Laut Menenggelamkan Fir’aun dan Pelaku Genosida Ashabul Ukhdud: Inikah Sebab Global Sumud Flotilla Memilih Laut?

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Freedom Flotilla

Ombak yang Tak Pernah Diam

ADa sesuatu yang abadi pada lautan. Ombaknya bergulung tak pernah berhenti, seakan menjadi saksi bisu sejarah manusia. Di atas gelombangnya, manusia berlayar mencari kehidupan, tetapi di kedalamannya pula kekuasaan sering dikubur. Laut bukan sekadar air asin yang luas, ia adalah panggung tempat Tuhan mengadili tirani.

Hari ini, ketika Global Sumud Flotilla memaksakan diri berlayar menuju Gaza dengan bendera kemanusiaan, sejarah seolah berulang. Musa pernah menyeberangi laut itu, Fir’aun ditelan gelombangnya. Ashabul Ukhdud pernah dibakar oleh penguasa zalim, dan sang raja itu sendiri akhirnya mati di lautan. Kini, aktivis lintas bangsa kembali menantang laut dengan satu keyakinan: blokade bisa runtuh, sebagaimana kekuasaan zalim selalu runtuh di hadapan ombak.

—

Fir’aun di Tengah Laut: Tafsir Para Ulama

Al-Qur’an dengan jelas menggambarkan: “Maka Kami hukumlah Fir’aun dan tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang zalim itu.” (QS. Al-A’raf: 136)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menulis bahwa ketika Musa memukul laut dengan tongkatnya, terbukalah dua belas jalan kering untuk Bani Israil, sesuai jumlah kabilah mereka. Air berdiri tegak di kanan dan kiri, laksana gunung yang membeku.

Fir’aun melihat ini bukan sebagai tanda kuasa Allah, melainkan peluang untuk menangkap. Ia masuk bersama bala tentaranya, dan pada saat Musa serta kaumnya telah selamat, air itu menutup kembali dengan dahsyat.

Al-Tabari meriwayatkan bahwa Fir’aun sempat berkata ketika tenggelam: “Aku beriman kepada Tuhannya Musa dan Harun.” Tetapi Allah menegur: “Apakah sekarang engkau beriman, padahal sebelumnya engkau durhaka?” (QS. Yunus: 91).

Laut menjadi saksi bahwa iman terlambat tak akan menyelamatkan, dan tirani selalu berakhir dalam gelombang.

—

Api Ukhdud, Laut yang Menelan

Kisah Ashabul Ukhdud disebut dalam QS. Al-Buruj (4–9). Ribuan orang beriman dibakar hidup-hidup di parit api oleh penguasa zalim karena menolak menyembah berhala.

Al-Qurtubi dalam tafsirnya menambahkan riwayat: raja zalim itu yang merasa menang, akhirnya mati bukan karena api, tetapi karena tenggelam di laut ketika ia berlayar. Api yang ia gunakan untuk menindas berbalik jadi saksi kebiadaban, dan laut menutup hidupnya sebagai balasan ilahi.

Sejarah berulang: laut adalah pengadilan. Tirani boleh berkuasa di darat, boleh membakar, boleh menutup jalan; tetapi ketika berhadapan dengan laut, kekuasaan itu runtuh.

—

Dari Sirah ke Gaza: Mengapa Laut?

Maka pertanyaan kini muncul: mengapa Global Sumud Flotilla memilih jalur laut, padahal risikonya besar?

Jawabannya terletak pada tiga hal: politik blokade, simbol perlawanan, dan hukum internasional.

—

1. Jalur darat terkunci rapat

Sejak 2007, Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di dunia. Akses darat melalui Rafah (Mesir) dan Erez/Kerem Shalom (Israel) ditutup ketat. Setiap bantuan kemanusiaan yang masuk diperiksa, disita, bahkan ditolak.

Blokade ini bukan sekadar strategi militer, melainkan “collective punishment”—hukuman kolektif atas seluruh penduduk Gaza, yang dalam Konvensi Jenewa dilarang keras.

Di sini laut menjadi satu-satunya harapan.

—

2. Gaza punya laut, tapi dirampas

Gaza memiliki garis pantai 41 km di Mediterania. Menurut hukum laut internasional (UNCLOS 1982), Gaza seharusnya berhak atas 12 mil laut teritorial. Namun Israel hanya memberi nelayan Palestina hak sejauh 6 mil, bahkan kadang 3 mil saja.

Padahal laut adalah sumber pangan, energi, dan perdagangan. Dengan menutupnya, Israel bukan hanya menutup jalur logistik, tapi juga menutup masa depan Gaza.

—

3. Simbol perlawanan sipil global

Sejak tragedi Mavi Marmara pada 2010, ketika 9 aktivis sipil ditembak mati oleh pasukan Israel di laut lepas, dunia tahu: berlayar ke Gaza adalah aksi politik global.

Flotilla tidak hanya membawa beras, obat, atau solar. Ia membawa pesan: “Kami menolak blokade, dan kami hadir sebagai suara hati nurani dunia.”

—

4. Laut lebih sulit dimonopoli

Jika lewat darat, Israel punya alasan “pemeriksaan keamanan”. Tetapi jika dicegat di laut lepas, Israel jelas melanggar hukum internasional. Itulah mengapa setiap kali flotilla diserang, media internasional bergemuruh, diplomasi Eropa bergetar, dan isu Gaza kembali mendunia.

—

5. Pesan solidaritas lintas bangsa

Flotilla diisi aktivis dari Italia, Spanyol, Norwegia, Indonesia, bahkan Amerika Latin. Ada anggota parlemen, ulama, dokter, mahasiswa.

Pesan mereka jelas: Gaza bukan hanya masalah Arab, tapi masalah kemanusiaan global.

—

Laut dalam Hukum Internasional

Hukum laut internasional (UNCLOS 1982) mengatur:

Laut lepas adalah res communis—milik bersama umat manusia.

Tidak ada negara yang boleh mengklaim kedaulatan penuh atasnya.

Menyerang kapal sipil di laut lepas adalah pelanggaran berat.

Profesor Richard Falk, pakar hukum internasional PBB, menegaskan: “Blokade laut Israel atas Gaza adalah ilegal, tidak dapat dibenarkan oleh hukum perang maupun hukum laut.”

Anthony D’Amato, ahli hukum laut dari Northwestern University, menyebut tindakan itu sebagai “state piracy”—pembajakan yang dilegalkan negara.

—

Geopolitik Laut dan Gaza

Alfred Thayer Mahan, teoretikus maritim Amerika, pernah menulis: “Siapa menguasai laut, menguasai dunia.” Israel paham benar logika ini. Maka meski Gaza kecil, lautnya dikunci total.

Namun logika ini juga punya celah: laut adalah ruang yang paling sulit dikuasai sepenuhnya. Ombaknya menolak monopoli. Dan di situlah flotilla masuk: sebagai celah politik, sebagai simbol moral.

BACA JUGA:  Perahu-perahu Penerobos Benteng Laut Gaza

Sikap Eropa bila Israel Menyerang di Laut

Sejarah mencatat, tiap kali Israel menyerang flotilla di laut lepas, Eropa terguncang.

2010 (Mavi Marmara): Turki memutus hubungan diplomatik dengan Israel, Eropa Barat marah besar.

2024 (Freedom Flotilla Coalition): Norwegia, Spanyol, dan Irlandia mengeluarkan nota protes keras.

2025 (Global Sumud Flotilla): Italia bahkan mengirim kapal perang untuk mengawal warga negaranya, dengan pesan jelas: serangan Israel tidak akan dibiarkan begitu saja.

Artinya, laut memaksa negara-negara Eropa mengambil sikap. Serangan di darat bisa disamarkan sebagai “keamanan”, tetapi serangan di laut lepas langsung terbaca sebagai pembajakan.

—

Refleksi: Laut sebagai Ayat

Al-Qur’an menyebut: “Dan Dialah yang menundukkan lautan agar kamu dapat memakan darinya daging segar dan mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai.” (QS. An-Nahl: 14)

Laut seharusnya rahmat, bukan blokade. Seharusnya jadi ruang rezeki, bukan ruang penjara.

Ketika flotilla berlayar, ia bukan sekadar perjalanan logistik. Ia adalah doa yang menolak laut dipersempit oleh tirani. Ia adalah ayat hidup bahwa gelombang bisa jadi bahtera Musa, bisa jadi kuburan Fir’aun.

—

Epilog: Ombak yang Mengadili

Fir’aun tenggelam di laut. Raja zalim Ashabul Ukhdud juga mati di laut. Sejarah mengajarkan: siapa pun yang menutup jalan kebenaran pada akhirnya ditutup oleh ombak.

Maka Global Sumud Flotilla berlayar dengan keyakinan: mungkin mereka dihadang, mungkin mereka diserang, tetapi mereka sedang menulis sejarah di atas gelombang.

Laut yang sama yang pernah menelan tirani kini menjadi panggung solidaritas global. Pertanyaannya: apakah kita akan berdiri di sisi Musa yang berlayar, atau di sisi Fir’aun yang tenggelam? []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *