Saat Ramai Pengakuan Palestina di PBB, Bisakah Mengisolasi Israel dari FIFA? Belajarlah dari Soekarno

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

1. Ketika Sepak Bola Palestina Diberangus oleh Peluru

NAMA Mohammad al-Satri kini tercatat dalam daftar panjang atlet Palestina yang gugur bukan di lapangan hijau, melainkan di tanah berdebu Gaza. Ia bukan kalah karena peluit wasit, tetapi roboh oleh peluru pasukan pendudukan Israel. Al-Satri, seorang striker andalan Klub Layanan Al-Nuseirat, ditembak saat menunggu bantuan kemanusiaan di barat laut Rafah. Ia berharap mendapat tepung dan makanan pokok, tetapi justru bertemu ajal.

Beberapa minggu sebelumnya, Suleiman Al-Obeid, bintang yang dijuluki “Pele Palestina”, juga terbunuh. Padahal, ia adalah simbol kegembiraan, talenta, dan kebanggaan olahraga Palestina.

Apa arti sebuah pertandingan sepak bola bila stadion dihancurkan, bila pemainnya satu per satu dikubur di bawah reruntuhan, bila anak-anak yang bercita-cita menjadi pesepakbola hanya menyentuh bola di sela reruntuhan bangunan?

Presiden Asosiasi Sepak Bola Palestina, Jibril Rajoub, mencatat: sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 774 atlet dan ofisial olahraga terbunuh. Termasuk 355 pemain bola, 277 anggota federasi olahraga, 142 pramuka, dan lebih dari seratus lainnya hilang. Ia menyebut ini “bencana yang belum pernah terjadi sebelumnya” dalam sejarah olahraga modern.

Namun, FIFA—badan sepak bola dunia—tetap bungkam.

—

2. Genosida yang Menghancurkan Lebih dari Sekadar Stadion

Sejak 7 Oktober 2023, Israel menggempur Gaza dengan dukungan penuh Amerika Serikat. Korban telah melampaui 65.000 jiwa, sementara 165.000 lebih terluka. Sebagian besar penduduk Gaza terusir dari rumah mereka. Infrastruktur porak-poranda. Bahkan lembaga olahraga dan stadion tak luput dari sasaran bom.

Di sinilah paradoks muncul: FIFA begitu cepat menghukum Rusia dengan larangan tampil di kompetisi internasional setelah invasi ke Ukraina. Namun, ketika Israel membombardir Gaza, membunuh atlet, menghancurkan klub, FIFA memilih diam. Standar ganda inilah yang kini dipertanyakan dunia.

Apakah FIFA sekadar menjadi lembaga bisnis raksasa yang tunduk pada politik, atau masih punya sisa keberanian untuk berdiri di atas prinsip olahraga sebagai jembatan perdamaian?

—

3. Stadion yang Berubah Menjadi Mimbar Protes

Suasana stadion kini tak lagi netral bagi tim Israel.

Di berbagai pertandingan Eropa, penonton membelakangi lapangan saat lagu kebangsaan Israel dikumandangkan.

Spanduk besar bertuliskan “Stop Killing Children. Stop Killing Civilians” terbentang di Udine, Italia, sebelum laga UEFA Super Cup.

Di Norwegia, Federasi Sepak Bola menyumbangkan hasil pertandingan melawan Israel untuk bantuan Gaza.

Di Italia, pelatih Gennaro Gattuso menyatakan dengan penuh emosi bahwa olahraga tak boleh menjadi legitimasi genosida.

Di banyak stadion, tim Israel diperlakukan seperti pariah, bukan lawan yang dihormati. Pemain Israel sendiri mengeluhkan bahwa di mana pun mereka bermain, hinaan dan ejekan menanti. Ironisnya, semua itu lahir bukan karena propaganda, tetapi karena kemarahan dunia terhadap kebiadaban negara yang mereka wakili.

—

4. Soekarno dan Keberanian Menghadang Israel

Indonesia pernah menghadapi dilema serupa. Pada 1957, Indonesia diundang FIFA untuk tampil di Piala Dunia, namun undian menempatkan lawan: Israel. Bung Karno dengan tegas menolak. Bukan karena tidak siap bertanding, melainkan karena prinsip: Indonesia tak mau memberi legitimasi pada negara penjajah.

Bung Karno tahu betul, olahraga bukan sekadar permainan bola. Ia bisa menjadi panggung politik, diplomasi, sekaligus moralitas bangsa.

Penolakan Indonesia membuat FIFA marah, bahkan memberi sanksi. Tetapi sejarah membuktikan: justru sikap tegas itu mengangkat martabat Indonesia di mata bangsa-bangsa yang tertindas. Bung Karno menegaskan bahwa olahraga tidak boleh mengkhianati nurani.

Kini, pertanyaan yang sama kembali menghantui: beranikah FIFA mengambil sikap seperti Indonesia di era Bung Karno?

—

5. PBB, FIFA, dan Politik Standar Ganda

Saat ini, gelombang pengakuan Palestina di PBB semakin deras. Negara-negara Eropa yang sebelumnya bungkam, mulai berani mengakui kedaulatan Palestina. Namun, di ranah olahraga, Israel masih diperlakukan normal.

Bagaimana mungkin dunia mengakui Palestina sebagai negara, tetapi tetap membiarkan Israel berkompetisi seolah tak terjadi apa-apa?

Bukankah FIFA pernah membuktikan kekuatannya? Afrika Selatan dulu diisolasi dari olahraga internasional selama era apartheid. Rusia pun dilarang tampil hanya karena invasi. Lalu, mengapa Israel dibiarkan, padahal tuduhan genosida jauh lebih kejam dan sistematis?

Apakah karena ada lobi politik? Ataukah karena ada bayang-bayang kekuatan Amerika yang mengendalikan lembaga olahraga dunia?

—

6. Bola, Darah, dan Nurani Dunia

Seorang anak Gaza menendang bola di antara reruntuhan rumahnya. Sepotong kain dijadikan gawang, dan suara bom menjadi latar belakang permainan. Di wajahnya ada senyum, tapi di matanya ada luka.

Apa arti sebuah Piala Dunia ketika di satu belahan dunia, sepak bola dimatikan dengan darah?

Kita tak boleh lupa, olahraga lahir dari semangat kemanusiaan: untuk mempertemukan, bukan memisahkan; untuk membangun damai, bukan melegitimasi perang.

Jika FIFA masih bungkam, justru rakyatlah yang bicara. Penonton yang memboikot, suporter yang mengibarkan spanduk, pelatih yang berani angkat suara. Inilah “boikot moral” yang lahir dari nurani kolektif.

—

7. Refleksi: Dari Gaza untuk Dunia

Di hadapan sejarah, sikap diam adalah keberpihakan. FIFA kini diuji: apakah berani berdiri di sisi korban, atau terus tunduk pada tekanan politik.

Indonesia, dengan pengalaman Bung Karno, punya warisan moral yang bisa jadi inspirasi dunia. Kita pernah menolak bermain melawan Israel. Mengapa kini kita tidak memimpin kembali seruan untuk mengisolasi Israel dari olahraga internasional?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting direnungkan:

Apakah dunia rela menonton sepak bola sementara di Gaza stadion-stadion hancur?

Apakah kita masih bisa bersorak gol ketika ratusan atlet Palestina dikubur tanpa nisan?

Apakah sebuah pertandingan lebih berharga daripada keadilan bagi sebuah bangsa?

BACA  JUGA: Vatikan, Roma, dan Hati Italia yang Berdenyut untuk Palestina

8. Penutup: Saat Bola Harus Bicara

Sejarah selalu mencatat, bukan hanya siapa yang menang di lapangan, tetapi juga siapa yang berani berdiri di pihak yang benar.

Dulu Bung Karno memilih martabat bangsa di atas trofi. Kini, giliran dunia olahraga yang diuji. Apakah FIFA berani mengisolasi Israel, atau justru menutup mata?

Bola sudah ada di kaki kita. Tinggal kita yang menentukan: menendangnya ke arah kemanusiaan, atau membiarkan ia terhenti di tengah lapangan, diselimuti darah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *