PASAR adalah ruang paling tua dalam peradaban manusia. Di sana, orang bertemu bukan hanya untuk menjual barang, tetapi juga bertukar ide, menimbang kebutuhan, bahkan membangun kepercayaan. Dalam sejarah Islam, pasar bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan juga sekolah kehidupan. Dua kisah sahabat besar, Abdurrahman bin Auf dan Umar bin Khattab, menjadi teladan bagaimana Islam menempatkan pasar sebagai arena pendidikan jiwa, kerja keras, dan kemandirian.
—
Abdurrahman bin Auf: Langkah Pertama di Pasar
Ketika hijrah ke Madinah, Abdurrahman bin Auf datang tanpa harta. Ia meninggalkan Mekah dengan jiwa dan iman, sementara seluruh kekayaan ditinggalkan. Dalam sebuah riwayat Sirah Nabawiyah disebutkan, ketika dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, Sa’ad menawarkan separuh harta dan bahkan salah satu istrinya untuk dinikahi Abdurrahman. Tetapi jawaban Abdurrahman sangat sederhana:
“Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tunjukkanlah kepadaku di mana pasar.”
Kata-kata itu menjadi kalimat emas yang terus dikenang. Ia tidak meminta belas kasihan, tidak menggantungkan hidup pada orang lain, melainkan memilih jalan kemandirian. Dari pasar, Abdurrahman memulai usaha kecil: membeli dan menjual keju, minyak samin, hingga kain. Tidak lama kemudian, ia berhasil menikah, bahkan memberikan mahar emas seberat biji kurma.
Pesan yang lahir dari kisah ini jelas: langkah awal untuk berdikari bukanlah menunggu peluang datang, tetapi turun ke lapangan, ke pasar, tempat denyut kebutuhan manusia berdetak.
—
Umar bin Khattab: Jangan Menunggu Emas Turun dari Langit
Kisah lain datang dari Khalifah Umar bin Khattab. Ia dikenal sebagai pemimpin zuhud, sederhana, bahkan sering hanya makan roti kering. Namun kezuhudan Umar tidak menjadikannya anti kerja. Justru ia menekankan bahwa tawakal harus disertai usaha.
Dalam salah satu perjalanannya, Umar memasuki sebuah masjid dan melihat sekelompok pemuda yang sibuk beribadah seharian. Mereka berkata, “Kami adalah orang-orang yang bertawakal kepada Allah.” Umar menegur keras:
“Hai anak muda, keluarlah dari masjid dan bekerjalah! Jangan kalian menjadi pembohong. Allah tidak akan menghujankan emas dari langit.”
Bagi Umar, doa tanpa usaha adalah kosong. Tawakal tanpa kerja hanyalah dalih kemalasan. Ia lalu mengutip QS. Yusuf (12):55, ketika Nabi Yusuf berkata:
“Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.”
Ayat ini ditegaskan Umar sebagai legitimasi bahwa bekerja, mengelola, dan berikhtiar adalah bagian dari ibadah. Bahkan ia melanjutkan dengan peringatan keras: jangan pernah berharap rezeki datang tanpa upaya.
—
Mengapa Harus ke Pasar?
Pasar dalam kisah Abdurrahman dan Umar adalah simbol nyata kehidupan. Mengapa harus ke pasar? Karena di sana ada beberapa hal penting:
1. Memahami Konsumen
Pasar adalah laboratorium perilaku manusia. Seorang pedagang belajar mengenali apa yang orang butuhkan, apa yang sulit mereka dapatkan, dan apa yang mereka anggap bernilai. Pakar perilaku konsumen, Philip Kotler, menyebut bahwa inti bisnis adalah “menciptakan nilai dan memuaskan kebutuhan.” Abdurrahman bin Auf memahami ini sejak awal: ia mencari apa yang dicari orang Madinah, lalu menyediakannya.
2. Melihat Kesenjangan
Pasar memperlihatkan ruang-ruang yang belum terlayani. Ekonom klasik Joseph Schumpeter menyebut inilah entrepreneurial opportunity—celah yang bisa diisi dengan inovasi. Umar bin Khattab pun menekankan: “Bila ada yang pandai berdagang, jadilah pedagang yang handal.” Artinya, peluang selalu ada, tetapi harus dicari.
3. Membangun Mental Tahan Banting
Pasar bukan tempat manis; ia penuh persaingan, tawar-menawar, bahkan penolakan. Tetapi justru di situlah seorang Muslim ditempa. Umar menolak generasi malas yang bersembunyi di balik doa, sebab pasar mengajarkan arti keringat, kegagalan, dan kebangkitan.
—
Pasar sebagai Sekolah Bisnis
Dari perspektif manajemen modern, pasar memang disebut sebagai “sekolah bisnis terbaik.” Peter Drucker, bapak manajemen, pernah berkata: “The purpose of business is to create a customer.” Artinya, inti bisnis bukan pada barang, tetapi pada manusia yang membutuhkannya.
Pasar melatih pedagang memahami perilaku konsumen secara langsung. Mereka belajar:
Mengamati daya beli masyarakat.
Menyesuaikan harga dengan kemampuan konsumen.
Menentukan strategi pelayanan yang membuat pelanggan kembali.
Inilah ilmu yang tidak bisa hanya dipelajari dari buku, melainkan harus turun langsung. Seperti Abdurrahman bin Auf yang tidak menunggu modal besar, tetapi langsung masuk pasar dengan barang sederhana.
—
Pesan Umar: Jangan Jadi Beban, Jadilah Pemberi
Umar bin Khattab mengutip sabda Nabi ﷺ: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
Pesan ini bukan sekadar soal sedekah, tetapi tentang prinsip hidup. Seorang Muslim didorong untuk produktif, memberi, bukan meminta. Jika kita malas bekerja, kita hanya akan menjadi beban. Tetapi bila kita berusaha, kita bisa membantu orang lain.
Dalam psikologi modern, prinsip ini sejalan dengan teori self-efficacy dari Albert Bandura: rasa percaya diri tumbuh ketika seseorang mampu mengendalikan hidupnya, menghasilkan, dan memberi kontribusi nyata. Bekerja di pasar, menghasilkan dari jerih payah sendiri, adalah jalan membangun martabat.
—
Refleksi untuk Kita Hari Ini
Dua kisah ini sangat relevan. Abdurrahman bin Auf mengajarkan keberanian memulai dari nol, dengan modal minim, tetapi tekad besar. Umar bin Khattab mengajarkan disiplin, kerja keras, dan penolakan terhadap kemalasan yang bersembunyi di balik “tawakal.”
Di era modern, banyak yang terjebak pada impian instan: ingin cepat kaya tanpa proses, ingin sukses tanpa kerja keras. Padahal pesan para sahabat ini jelas: pergilah ke pasar, pahami manusia, kerja keraslah, lalu serahkan hasilnya pada Allah.
Pasar bisa berarti banyak hal hari ini: bukan hanya tempat fisik, tetapi juga dunia digital, platform daring, atau komunitas sosial. Tetapi esensinya sama: terjun langsung, melayani kebutuhan, dan memberi nilai.
—
Penutup
“Mulai berbisnis, pergilah ke pasar.” Kalimat ini bukan sekadar ajakan dagang, tetapi panggilan jiwa. Abdurrahman bin Auf tidak meminta harta, tetapi meminta pasar. Umar bin Khattab tidak memuji doa kosong, tetapi mengirim pemuda ke pasar. Rasulullah ﷺ sendiri menegaskan: “Amal yang paling baik adalah bekerja dengan tangannya sendiri.”
Di balik semua itu, ada pelajaran reflektif: Islam tidak mengajarkan kemiskinan sebagai kemuliaan, tetapi kemandirian sebagai kehormatan. Pasar adalah sekolah, dan setiap Muslim dipanggil untuk belajar di sana. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
