Benar Mengelola Harta: Jalan Turunnya Pertolongan Allah

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Freepik

Seri Mengelola Harta

MANUSIA diciptakan dengan fitrah cinta kepada harta. Allah ﷻ menegaskan dalam Al-Qur’an: “Dan sesungguhnya dia sangat mencintai harta.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 8).

Cinta harta bukanlah aib. Yang menjadi soal adalah bagaimana ia diperoleh, bagaimana ia dijaga, dan ke mana ia dibelanjakan. Inilah yang kelak menjadi pertanyaan mendetail di hari akhir. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang: umurnya untuk apa dihabiskan, ilmunya bagaimana diamalkan, hartanya dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan, serta tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR. Tirmidzi).

Pertanyaan tentang harta ternyata lebih rinci dibandingkan umur atau tubuh. Dua sisi sekaligus: dari mana datangnya, dan ke mana perginya. Ini tanda bahwa pengelolaan harta adalah cermin keimanan sekaligus ujian besar manusia.

—

Rasulullah ﷺ: Al-Amin dalam Mengelola Amanah

Sebelum diutus menjadi Nabi, Muhammad ﷺ sudah mendapat gelar al-Amīn, orang yang terpercaya. Kaum Quraisy menitipkan harta-harta mereka padanya, karena yakin tak akan berkhianat. Gelar ini bukan sekadar reputasi sosial, melainkan bukti bahwa sejak awal beliau adalah teladan dalam mengelola titipan.

Amanah harta adalah fondasi akhlak. Tidak mungkin seseorang menjaga agama, akal, nyawa, dan keturunan—lima maqasid syariah—tanpa kemampuan menjaga harta. Imam al-Syathibi menegaskan: “Hifzh al-mal (menjaga harta) adalah salah satu pokok maqasid syariah, sama pentingnya dengan menjaga agama.”

BACA JUGA: Harta Haram di Akhir Zaman, Apa Saja?

Kisah Tiga Pemuda dalam Goa: Pertolongan Lahir dari Kejujuran Harta

Rasulullah ﷺ pernah mengisahkan tiga pemuda yang terjebak di dalam goa karena tertutup batu besar. Mereka lalu berdoa dengan amal terbaik masing-masing.

Pemuda pertama: ia mendahulukan kedua orang tuanya, dibandingkan kepada istrinya. Pengelolaan hartanya diprioritaskan untuk bakti kepada orang tua.

Pemuda kedua: ia hampir tergoda menggunakan hartanya untuk berzina. Namun ia menahan diri, lalu meninggalkan perempuan itu. Ia menahan nafsu dari menyalahgunakan harta.

Pemuda ketiga: ia pernah menyimpan upah pekerjanya. Uang itu ia kembangkan hingga menjadi ternak banyak. Ketika pekerja itu datang kembali, seluruh kekayaan itu ia serahkan. Ia mengembalikan hak orang lain dengan jujur.

Karena amal terkait harta yang benar, Allah menolong mereka. Batu besar itu bergeser, dan mereka keluar dengan selamat.

Kisah ini menjadi isyarat bahwa pengelolaan harta dengan benar membuka jalan turunnya pertolongan Allah.

—

Umar bin Khattab r.a.: Mengenali Watak Lewat Harta

Umar bin Khattab pernah berkata: “Engkau tidak akan benar-benar mengenal seseorang hingga engkau bermuamalah dengannya dalam urusan harta.”

Harta adalah cermin kejujuran. Dari cara seseorang mengelola harta, akan terlihat apakah ia beriman atau lalai.

—

Jejak Sejarah: Abu Ubaidah dan Keadilan Harta

Dalam sejarah Islam, tercatat peristiwa indah dari Abu Ubaidah bin Jarrah ketika menjadi gubernur di Himsh (Homs, Suriah). Saat pasukan Muslim terpaksa mundur dan tak mampu menjamin keamanan, ia mengembalikan harta jizyah kepada penduduk Kristen. Ia berkata:

> “Kami mengambil harta ini sebagai imbalan untuk melindungi kalian. Kini kami tidak mampu melindungi kalian, maka harta ini kami kembalikan.”

Fenomena ini belum pernah ada dalam sejarah sebelumnya: penguasa mengembalikan pajak kepada rakyat non-Muslim karena tidak sanggup memenuhi amanahnya. Inilah buah dari Islam yang menempatkan harta bukan untuk dikuasai, tetapi untuk dijaga dalam keadilan.

—

Pandangan Ulama tentang Harta

Para fuqaha (ahli fiqh) menekankan bahwa harta harus diperoleh dengan cara halal dan dibelanjakan untuk kebutuhan yang diridai Allah. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin mengingatkan: “Harta adalah sarana, bukan tujuan. Bila ia dijadikan tujuan, maka ia akan membutakan hati. Bila ia dijadikan sarana untuk ketaatan, ia menjadi penolong menuju Allah.”

Sementara para sufi lebih menekankan sikap hati terhadap harta. Junayd al-Baghdadi berkata: “Zuhud bukan berarti tidak memiliki harta. Zuhud adalah ketika harta tidak menguasai hatimu.”

Maka, pengelolaan harta bukan hanya soal hitungan transaksi, tetapi juga soal kebersihan hati.

—

Menangis Karena Ayat tentang Harta

Banyak sahabat menangis ketika turun ayat-ayat tentang harta. Umar bin Khattab tersungkur ketika mendengar firman Allah: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92).

Ayat ini menusuk hati para sahabat. Mereka sadar, puncak iman adalah mengorbankan harta yang paling dicintai. Abu Thalhah al-Anshari segera bersedekah dengan kebun terbaiknya, Bairuha’. Umar sendiri banyak menafkahkan harta demi jalan Allah.

BACA JUGA:  Sedekah dan Harta yang Tidak Akan Pernah Berkurang

Refleksi

Harta adalah saudara kandung nyawa. Orang rela mati demi harta, sebagaimana firman Allah ﷻ: “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 8).

Namun, Islam datang bukan untuk mematikan cinta itu, melainkan menyalurkannya dalam amanah. Dengan Islam, harta tidak menjadi berhala, tetapi menjadi sarana ibadah. Dengan Islam, manusia belajar bahwa menjaga harta sama pentingnya dengan menjaga agama, akal, jiwa, dan keturunan.

Pengelolaan harta yang benar adalah cermin karakter sejati seseorang. Dari sana lahir keadilan, kasih sayang, dan pertolongan Allah.

—

Akhir kata:

Mari kita bertanya dalam hati: apakah harta kita sudah halal jalannya, jelas arahnya, dan amanah dalam penggunaannya? Karena kelak, setiap lembar harta yang kita genggam akan ditanya dua kali: dari mana ia datang, ke mana ia pergi. []

Sumber: Said Hawa, Al-Islam, GIP

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *