Bisakah Amerika Menjadikan Normalisasi Arab dengan Israel sebagai Proses Integrasi Israel ke Timur Tengah?

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

PERTANYAAN  ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya menggugah lapisan-lapisan terdalam dari sejarah, politik, ideologi, dan psikologi kawasan. Ia tidak hanya berbicara tentang diplomasi meja bundar atau perjanjian yang ditandatangani di hadapan kamera. Ia menyentuh luka lama yang belum kering, menyapa identitas spiritual yang terikat tanah, dan meraba denyut memori kolektif jutaan manusia.

—

1. Luka Historis yang Belum Sembuh

Timur Tengah bukan sekadar bentangan pasir dan gurun, melainkan mosaik sejarah. Sejak ribuan tahun lalu, ia dilintasi kafilah dagang, dilukis oleh jalur rempah, dan dijaga oleh kota-kota suci. Tetapi sejak 1948, peta itu retak oleh sebuah tragedi: Nakba.

Ratusan ribu orang Palestina diusir, desa-desa mereka dihancurkan. Sejarawan Ilan Pappé menegaskan dalam The Ethnic Cleansing of Palestine bahwa berdirinya Israel adalah proyek kolonial, bukan sekadar lahirnya sebuah negara baru. Maka wajar jika banyak bangsa Arab memandang Israel sebagai tubuh asing yang ditanamkan Barat pasca-Holocaust.

Di atas luka seperti ini, rekonsiliasi bukanlah perkara teknis. Ia ibarat membangun rumah megah di atas puing-puing tanpa membersihkannya lebih dulu. Rumah itu mungkin berdiri, tapi fondasinya rapuh.

—

2. Politik: Normalisasi vs Integrasi

Mesir dan Yordania lebih dulu menormalisasi hubungan dengan Israel. Lalu, lewat Perjanjian Abraham, UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan ikut bergabung. Donald Trump menjualnya sebagai “perdamaian baru”.

Tetapi normalisasi bukanlah integrasi.

Normalisasi hanya kontrak politik: saling membuka kedutaan, menjalin dagang, atau tukar teknologi. Integrasi menuntut lebih jauh: penerimaan sosial, kultural, bahkan emosional.

Edward Said dalam The Question of Palestine mengingatkan, Israel berusaha hadir sebagai bagian sah kawasan, tetapi jalannya adalah dominasi, bukan dialog. Normalisasi yang lahir dari kepentingan elit—keamanan, ekonomi, teknologi—jarang menyentuh hati rakyat.

Selama Israel masih menjalankan kebijakan apartheid terhadap Palestina (istilah yang dipakai Amnesty International dan Human Rights Watch), bagaimana mungkin dunia Arab melihatnya sebagai mitra sejajar, bukan penjajah?

—

3. Dimensi Ideologis dan Agama

Timur Tengah punya fondasi spiritual yang tak bisa diabaikan. Palestina, dengan Masjid Al-Aqsha, adalah simpul iman umat Islam. Kota itu bukan sekadar lokasi, tapi poros spiritual.

Profesor Rashid Khalidi menyebut Palestina sebagai ruang sakral yang tak terpisahkan dari identitas umat. Integrasi Israel tanpa solusi Palestina sama artinya dengan mengajak orang duduk semeja, sementara kursi sucinya masih direbut paksa.

Bahkan, sebagian komunitas Kristen Timur menilai Israel bukan kelanjutan alami sejarah kawasan, melainkan entitas asing. Maka, isu ini melampaui Islam-Israel; ia adalah benturan peradaban.

—

4. Psikologi Kolektif: Luka yang Menurun

Integrasi tidak hanya soal perjanjian, tapi juga tentang hati. Generasi demi generasi Arab tumbuh dengan memori luka: tank yang melintas di Gaza, kamp pengungsian, Intifada anak-anak yang melempar batu.

Avishai Margalit menyebutnya memori moral—ingatan yang diwariskan dari ayah ke anak, dari doa ibu ke cucunya. Ingatan ini membentuk identitas, bahkan tanpa perlu membaca buku sejarah.

Bagaimana mungkin orang menerima tetangga yang menendangnya keluar dari rumahnya sendiri? Pertanyaan sederhana ini terus menggema, menutup jalan integrasi.

—

5. Mengapa Israel Lebih Dekat ke Eropa dalam Seni dan Olahraga?

Coba kita lihat panggung seni dan olahraga. Tim sepak bola Israel bermain di UEFA, bukan Asia. Senimannya lebih banyak muncul di festival Eropa ketimbang Arab.

Ada dua sebab utama. Pertama, politik penolakan. Sejak awal, negara Arab menolak kehadiran Israel di forum regional. Kedua, identitas kultural. Israel dibangun oleh diaspora Yahudi Eropa, dan sejak awal menempatkan diri sebagai “markas Barat di Timur Tengah” (Shlomo Sand, The Invention of the Jewish People).

Karena itu, panggung Eropa terasa lebih “natural” bagi Israel dibanding panggung Arab. Bahkan dalam seni dan olahraga, kita melihat keterputusan yang sama.

—

6. Abraham Accords: Normalisasi yang Dipaksakan

Donald Trump menggagas Abraham Accords dengan narasi optimis: “perdamaian baru.” Tetapi bagi banyak orang Arab, ia justru menambah pahit.

Dr. Hanan Ashrawi menyebutnya normalisasi di atas penderitaan orang lain. Bagaimana mungkin disebut perdamaian bila Gaza tetap terkepung, dan Yerusalem masih di bawah bayang pendudukan?

Israel mungkin berhasil menembus pintu istana, tetapi sulit menembus hati rakyat. Perjanjian politik bisa dipaksakan, tetapi rekonsiliasi jiwa tidak bisa.

—

7. Jalan Tengah: Syarat Integrasi Sejati

Secara teoritis, integrasi mungkin terjadi. Tetapi syaratnya jelas:

1. Mengakhiri pendudukan dan memberi Palestina negara merdeka.

2. Mengakui Nakba, bukan menutupinya.

3. Berubah dari entitas kolonial menjadi negara normal.

Tanpa itu, integrasi hanya sebatas dokumen di meja diplomat, bukan kenyataan di jalanan.

—

8. Refleksi: Menang Melawan Palestina, Kalah Melawan Diri Sendiri

Ami Ayalon, mantan kepala intelijen Israel, pernah berkata: “Kita bisa menang melawan Palestina, tapi kita bisa kalah melawan diri kita sendiri.”

Kalimat ini menggambarkan paradoks Israel. Secara militer, ia bisa memaksa. Secara diplomasi, ia bisa menormalisasi. Tetapi tanpa keadilan, ia tetap asing di tanah yang dipijaknya.

Integrasi sejati bukan sekadar jabat tangan pemimpin, melainkan doa seorang ibu yang bisa pulang ke rumahnya.

BACA JUGA:  Bila Israel Runtuh, Kemana Perginya Yahudi?

9. Kesimpulan: Bayangan Semu

Bisakah Amerika menjadikan normalisasi Arab-Israel sebagai jalan integrasi?

Jawabannya: bisa secara formal, sulit secara substansial. Bisa di atas kertas perjanjian, tetapi rapuh dalam kenyataan.

Selama Palestina masih ditindas, integrasi hanyalah bayangan semu. Timur Tengah mungkin dipaksa tersenyum di depan kamera, tetapi hatinya tetap berdarah.

—

Epilog

Timur Tengah adalah tanah doa. Ia menunggu hari ketika Yerusalem berhenti menjadi perebutan, dan kembali menjadi rumah doa bagi semua.

Untuk sampai ke sana, dibutuhkan keberanian moral: mengakui luka, dan menolak hidup di atas penderitaan orang lain.

Sampai syarat itu terpenuhi, integrasi Israel ke Timur Tengah akan tetap menjadi pertanyaan yang menggantung: sebuah kemungkinan yang selalu dibayangi oleh sejarah, politik, ideologi, dan psikologi. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *