HUBUNGAN suami istri (jima) adalah salah satu ibadah dan bentuk kasih sayang yang Allah syariatkan dalam rumah tangga. Aktivitas ini bukan sekadar pemenuhan kebutuhan biologis, melainkan juga menjadi sarana menjaga kehormatan, mempererat kasih sayang, serta menumbuhkan mawaddah wa rahmah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa jima bukan perkara sepele; ada adab, doa, hingga sikap yang harus diperhatikan. Sayangnya, banyak suami yang lalai sehingga terjerumus pada kesalahan saat berhubungan.
Berikut beberapa kesalahan yang sering dilakukan suami saat jima:
1. Tidak Memulai dengan Doa
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah suami terburu-buru memulai jima tanpa membaca doa terlebih dahulu. Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan doa sebelum berhubungan:
“Bismillah, Allahumma jannibna asy-syaithan wa jannib asy-syaithana ma razaqtana.”
(Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami).
Doa ini bukan hanya untuk keberkahan, tetapi juga agar keturunan yang lahir kelak terhindar dari gangguan setan. Mengabaikannya berarti menghilangkan keberkahan dari salah satu sunnah.
BACA JUGA: Agar Suami di Atas 50 Tahun Masih Oke Bisa Jima dengan Istri, Apa Rahasianya?
2. Terlalu Tergesa-gesa
Banyak suami yang kurang sabar dan langsung ingin mencapai kepuasan tanpa memperhatikan kondisi istri. Padahal wanita membutuhkan waktu lebih lama untuk siap secara fisik dan psikis. Rasulullah ﷺ mencontohkan kelembutan, bahkan beliau menganjurkan adanya foreplay (muqaddimah) sebelum berjima, seperti sentuhan, ciuman, dan kata-kata mesra.
Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa termasuk adab jima adalah suami memperhatikan kenyamanan istri dan tidak tergesa-gesa, karena itu bagian dari akhlak mulia.
3. Mengabaikan Kebersihan
Ada pula suami yang tidak memperhatikan kebersihan diri sebelum berhubungan, seperti badan yang bau, mulut tidak segar, atau pakaian yang kotor. Hal ini bisa mengurangi kenyamanan pasangan. Dalam Islam, menjaga kebersihan adalah sebagian dari iman.
Rasulullah ﷺ dikenal sangat memperhatikan kebersihan, bahkan beliau selalu bersiwak (membersihkan mulut) sebelum masuk rumah dan bertemu keluarga. Maka sebelum jima, alangkah baiknya suami membersihkan diri, berwangi-wangian, dan tampil rapi.
4. Tidak Memperhatikan Kebutuhan Istri
Kesalahan lain adalah suami hanya fokus pada kepuasannya sendiri tanpa memperhatikan apakah istri sudah merasa cukup atau belum. Padahal Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya memperhatikan hak pasangan.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebutkan bahwa suami sebaiknya tidak meninggalkan istrinya sebelum ia mendapatkan bagian kenikmatan, sebab tujuan jima adalah kebersamaan, bukan sekadar pemenuhan sepihak.
5. Berhubungan dalam Waktu atau Tempat yang Dilarang
Syariat telah memberikan aturan jelas tentang waktu dan kondisi jima. Kesalahan yang sering terjadi adalah:
– Jima saat haid atau nifas, padahal ini jelas dilarang dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 222).
– Jima pada siang hari di bulan Ramadan bagi yang berpuasa, yang dosanya besar dan kafaratnya berat.
– Jima di tempat yang tidak pantas seperti di depan anak kecil atau di ruang terbuka.
Kesalahan ini bukan hanya berdosa, tetapi juga dapat mendatangkan murka Allah.
6. Melakukan Praktik yang Dilarang
Ada sebagian suami yang meniru kebiasaan buruk dari budaya atau tontonan yang haram, lalu mempraktikkannya dalam rumah tangga. Misalnya:
– Jima lewat dubur (anal sex) yang jelas diharamkan Rasulullah ﷺ.
– Memaksa istri melakukan sesuatu yang menyakitkan.
– Mencontoh gaya yang diharamkan karena menyerupai perbuatan kaum yang dimurkai Allah.
Islam membolehkan variasi posisi dalam jima, tetapi tetap dalam batasan syariat, yaitu lewat jalan yang halal.
7. Tidak Bersyukur dan Meremehkan Nikmat
Ada pula suami yang tidak menghargai istrinya, memperlakukan jima seakan hanya rutinitas tanpa rasa syukur. Padahal memiliki pasangan halal adalah nikmat besar. Rasulullah ﷺ bahkan bersabda bahwa jima dengan istri bernilai sedekah, karena dilakukan di jalan yang halal.
BACA JUGA: Jima Kepergok Anak, Apa yang Harus Dilakukan?
8. Tidak Menyegerakan Mandi Junub
Setelah jima, sebagian suami malas mandi junub dan menundanya terlalu lama. Padahal mandi janabah penting untuk kesucian, shalat, dan ibadah lainnya. Menunda tanpa uzur bisa membuat ibadah tidak sah.
Penutup
Jima adalah ibadah sekaligus tanda kasih sayang. Kesalahan suami saat melakukannya dapat merugikan diri sendiri dan juga pasangannya. Oleh karena itu, penting bagi setiap suami untuk belajar adab-adab jima sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ: memulai dengan doa, menjaga kebersihan, memperhatikan kebutuhan istri, dan menjauhi hal-hal yang dilarang syariat.
Dengan memperhatikan hal ini, hubungan suami istri bukan hanya sekadar pelepas syahwat, tetapi menjadi ladang pahala, sumber ketenangan, dan pengikat cinta yang semakin kuat. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
