Ketika Meja Perundingan Doha Menjadi Medan Perang

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Freepik

BAYANGKAN  sebuah ruangan berlampu redup di Doha, awal September 2025. Para delegasi Hamas duduk di meja kayu panjang, diapit kertas proposal, pena, dan segelas teh hangat yang masih mengepulkan asap. Mereka tengah menimbang setiap kalimat yang ditawarkan mediator Amerika, mencoba menjahit kembali seutas kemungkinan gencatan senjata setelah ratusan hari Gaza diguncang api.

Namun tak sampai satu jam, langit Qatar pecah. Dua belas rudal menghantam sekitar ibu kota, bergemuruh seperti suara kiamat kecil. Dinding ruangan bergetar, gelas pecah berhamburan, dan asap menembus sela-sela jendela. Ghazi Hamad, anggota biro politik Hamas, terdiam sejenak sebelum menyadari: ini bukan kebetulan. “Ketika kami mendengar suara roket, kami tahu, ini adalah upaya pembunuhan,” ujarnya kepada Al-Jazeera.

Doha, kota yang dikenal sebagai ruang aman bagi diplomasi, seketika berubah menjadi saksi bahwa meja perundingan pun tidak kebal dari logika rudal. Seakan Israel ingin berkata kepada dunia: tidak ada ruang yang cukup jauh, tidak ada kesepakatan yang cukup suci untuk tidak dikhianati.

—

Pola Lama yang Berulang: Dari Oslo, Tunisia, hingga Doha

Peristiwa di Doha bukanlah yang pertama. Ia hanyalah bab terbaru dalam kisah panjang di mana Israel menjadikan diplomasi sebagai jebakan maut.

Yasser Arafat (1993–2004)
Sang ketua PLO yang menandatangani Perjanjian Oslo 1993 di Washington bersama Yitzhak Rabin dan Bill Clinton. Dunia menyambutnya sebagai pintu harapan. Namun, harapan itu segera diracun. Arafat dikurung di Ramallah, diisolasi, dan akhirnya wafat pada 2004 dalam kondisi misterius. Tim investigasi Swiss pada 2012 menemukan jejak polonium-210, racun radioaktif mematikan, dalam tubuhnya.

BACA JUGA: Javier Bardem dan Keffiyeh di Emmy Awards: Simbol, Suara, dan Perlawanan

Tunisia (1985 & 1988)
Jauh sebelum Oslo, Israel sudah menorehkan tinta darah di Tunisia. Pada 1 Oktober 1985, jet tempur Israel mengebom markas PLO di Hammam al-Shatt, dekat Tunis. Lebih dari 60 orang tewas. Tiga tahun kemudian, Khalil al-Wazir (Abu Jihad), tangan kanan Arafat, ditembak mati di rumahnya di Tunis oleh pasukan komando Israel.

Yordania (1997)
Bahkan negara tetangga yang sudah menandatangani perjanjian damai tidak lepas dari kebiadaban. Pada September 1997, agen Mossad mencoba meracun Khaled Meshaal, pemimpin Hamas, di Amman. Upaya itu gagal berkat pengawalnya. Yordania yang murka memaksa Israel menyerahkan penawar racun dan membebaskan puluhan tahanan Palestina, termasuk Syaikh Ahmad Yasin.

Sejarawan Palestina Rashid Khalidi menyebut semua ini sebagai “politik likuidasi” — strategi di mana Israel tidak pernah benar-benar berniat menjaga proses perdamaian. Mereka menandatangani, lalu membunuh. Mereka berunding, lalu membombardir. Mereka berjanji, lalu menghancurkan.

—

Serangan di Doha: Simbol Kegilaan Baru

Yang membuat serangan 9 September 2025 di Doha berbeda adalah lokasinya. Qatar bukan Gaza, bukan Beirut, bukan Damaskus. Ia adalah ibu kota yang menjadi tuan rumah Komando Pusat AS (CENTCOM), mitra penting Washington, pemasok energi dunia, dan arena diplomasi internasional.

Robert Inlakesh, jurnalis geopolitik, menulis di Palestine Chronicle:  “Pesannya jelas; ini adalah pernyataan kepada seluruh dunia: Israel melakukan apa pun yang diinginkannya, kapan pun ia mau. Tak seorang pun akan menghentikannya.”

Target utama operasi itu diduga adalah Zaher Jabareen dan Khalil al-Hayya, tokoh penting Hamas dalam negosiasi gencatan senjata. Israel gagal membunuh mereka, tetapi berhasil mengirim pesan: meja perundingan hanyalah perpanjangan medan perang, dan tidak ada ruang netral di dunia Arab.

—

Geopolitik: Ketika Washington Menjadi Mitra Genosida, Bukan Mediator

Di balik dentuman rudal itu, bayang-bayang Washington jelas terlihat. Ghazi Hamad menuduh langsung Presiden AS Donald Trump, yang beberapa jam sebelumnya menerima proposal Hamas melalui mediator Qatar. “Amerika Serikat telah menunjukkan bahwa mereka bukan mediator, melainkan mitra dalam genosida,” katanya.

Profesor geopolitik dari Sri Lanka, Lasantha Pethiyagoda, menulis komentar pedas: “Hamas hanya menyebut Trump, tetapi hampir semua pemerintah Barat mendukung genosida. Sementara negara-negara Arab menolak mengusir diplomat Israel. Ini bukan hanya pembunuhan terhadap individu, melainkan pembunuhan terhadap diplomasi itu sendiri.”

Dalam kacamata geopolitik, Israel mempraktikkan apa yang disebut politik intimidasi ekstrateritorial: pesan tidak hanya ditujukan kepada lawan, tetapi juga kepada mediator, sekutu, bahkan negara tuan rumah. Dengan menyerang Doha, Israel mengirim sinyal kepada Kairo, Riyadh, Amman, dan Baghdad: “Kalian pun bisa menjadi target berikutnya.”

—

Bayangan Al-Qur’an: Janji, Khianat, dan Darah

Apa yang kita saksikan hari ini sejatinya bukan hal baru. Al-Qur’an telah melukiskan watak kaum yang berulang kali mengkhianati janji:

> “(Yaitu) orang-orang yang selalu mengingkari janji, padahal mereka telah mengikat perjanjian, dan memutuskan apa yang Allah perintahkan supaya disambungkan, serta berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-Baqarah: 27)

Sejarah Israel sejak zaman Bani Israil hingga negara modernnya menunjukkan pola yang sama: perjanjian ditandatangani, lalu dirobek; diplomasi digelar, lalu diselimuti darah. Dari Oslo ke Doha, dari Yordania ke Tunisia, watak itu tetap lestari.

BACA JUGA:  Detik-detik Perpecahan di Meja Netanyahu Sebelum Serangan ke Doha

Refleksi: Apa Artinya Bagi Dunia Islam?

Serangan di Doha mengandung tiga pesan penting:

1. Perdamaian Tidak Dijaga dengan Kertas
Jika meja perundingan bisa dibombardir, maka perdamaian sejati tidak cukup ditegakkan dengan tanda tangan, tetapi dengan kekuatan nyata yang melindunginya.

2. Arab dalam Bahaya Kolektif
Kata Ghazi Hamad, “Kairo, Riyadh, Baghdad, dan Amman tidak jauh dari kegilaan ini.” Artinya, jika hari ini Doha, besok bisa Damaskus, lusa bisa Kairo.

3. Umat Islam Diuji
Ujian bukan hanya bagi Hamas, tetapi juga bagi setiap ibu kota Muslim: akankah mereka diam saat Doha diguncang, ataukah mereka sadar bahwa keesokan hari, giliran mereka?

—

Penutup: Doa dari Abu Jihad hingga Doha

Ketika Abu Jihad ditembak di Tunis, Yasser Arafat berkata lirih: “Setiap darah yang tumpah, akan menjadi tinta bagi sejarah.”

Hari ini, serangan di Doha menorehkan tinta serupa. Ia menegaskan bahwa diplomasi tanpa keadilan hanyalah sandiwara, dan perdamaian tanpa perlindungan hanyalah fatamorgana.

Namun, sejarah juga menunjukkan: setiap kali Israel membunuh, perlawanan justru tumbuh. Abu Jihad gugur, tetapi intifada meletus. Arafat diracun, tetapi Palestina tetap berdiri. Jika Doha dibombardir, mungkin justru lahir generasi baru yang melihat bahwa rudal hanya bisa menghancurkan gedung, tetapi tidak bisa membunuh cita-cita.

Al-Qur’an menutup refleksi ini dengan firman-Nya: “Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 8)

Dan cahaya itu, hari ini, berpendar dari meja yang retak di Doha. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *