Memo Kericuhan yang Bocor: Drama Politik dan Militer Israel

Nasrulloh Baksolahar
6 Min Read
Foto: Freepik

BAYANGKANLAH sebuah ruang tertutup di Yerusalem, lampu temaram, meja panjang, dan dokumen bersampul merah dengan stempel “Sangat Rahasia.” Di atasnya, tanda tangan Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, tercetak tegas. Dokumen itu bukan sekadar laporan rutin. Ia adalah memo peringatan. Isinya jelas: operasi IDF di Kota Gaza tidak memiliki tujuan politik akhir.

Memo itu diserahkan langsung kepada Perdana Menteri Benjamin Netanyahu beberapa minggu sebelum serangan terbaru dimulai. Zamir menulis dengan nada getir: “Para tentara IDF kembali ke tempat yang sama tanpa tujuan. Setiap operasi membutuhkan arah politik. Tanpa itu, nyawa tentara dan sandera hanya dipertaruhkan sia-sia.”

Namun, memo itu bocor. Dan begitu sampai ke publik, ia menjadi bara yang menyulut kemarahan — dari orang tua tentara, dari oposisi politik, bahkan dari sebagian kalangan militer sendiri.

—

Orangtua yang Marah, Anak yang Jadi Taruhan

Seorang ibu, matanya sembab, berbicara di layar Channel 13:
“Menurut Kepala Staf sendiri, anak-anak kami dikirim untuk mati tanpa tujuan. Apakah nyawa mereka hanya angka di laporan?”

Suara lain menyahut, seorang ayah veteran perang:
“Sudah cukup. Saatnya kami, orangtua para tentara, bangkit. Perang ini tak punya arti.”

Mereka bukan sekadar protes. Mereka merasa dikhianati oleh para pemimpin yang mengobarkan perang tanpa arah.

—

Retakan di Tubuh Kekuasaan

Kemarahan itu menggaung ke parlemen. Yair Golan, ketua Partai Demokrat sekaligus mantan wakil kepala staf IDF, menuding Netanyahu sengaja mempertahankan Hamas tetap hidup demi alasan politik pribadi.

“Ini bukan lagi pemerintahan Yahudi atau Zionis,” tulisnya getir. “Ini pemerintahan darah dan kebencian.”

Sementara itu, di ruang kabinet keamanan, nada sarkastis Zamir menggema:
“Selamat pagi, tuan-tuan. Anda adalah kabinet pada 7 Oktober. Sekarang baru bicara soal mengalahkan Hamas? Di mana Anda waktu itu? Tanggal 8? Tanggal 9? Baru sekarang ingat setelah dua tahun?”

Kalimatnya menusuk. Ia bukan sekadar menegur, tapi menelanjangi kelalaian politik yang menuntut harga terlalu mahal: darah para tentara.

—

Pertengkaran dengan Menteri Pertahanan

Bukan hanya Netanyahu, Zamir juga kerap bentrok dengan Menteri Pertahanan Israel, Yoav Katz. Perselisihan mereka bahkan pernah menyerempet soal remeh tapi berbahaya: penunjukan pejabat senior tanpa konsultasi. Katz menuduh Zamir melewati kewenangannya. Zamir menepis dengan dingin.

Ketegangan itu berlangsung beberapa hari, sebelum akhirnya diumumkan kompromi: Katz menyetujui hampir semua pilihan Zamir, kecuali dua posisi. Namun luka di balik kompromi itu tak benar-benar sembuh.

Di balik layar, publik mulai bertanya-tanya: apakah negara ini masih dipimpin, atau sudah terseret dalam pertengkaran pribadi di puncak kekuasaan?

—

Politik Rahasia Netanyahu

Di sisi lain, Netanyahu tampak memainkan kartu berbeda. Saat memo Zamir bocor, ia sedang mempersiapkan pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Washington. Topiknya besar: kerangka perdamaian untuk mengakhiri perang.

Namun yang mengejutkan, dokumen kerangka kerja itu bahkan tidak dibagikan kepada Zamir ataupun kabinet keamanan. Netanyahu memilih lingkaran kecil: Ron Dermer, penasihat strategisnya, dan Roman Gofman, sekretaris militernya.

Cara kerja ini mengingatkan pada Abraham Accords dulu: kerahasiaan penuh, bahkan dari sebagian besar pejabat senior. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar gaya kepemimpinan. Ini adalah cara Netanyahu mempertahankan kendali, meskipun dengan mengorbankan transparansi.

—

Memo yang Menjadi Film

Kericuhan memo bocor ini membuat banyak pengamat menyamakan peristiwa tersebut dengan sebuah film politik. Semua elemen ada: memo rahasia, pertempuran ego antara militer dan sipil, orang tua yang marah, oposisi yang berteriak, dan seorang perdana menteri yang menyusun strategi di balik pintu tertutup.

Seperti dalam sebuah adegan film, kita bisa membayangkan:

Kamera menyorot wajah Zamir yang lelah, menandatangani memo dengan tangan bergetar.

Netanyahu duduk di kursinya, memo itu di atas meja, tapi matanya menatap jauh, ke arah Gedung Putih yang menunggu di depan.

Di luar, orang tua tentara berteriak di jalanan Yerusalem: “Hentikan perang yang tak punya arti!”

Apakah film ini akan berakhir dengan resolusi damai, atau dengan babak baru dari tragedi?

BACA JUGA:  Bila Israel Runtuh, Kemana Perginya Yahudi?

Refleksi: Perang Tanpa Tujuan

Memo ini menyingkap sebuah ironi besar. Israel, yang selama puluhan tahun mengklaim dirinya negara dengan strategi militer jitu, kini menghadapi kenyataan pahit: perang bisa saja berjalan tanpa tujuan politik.

Dalam sejarah, perang yang kehilangan arah selalu membawa kehancuran, bukan kemenangan. Perang Vietnam bagi Amerika, Afghanistan bagi Uni Soviet — semuanya berakhir dengan luka dan kekosongan.

Mungkin itulah yang hendak dikatakan Zamir lewat memo itu: “Tanpa visi politik, tentara hanya pion.”

—

Akhir yang Masih Terbuka

Hari ini, memo itu telah menjadi simbol: simbol keretakan antara Netanyahu dan militernya, simbol kegelisahan orang tua tentara, simbol oposisi yang semakin keras, simbol negara yang tengah kehilangan kompas moralnya.

Seperti sebuah film yang belum menuliskan akhir, Israel berdiri di persimpangan: apakah akan terus mempertaruhkan nyawa di Gaza tanpa arah, atau berani merumuskan tujuan politik yang jelas?

Di balik layar, satu hal pasti: bocornya memo Zamir bukan sekadar insiden. Ia adalah cermin. Dan cermin itu memaksa seluruh bangsa melihat wajahnya sendiri — apakah masih ada tujuan, atau hanya darah yang mengalir tanpa arti. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *