Senjakala Peradaban: Krisis Kelahiran Taiwan dan Amerika

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Freepik

1. Bayi dan Senjakala Peradaban

SEORANG perawat di sebuah rumah sakit di Taipei menimang bayi mungil berusia tiga hari. Bayi itu tidur tenang, napasnya lembut, wajahnya polos seperti kertas putih yang belum disentuh pena sejarah. Di luar jendela rumah sakit, berita bergulir: Taiwan panik karena angka kelahiran terjun bebas, masyarakat menua, dan rahim-rahim sepi.

Kontras yang menusuk. Di dalam, kehidupan baru. Di luar, ketakutan kolektif: apakah negeri ini masih punya masa depan?

Saya teringat sebuah ayat, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang kekal lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).

Ayat itu tidak menafikan anak sebagai perhiasan. Justru ia mengingatkan: anak adalah simbol kehidupan, energi regenerasi, dan harapan. Tanpa anak, dunia bisa jadi sekaya apa pun, tapi ia hanyalah rumah besar yang kosong, sunyi, dan menunggu roboh.

Maka saya bertanya: mengapa bangsa-bangsa besar kini ketakutan bukan karena perang, tapi karena rahim yang sunyi?

—

2. Taiwan dan AS: Negeri Kaya yang Takut Kosong

Pada September 2025, pemerintah Taiwan mengumumkan kebijakan baru: setiap keluarga yang melahirkan bayi akan menerima subsidi tunai sekitar $3.320, sementara bayi kembar bisa mendapat hampir $7.000. Tak hanya itu, negara akan menanggung sebagian besar biaya perawatan infertilitas, bahkan hingga enam kali percobaan IVF (in vitro fertilization) bagi perempuan di bawah usia 39 tahun.

Taiwan bukanlah negara miskin. Ia negara maju dengan teknologi tinggi, salah satu produsen semikonduktor terbesar dunia. Namun, kemajuan itu tidak menyelamatkannya dari sepi generasi. Tahun 2025, lebih dari 20 persen penduduknya berusia 65 tahun ke atas. Angka kelahiran anjlok hingga 0,87 anak per perempuan — salah satu yang terendah di dunia.

Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengumumkan hal serupa. Data CDC (2025) menyebut angka kesuburan jatuh ke 1,6 anak per perempuan. Presiden Donald Trump bahkan menyebut dirinya “presiden kesuburan,” lalu meluncurkan gagasan insentif pajak bagi keluarga yang memiliki anak.

Negara-negara kaya di Asia Timur dan Barat sama-sama panik. Mereka bisa membeli mesin, membangun kota, memperkuat tentara, tetapi mereka tidak bisa membeli regenerasi jiwa.

Dan di sinilah ironi itu terletak: bangsa kaya takut mati bukan karena meriam, tetapi karena sepi di buaian.

—

3. Al-Qur’an dan Hadits tentang Anak dan Keturunan

Dalam Al-Qur’an, anak bukan sekadar faktor demografi, tetapi amanah. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa besar.” (QS. Al-Isra’: 31)

Ayat ini relevan bukan hanya bagi mereka yang membunuh anak secara fisik, tapi juga bagi bangsa modern yang membunuh harapan anak dengan menolak kelahiran. Rasa takut miskin, takut repot, takut kehilangan gaya hidup, semua itu bisa menjelma menjadi “pembunuhan diam-diam” terhadap generasi yang tak lahir.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Nikahilah wanita yang penyayang lagi subur, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat lain pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i)

Hadits ini bukan sekadar seruan kuantitas. Ia mengandung visi peradaban: umat Islam adalah umat yang tumbuh, berkembang, dan memberi harapan. Jumlah yang banyak adalah kekuatan, tapi harus dipadu dengan kasih sayang dan iman.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis bahwa anak adalah ladang amal. Orang tua akan menuai pahala dari doa anak shalih, dari amal yang diteruskan generasi setelahnya. Dengan kata lain, anak adalah investasi abadi, bukan sekadar beban ekonomi.

—

4. Sejarah Peradaban: Kekuatan Rahim dan Lemahnya Generasi

Sejarah adalah cermin. Mari kita tengok tiga bangsa yang pernah disinggung dalam Al-Qur’an dan catatan sejarah dunia:

Bangsa Saba’
Negeri subur dengan kebun-kebun di Yaman kuno. Allah menggambarkannya sebagai “negeri yang baik dan Tuhan yang Maha Pengampun” (QS. Saba’: 15). Tapi rahim mereka melahirkan generasi yang lalai, ingkar nikmat, hingga bendungan Ma’rib jebol. Mereka tercerai berai. Kekayaan tanpa regenerasi iman hanya menunda kehancuran.

Kaum Quraisy
Kabilah kecil di Mekah, tapi kuat karena menjaga Ka’bah, memegang kendali perdagangan, dan memiliki generasi berani. Dari rahim Quraisy lahir Rasulullah ﷺ, lalu para sahabat yang mengguncang dunia. Quraisy membuktikan: sebuah bangsa kecil bisa menjadi pusat dunia bila generasinya kuat secara iman dan visi.

Bangsa Rum (Romawi)
Kekaisaran yang bertahan hampir 2.200 tahun. Mereka jatuh bukan pertama kali karena serangan luar, tetapi karena rahim sosialnya mandul oleh dekadensi: pesta, individualisme, dan hedonisme. Arnold Toynbee menyebut: “Peradaban tidak mati dibunuh, tetapi bunuh diri.” Ibn Khaldun menyebut: kemewahan melumpuhkan ashabiyyah, dan dari situlah runtuh kekuatan generasi.

Sejarah itu menegaskan: kebun yang subur, kota yang megah, bahkan tentara yang kuat, semuanya tak berarti bila rahim sepi dan generasi lumpuh.

—

5. Paradoks Modernitas: Kaya tapi Mandul

Mengapa bangsa modern justru malas beranak?

Sosiolog menyebut beberapa sebab:

Beban ekonomi: harga rumah, biaya sekolah, dan gaya hidup membuat banyak pasangan memilih satu atau bahkan tanpa anak.

Individualisme: kesuksesan diukur dari karier dan kebebasan, bukan keluarga.

Urbanisasi: ruang kota sempit, rumah jadi kotak kecil, anak terasa sebagai beban tambahan.

Di balik alasan praktis ini, ada luka spiritual: manusia kehilangan makna tentang hidup, tentang keluarga, tentang warisan jiwa.

Saya teringat Ibn Khaldun. Dalam Muqaddimah, ia menulis: bangsa yang sudah kenyang kemewahan akan melahirkan generasi lemah, tidak mau susah, malas berkorban. Dari situlah kekuasaan mereka tergelincir.

Lihatlah Eropa, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Amerika. Mereka bukan hanya menghadapi defisit angka kelahiran, tapi juga defisit makna hidup. Rumah mereka besar, tapi hati mereka kosong.

—

6. Suara dari Masa Depan: Apa yang Ditakuti Barat, Apa yang Diharap Islam

Ada satu ironi menarik. Barat dan Asia Timur takut dengan istilah “replacement”: keturunan mereka sedikit, sementara imigran—khususnya Muslim—lebih subur. Mereka takut “digantikan.”

Sementara dalam Islam, banyak keturunan bukanlah momok, tapi anugerah. Nabi ﷺ justru bersabda: beliau akan bangga dengan banyaknya umat pada hari kiamat.

Bedanya terletak pada visi. Barat melihat banyak anak sebagai ancaman terhadap gaya hidup. Islam melihat banyak anak sebagai kekuatan peradaban bila dibentuk dengan iman.

Peradaban Islam di masa lalu tumbuh karena keberanian rahim: dari setiap desa lahir ulama, dari setiap kabilah lahir mujahid, dari setiap keluarga lahir generasi pengemban dakwah.

Hari ini, ketika dunia modern panik karena sepi bayi, umat Islam seharusnya bercermin: apakah kita masih menjaga rahim kita dengan iman, ataukah kita ikut latah menghitung anak sebagai beban?

BACA JUGA: Konser Musik Together for Palestine untuk Gaza dari Wembley: Perjuangan Palestina dari Panggung Selebriti

7. Penutup: Renungan untuk Umat Muslim dan Dunia

Di ruang bersalin itu, bayi Taiwan yang baru lahir mungkin tidak tahu bahwa kelahirannya adalah bagian dari strategi nasional. Ia hanya tahu tangis pertamanya disambut senyum perawat. Namun dunia tahu: bayi ini lahir di tengah krisis global tentang masa depan generasi.

Saya ingin menutup dengan percakapan batin: Wahai manusia modern, apakah engkau lupa bahwa setiap anak lahir membawa rezeki dan cerita? Mengapa engkau takut miskin karena anak, padahal Allah telah berjanji memberi rezeki? Mengapa engkau takut kehilangan kebebasan, padahal kebebasan sejati adalah ketika engkau bisa meninggalkan jejak hidupmu pada anak-anakmu?

Rasulullah ﷺ bersabda: “Apabila seorang manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Bangsa yang kehilangan anak berarti kehilangan doa. Kehilangan doa berarti kehilangan masa depan.

Maka, wahai umat Islam, janganlah ikut-ikutan panik seperti bangsa modern yang kehilangan makna keluarga. Justru di saat dunia ketakutan menghadapi rahim-rahim sepi, kita harus menjaga rahim kita dengan iman, kasih sayang, dan visi dakwah.

Karena masa depan dunia bukan hanya ditentukan oleh subsidi, bukan hanya oleh IVF, tetapi oleh keberanian untuk melihat anak sebagai amanah Ilahi.

Dan mungkin, justru dari buaian-buaian sederhana, dari tangisan bayi-bayi yang lahir dalam iman, Allah akan membangkitkan peradaban baru. []

SUMBER: ALJAZEERA

 

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *