Langit Terbuka di Malam Sunyi: Kisah Isra’ Mi’raj dan Keteguhan Abu Bakar

Yudi
By Yudi
5 Min Read
Foto: Freepik

MALAM itu, langit Makkah seakan menyimpan rahasia besar. Bintang-bintang berkelip tenang, seolah menunggu perintah dari Sang Pemilik Cahaya. Di tengah keheningan, seorang hamba pilihan dipanggil untuk menyaksikan sesuatu yang tak pernah dialami manusia sebelumnya. Rasulullah ﷺ diangkat ke Sidratul Muntaha, menembus lapisan-lapisan langit hingga ke hadirat Allah Yang Mahaagung. Inilah Isra’ Mi’raj—perjalanan malam penuh mukjizat, yang tak tertandingi oleh logika, namun abadi dalam iman.

Para ulama menggambarkan, Isra’ Mi’raj adalah peristiwa yang Allah jadikan sebagai penghiburan bagi Nabi-Nya setelah melalui masa-masa berat: wafatnya Khadijah, wafatnya Abu Thalib, dan penolakan pedih di Thaif. Ibn Katsir menuliskan bahwa Allah hendak menunjukkan kepada kekasih-Nya balasan dari kesabaran itu dengan memperlihatkan ayat-ayat kebesaran-Nya di langit dan bumi.

Dalam perjalanan itu, Rasulullah ﷺ bertemu para nabi: Adam, Ibrahim, Musa, Isa, dan lainnya. Mereka menyambut beliau sebagai saudara dan penutup risalah. Hingga akhirnya, beliau menerima hadiah agung bagi umatnya: shalat lima waktu. Ulama salaf menyebut shalat sebagai “mi’raj-nya orang beriman”, sebab ia menjadi jalan seorang hamba naik menghadap Allah, meski kakinya masih berpijak di bumi.

BACA JUGA:  Mimpi yang Menjadi Kenyataan: Dari Mimpi Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Hingga Para Raja Terdahulu

Namun, kabar ini bukanlah kabar yang mudah diterima oleh masyarakat Quraisy. Ketika pagi tiba, Rasulullah ﷺ dengan penuh keyakinan menceritakan apa yang beliau alami. Mereka terperanjat, lalu menertawakan. “Bagaimana mungkin?” tanya mereka dengan nada sinis. “Muhammad mengaku pergi ke Baitul Maqdis, lalu naik ke langit, kembali lagi ke Makkah, hanya dalam satu malam?”

Logika mereka menolak, hati mereka menutup. Mereka tak mampu memahami bahwa Sang Pencipta waktu dan jarak mampu melipat waktu hanya dengan kehendak-Nya.

Kabar itu pun disebarkan lebih luas. Mereka bergegas mendatangi Abu Bakar, sahabat setia Rasulullah ﷺ. Mereka menyangka Abu Bakar akan ragu, akan menolak, atau bahkan berpaling dari sahabatnya. “Hai Abu Bakar,” kata mereka, “apakah engkau tahu, sahabatmu itu berkata bahwa dia pergi ke Syam lalu kembali dalam satu malam?”

Namun, yang keluar dari lisan Abu Bakar bukanlah keraguan, melainkan kalimat iman yang teguh:

“Jika Muhammad benar-benar mengatakan itu, maka aku percaya. Sebab aku percaya sesuatu yang lebih besar dari itu. Aku percaya wahyu turun kepadanya dari langit, dan itu jauh lebih dahsyat daripada sekadar perjalanan malam.”

Ucapan itu menjadikan Abu Bakar digelari Ash-Shiddiq, sang pembenaran. Ia tidak menimbang dengan logika manusia, tetapi dengan cahaya iman. Ibnul Qayyim berkata, “Iman Abu Bakar bukanlah sekadar keyakinan di bibir, melainkan cahaya yang merasuk hingga ke dalam hati, sehingga tak terguncang oleh keraguan.”

Mereka yang mendengar jawaban itu terdiam, sebagian terkejut, sebagian lainnya makin mencemooh. Namun, di sanalah tampak cahaya yang membedakan hati seorang mukmin sejati dengan hati yang diliputi keraguan.

Abu Bakar tahu, mukjizat tidak untuk ditimbang dengan akal semata. Allah berfirman:

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Isra: 1)

Para ulama salaf mengingatkan, peristiwa ini adalah ujian keimanan. Sebagian orang yang semula mengikuti Rasulullah ﷺ akhirnya murtad karena tidak mampu menerima kabar Isra’ Mi’raj. Namun, orang-orang yang hatinya dibersihkan oleh Allah tetap teguh. Mereka tahu, jika Allah menghendaki sesuatu, maka kun fayakun—jadilah, maka terjadilah.

Dari Isra’ Mi’raj kita belajar, shalat bukanlah sekadar ritual, melainkan tali penghubung langsung dengan Allah. Imam Hasan Al-Bashri pernah berkata, “Shalat adalah kehormatan bagi seorang mukmin. Barang siapa yang meremehkannya, maka ia meremehkan kehormatannya sendiri.”

BACA JUGA:  Seandainya Rasulullah Muhammad Tidak Didampingi oleh Abu Bakar, Apa yang Akan Terjadi?

Isra’ Mi’raj juga meneguhkan bahwa cinta dan keyakinan sahabat sejati tidak mengenal batas. Abu Bakar tidak membutuhkan bukti perjalanan Nabi; cintanya telah menjadi saksi. Ia tahu bahwa kebenaran Nabi Muhammad ﷺ lebih nyata daripada keraguan manusia.

Hingga hari ini, setiap kali seorang muslim menegakkan shalat lima waktu, sejatinya ia sedang menapak jejak perjalanan Rasulullah ﷺ ke langit. Setiap takbir, rukuk, dan sujud adalah bisikan yang mengingatkan: Allah Maha Dekat, lebih dekat dari urat leher kita.

Maka, wahai jiwa, jangan sekali-kali engkau pandang Isra’ Mi’raj hanya sebagai kisah masa lalu. Ia adalah pelita yang menyinari jalan iman, mengajarkan bahwa ketaatan lahir dari keyakinan, dan keyakinan lahir dari cinta yang tak terguncang oleh logika dunia.

Seperti Abu Bakar, teguhkan hatimu untuk berkata: “Jika Rasulullah ﷺ mengatakan itu, maka aku percaya.” Karena percaya kepada beliau berarti percaya kepada Allah yang mengutusnya. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *