cepat Gemuk setelah Menikah?

Aktivitas ini membuat otak seakan beristirahat dari pikiran-pikiran yang tidak perlu, dan hanya terfokus pada momen sekarang.
Inilah yang membuat memasak mirip dengan meditasi. Saat kita tenggelam dalam prosesnya, pikiran jadi lebih tenang, rasa cemas berkurang, dan hati terasa lega.

2. Aroma dan Rasa yang Menghadirkan Kebahagiaan

Tidak bisa dipungkiri, aroma masakan yang sedang dimasak bisa memengaruhi suasana hati. Bau harum tumisan bawang putih, gurihnya kuah kaldu, atau wangi rempah yang merebak bisa menghadirkan rasa nyaman. Aroma ini bekerja langsung pada sistem saraf, membuat tubuh lebih rileks.

Selain itu, mencicipi hasil masakan sendiri menimbulkan rasa puas. Ada kebahagiaan tersendiri saat makanan yang kita masak terasa enak, apalagi jika orang lain ikut menikmatinya. Perasaan ini dapat menjadi “vitamin” bagi kesehatan mental kita.

3. Kreativitas yang Bebas Diekspresikan

Memasak bukan sekadar mengikuti resep, tetapi juga seni. Dari cara mengolah bahan, memadukan bumbu, hingga menata hidangan di piring—semuanya merupakan bentuk kreativitas. Kreativitas ini penting untuk kesehatan mental, karena memberi ruang bagi kita untuk mengekspresikan diri. Sama halnya seperti melukis atau menulis, memasak juga bisa jadi media pelepas emosi.

Bahkan, mencoba resep baru atau bereksperimen dengan bumbu sering kali menghadirkan kejutan yang menyenangkan.
Ketika kreativitas tersalurkan, stres pun berkurang, dan hati jadi lebih tenang.

4. Rasa Pencapaian dari Hasil Masakan

Salah satu alasan memasak menenangkan adalah adanya rasa pencapaian setelah selesai. Bayangkan, dari bahan mentah yang sederhana, kita berhasil menyulapnya menjadi hidangan lezat. Proses ini memberi kepuasan batin dan rasa percaya diri.

Bagi sebagian orang, keberhasilan kecil ini bisa sangat berarti, terutama di saat sedang merasa lelah atau kehilangan motivasi. Masakan yang berhasil tersaji indah di meja makan menjadi bukti nyata bahwa kita mampu menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

5. Memasak Menyatukan Hubungan dengan Orang Lain

Selain untuk diri sendiri, memasak juga membawa kebahagiaan saat dibagikan kepada orang lain. Ketika keluarga, teman, atau tetangga menikmati hidangan yang kita buat, ada rasa syukur dan kedekatan emosional yang tercipta.
Dalam Islam, memberi makanan juga merupakan salah satu amal yang bernilai pahala.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari ketika manusia tidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.” (HR. Ibnu Majah).
Artinya, memasak tidak hanya menenangkan jiwa kita, tetapi juga bisa menjadi jalan ibadah dan perekat persaudaraan.

6. Memasak Sebagai Sarana Syukur

Ketika memasak, kita akan menyadari betapa banyak nikmat Allah yang bisa kita olah. Dari beras yang menjadi nasi, rempah-rempah yang tumbuh subur, hingga sayur-mayur yang berwarna-warni. Proses memasak mengajarkan kita untuk mensyukuri setiap nikmat kecil yang sering terlewatkan.

Rasa syukur inilah yang menumbuhkan ketenangan batin. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu…” (QS. Ibrahim: 7).
Dengan demikian, memasak bukan hanya aktivitas duniawi, tapi juga bisa menjadi jalan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

7. Memasak Bisa Menjadi Bentuk Self Love

Sering kali orang memasak hanya untuk orang lain, padahal memasak untuk diri sendiri juga sangat menenangkan. Dengan memasak makanan sehat dan bergizi, kita sebenarnya sedang merawat tubuh dan jiwa kita sendiri.

BACA JUGA: Husyaim bin Basyir, Putra Juru Masak yang Ahli Hadits

Ini adalah bentuk self love—cinta pada diri sendiri—yang sangat penting di tengah kehidupan yang penuh tekanan. Saat kita peduli dengan apa yang masuk ke tubuh, kita lebih mudah menjaga kesehatan, sekaligus menumbuhkan rasa sayang terhadap diri sendiri.

Memasak memang bukan sekadar aktivitas di dapur. Lebih dari itu, ia bisa menjadi terapi yang menenangkan. Mulai dari fokus pada proses, menikmati aroma masakan, berkreasi dengan bahan, hingga berbagi dengan orang lain—semuanya mampu meredakan stres, menghadirkan rasa syukur, dan mempererat hubungan.

Dalam perspektif Islam, memasak bahkan bernilai ibadah, sebab memberi makanan kepada orang lain termasuk amal yang sangat mulia.

Jadi, lain kali saat merasa penat atau butuh waktu untuk menenangkan diri, cobalah masuk ke dapur. Siapa tahu, ketenangan hati bisa hadir dari sebentuk hidangan sederhana yang kita masak dengan penuh cinta.[]

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *