PERNAHKAH kita merenung, mengapa sesuatu yang sama bisa menjadi wajah yang berbeda bagi manusia yang berbeda? Air bisa menjadi keselamatan bagi Musa, tapi menjadi kuburan bagi Firaun. Angin bisa menjadi kendaraan bagi Sulaiman, tapi menjadi bencana bagi kaum ‘Ad. Api bisa menjadi siksa bagi para durhaka, tetapi menjadi kesejukan bagi Ibrahim.
Al-Qur’an dengan indah menghadirkan pola ini: apapun yang berada di tangan orang kafir, durhaka, dan menentang Allah, akan berujung bencana. Sebaliknya, apapun yang berada di tangan mukmin akan menjadi rahmat.
Mari kita telusuri kisah-kisahnya, sambil mengikatnya dengan tafsir para ulama dan jejak sejarah manusia.
—
1. Harta: Qarun yang Ditelan Bumi, dan Utsman bin ‘Affan yang Menghidupi Umat
Qarun adalah simbol harta yang berubah menjadi bencana. Allah menggambarkan betapa kuncinya saja berat dipikul oleh orang-orang kuat. Namun harta itu tidak membuatnya bersyukur, malah menumbuhkan kesombongan.
“Maka Kami benamkan dia beserta rumahnya ke dalam bumi…” (QS. Al-Qashash: 81).
Al-Qurthubi menafsirkan, Allah ingin menunjukkan bahwa harta tanpa syukur adalah kehinaan. Ibnu Katsir menambahkan, Qarun adalah contoh orang yang tahu kitab Taurat, tapi ilmunya tidak mencegah kesombongan.
Bandingkan dengan Utsman bin ‘Affan, sahabat Nabi ﷺ. Harta di tangannya menjadi rahmat. Ia membeli sumur Raumah di Madinah lalu mewakafkannya untuk kaum Muslim. Ia membiayai pasukan di Tabuk dengan 1000 unta. Sejarah mencatat, harta di tangan Utsman bukanlah beban, tetapi aliran pahala.
—
2. Air: Rahmat bagi Musa, Azab bagi Firaun
Air adalah nikmat universal, namun lihatlah perbedaan wajahnya.
Ketika Musa bersama Bani Israil di depan laut, Allah membelahnya: “Maka terbelahlah ia, dan tiap-tiap belahan seperti gunung yang besar.” (QS. Asy-Syu‘ara: 63).
Air yang sama menjadi jalan keselamatan bagi kaum beriman. Tetapi ketika Firaun masuk dengan pasukan, laut menutup dan menenggelamkan mereka. Ibnu Katsir menulis: Allah memperlihatkan dalam satu momen, rahmat dan azab, pada objek yang sama.
Sejarah modern pun memperlihatkan hal serupa. Bendungan atau kanal bisa menjadi rahmat bila dikelola dengan adil, seperti sistem irigasi Andalusia yang membuat Granada subur. Tetapi bisa menjadi bencana bila salah urus, seperti jebolnya Bendungan Ma’rib di Yaman, yang meruntuhkan kejayaan Saba’.
—
3. Angin: Kendaraan bagi Sulaiman, Topan bagi Kaum ‘Ad
Allah menganugerahkan angin kepada Sulaiman: “Dan (Kami tundukkan) bagi Sulaiman angin yang berhembus dengan izin-Nya, yang berjalan sesuai perintahnya ke negeri yang Kami berkahi.” (QS. Al-Anbiya: 81).
Imam Ar-Razi menafsirkan, angin itu bukan sekadar metafora, melainkan kendali peradaban. Sulaiman memanfaatkan angin untuk perjalanannya, juga untuk memperkuat kerajaan yang tunduk pada wahyu.
Bandingkan dengan kaum ‘Ad, yang justru ditimpa angin topan: “Kami meniupkan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus-menerus.” (QS. Al-Haqqah: 6).
Sejarawan Islam, Ath-Thabari, mencatat bahwa kaum ‘Ad adalah bangsa yang kuat dan sombong. Mereka menganggap angin sebagai sahabat, namun justru menjadi musuh ketika kesombongan menutup mata mereka dari Allah.
—
4. Api: Panas bagi Kafir, Sejuk bagi Ibrahim
Ketika Ibrahim dihukum kaumnya dengan api, Allah membalikkan keadaan: “Kami berfirman: ‘Hai api, jadilah engkau dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.’” (QS. Al-Anbiya: 69).
Al-Qurthubi menyebut, api yang biasanya membakar justru tunduk pada perintah Allah. Inilah rahasia iman: sesuatu yang seharusnya membinasakan bisa menjadi rahmat.
Sejarah mencatat, api juga bisa menjadi simbol bencana besar, seperti kebakaran Roma atau penyerbuan Mongol yang membakar Baghdad. Namun api di tangan peradaban beriman menjadi cahaya: lentera masjid, obor ilmu di perpustakaan Andalusia, dan api kecil di laboratorium Ibnu Haytham yang menyingkap rahasia cahaya.
—
5. Banjir Nuh: Air Bah yang Membinasakan, Bahtera yang Menyelamatkan
Kaum Nuh menolak dakwah, lalu air hujan dan mata air bumi bertemu dalam banjir besar. “Maka bertemulah air itu untuk suatu urusan yang telah ditetapkan.” (QS. Al-Qamar: 12).
Ibnu Katsir menggambarkan, air turun dari langit dan keluar dari bumi seperti panci yang mendidih. Tetapi di tengah bencana itu, bahtera menjadi rahmat.
Bagi yang mendustakan, air adalah kematian. Bagi yang beriman, air adalah penyelamat. Tafsir Al-Maraghi menyebut, bahtera Nuh adalah simbol jamaah mukmin yang menjadi benteng di tengah banjir fitnah.
—
6. Kebun Subur: Surga bagi Syukur, Neraka bagi Sombong
Dalam QS. Al-Kahfi (ayat 32–42), Al-Qur’an menghadirkan kisah dua pemilik kebun. Yang satu bersyukur, yang lain sombong.
Pemilik yang sombong berkata: “Aku lebih banyak harta daripadamu dan lebih kuat pengaruhnya.” (QS. Al-Kahfi: 34).
Namun kebunnya hancur seketika. Ibnu Katsir menegaskan: kebun bukanlah surga dunia, tetapi ujian syukur.
Sejarah mengulanginya. Andalusia dengan kebun-kebunnya adalah rahmat saat diisi iman dan ilmu. Tetapi ketika terjebak kemewahan dan perpecahan, kebun itu ditinggalkan sejarah, menjadi reruntuhan Alhambra.
—
7. Perhiasan Laut: Nikmat bagi Syukur, Tipuan bagi Durhaka
Allah berfirman: “Dialah yang menundukkan lautan agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar, dan mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai.” (QS. An-Nahl: 14).
Nikmat laut bisa menjadi rahmat bila manusia bersyukur. Namun laut juga menjadi bencana bila dijadikan sumber kesombongan. Firaun yang merasa menguasai sungai Nil akhirnya binasa di laut.
Sejarah maritim pun membuktikan: bangsa-bangsa yang beriman menjadikan laut sebagai jalan dakwah dan perdagangan, seperti pelayaran Muslim sampai ke Nusantara. Sebaliknya, bangsa yang sombong menjadikan laut sebagai jalan kolonialisme dan penjarahan, melahirkan luka panjang sejarah.
—
8. Pelajaran dari Ulama dan Sejarah
Para mufassir sepakat: segala nikmat itu netral. Yang membuatnya rahmat atau bencana adalah hati pemiliknya.
Imam Ghazali menulis dalam Ihya Ulumuddin: harta, kekuasaan, bahkan ilmu, bisa menjadi ni‘mah (kenikmatan) bila membawa kepada Allah, tapi menjadi niqmah (musibah) bila menjauhkan dari-Nya.
Ibnu Taimiyyah menekankan: dunia ini ibarat pisau. Di tangan ahli kebaikan, ia memotong dengan manfaat. Di tangan penjahat, ia melukai.
Sejarah Islam menunjukkan: ketika iman dan adab menyertai nikmat, lahirlah peradaban Baghdad, Andalusia, dan Istanbul. Tetapi ketika iman hilang, nikmat berubah menjadi sumber keruntuhan.
BACA JUGA: Bagaimana Kikir Melenyapkan Harta, Bukan Menghimpunnya?
Refleksi: Bagaimana dengan Kita?
Kini kita pun memegang berbagai nikmat: teknologi, informasi, energi, bahkan kekuasaan. Pertanyaan besarnya: apakah semua itu akan menjadi rahmat atau bencana?
Bila teknologi dipakai untuk kebaikan, ia rahmat. Tetapi bila dipakai untuk propaganda kebatilan, ia bencana. Bila energi dipakai untuk membangun kesejahteraan, ia rahmat. Bila dipakai untuk perang dan kerakusan, ia bencana.
Dalam doa Nabi ﷺ: “Ya Allah, jadikanlah dunia ini di tangan kami, jangan di hati kami.” (HR. Tirmidzi).
Penutup: Dua Wajah Nikmat
Al-Qur’an mengajak kita melihat dunia dengan jernih: nikmat adalah ujian, bisa jadi rahmat, bisa jadi bencana. Laut yang sama bisa menyelamatkan Musa dan menenggelamkan Firaun. Api yang sama bisa membakar kaum kafir dan menyejukkan Ibrahim. Angin yang sama bisa membawa Sulaiman ke negeri berkah dan menghancurkan kaum ‘Ad.
Maka, kuncinya ada pada iman dan syukur. Dengan iman, nikmat apapun menjadi rahmat. Dengan kufur, nikmat apapun menjadi bencana.
“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu kufur, sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7). []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
