Petro Kolombia Usir Diplomat Israel, Turki Mengecam setelah 20 Kapal Perang Israel Serbu Satu per Satu Armada Global Sumud

Nasrulloh Baksolahar
8 Min Read
Foto: Freedom Flotilla

Prolog: Laut yang Berbicara

MALAM itu laut seperti berbisik. Ombaknya tenang, tapi di balik ketenangannya tersimpan ketegangan. Armada Global Sumud—kapal-kapal kecil dengan hati besar—telah memasuki sebuah zona yang mereka sebut merah. Zona itu bukan sekadar koordinat di peta, melainkan garis takdir: apakah mereka akan menembus Gaza, atau ditelan oleh tirani di tengah laut.

Laut tahu, ia pernah menyaksikan kapal perang berlayar angkuh, pernah mendengar doa para pelaut yang ketakutan, pernah menyimpan jasad yang dilempar ke dalam perutnya. Kali ini, laut kembali dipaksa menjadi saksi: kemanusiaan dilawan oleh meriam, cinta dilawan oleh senjata.

—

Misi Kemanusiaan yang Disebut Sumud

Sumud—sebuah kata Arab yang berarti keteguhan, ketabahan, bertahan meski dihantam badai. Nama itu melekat pada armada berisi lebih dari empat puluh kapal kecil yang membawa makanan, obat-obatan, air bersih, susu bayi. Tidak ada misil, tidak ada mesiu. Hanya ada harapan yang dikemas dalam kotak bantuan.

Di dalamnya ada wajah-wajah dari banyak bangsa: Brasil, Indonesia, Italia, Swedia, Norwegia. Ada aktivis, jurnalis, dokter, dan bahkan Greta Thunberg, gadis yang selama ini menyuarakan bumi, kini bersuara untuk Gaza. Mereka semua tahu risiko yang menanti. Tapi hati mereka lebih berat daripada rasa takut.

BACA JUGA: Walaupun Tidak Bisa Menghentikan Kekejaman Penjajah Israel, Apa Makna Dukungan Simbolik Bagi Palestina?

Malam di Zona Merah

Tanggal 2 Oktober 2025, dini hari. Armada Sumud telah mencapai titik yang mereka sebut R3, seratus mil laut dari Gaza. Dari layar navigasi, tampak bayangan hitam kapal-kapal perang Israel, sekitar dua puluh jumlahnya. Mereka berjejer, bagai tembok baja di atas air, menghadang jalan para relawan.

Tiba-tiba, radio terganggu. Suara gemerisik memutus komunikasi. Satu per satu layar CCTV di kapal padam, seperti lampu kota yang dipadamkan di malam hari. Sinyal siaran langsung melemah, hingga hilang sama sekali. Laut seketika menjadi gelap, bukan hanya karena malam, tapi karena upaya membungkam.

Kapal Alma, Sirius, Adara, Huga—satu per satu disergap. Tentara bersenjata lengkap melompat ke dek kapal sipil, merampas kendali. Air disemprotkan dari meriam ke tubuh para aktivis. Teriakan bercampur doa, tangis beradu dengan perintah kasar.

“Kami hanya membawa susu bayi dan obat-obatan!” teriak seorang aktivis. Namun di telinga tentara, suara itu hanya angin.

—

Suara yang Diputus, Nurani yang Menyala

Siaran langsung Global Sumud yang sebelumnya bisa ditonton publik tiba-tiba berhenti. Ribuan orang yang menyaksikan di Eropa, Asia, Amerika hanya menatap layar kosong. Tapi justru dalam keheningan itu, nurani penonton seakan dipaksa berbicara.

Mengapa kapal yang membawa susu harus dilawan oleh kapal perang? Mengapa air bersih dianggap lebih berbahaya daripada rudal? Mengapa keheningan malam harus dibelah dengan teriakan dan intimidasi?

—

Dialog Tega vs Dialog Nurani

Di antara kepungan itu, masih sempat terjadi sebuah dialog. Thiago Avila, aktivis asal Brasil, mencoba bernegosiasi lewat radio: “Kami adalah misi kemanusiaan yang damai. Kami berada di perairan internasional. Menurut hukum, kalian tak berhak menghentikan kami.”

Dari pihak Israel, jawaban datang dingin, bercampur ancaman: “Jika kalian terus maju, kami akan menghentikan dan menyita kapal kalian.”

Thiago menjawab dengan suara gemetar namun tegas: “Kami membawa makanan, obat-obatan, air bersih, susu bayi. Untuk orang-orang yang kalian biarkan kelaparan di Gaza.”

Hening. Lalu dentuman keras terdengar ketika pasukan Israel memaksa naik ke kapal. Dialog nurani kembali dikalahkan oleh dialog senjata.

—

Dunia yang Berseru

Namun dunia tak diam. Di Kolombia, Presiden Gustavo Petro murka. Ia mengusir semua diplomat Israel yang masih ada di negerinya. “Dua warga Kolombia ditahan secara ilegal di perairan internasional. Mereka harus segera dibebaskan!” ujarnya lantang. Dengan itu, Kolombia menutup pintu diplomasi bagi Israel.

Di Turki, Kementerian Luar Negeri mengeluarkan kecaman keras: “Ini adalah tindakan terorisme, pelanggaran serius hukum internasional, ancaman bagi nyawa warga sipil.” Kata terorisme meluncur bukan dari mulut perlawanan, tapi dari sebuah negara.

Hamas pun bersuara: “Ini bukan sekadar pembajakan, tapi terorisme maritim terhadap warga sipil. Semua pembela kebebasan di dunia harus mengecamnya.”

Di Italia, pelabuhan Livorno menolak kapal Israel bersandar. Tapi ironinya, Angkatan Laut Italia yang awalnya dianggap akan mengawal, justru mencoba mengganggu flotilla. Akhirnya mereka menarik diri, meninggalkan jejak tanda tanya.

Dunia bergolak, tapi Gaza tetap menunggu.

—

Gaza: Wajah Anak yang Menunggu

Bayangkan seorang anak Gaza yang duduk di tenda pengungsian. Perutnya kosong, bibirnya kering. Ia mendengar kabar bahwa kapal-kapal sedang datang, membawa susu dan air bersih. Matanya berbinar, meski tubuhnya lemah.

Namun pada saat yang sama, di tengah laut, susu itu ditahan, air itu disabotase, obat itu disita. Anak itu tetap menunggu. Dalam doanya, ia mungkin berkata: Ya Allah, jika kapal itu tak sampai, jadikanlah malaikat-Mu yang membawa susu untukku.

Kisah anak ini bukan imajinasi belaka. PBB sudah memperingatkan: lebih dari 350 orang tewas akibat kelaparan di Gaza. Dan setiap hari angka itu bertambah. Armada Sumud hanyalah setetes air dalam dahaga besar, tapi bahkan setetes itu pun dianggap ancaman.

—

Sejarah Berulang: Dari Mavi Marmara ke Armada Sumud

Laut Mediterania pernah menyaksikan hal serupa. Tahun 2010, kapal Mavi Marmara yang membawa bantuan juga diserbu. Darah para aktivis mengalir di dek, tubuh mereka jatuh ke laut. Dunia mengecam, tapi pola yang sama berulang hingga kini.

Israel selalu menyebutnya sebagai “provokasi”. Namun dunia tahu: provokasi macam apa yang membawa susu bayi? Provokasi macam apa yang mengantar obat-obatan? Provokasi macam apa yang hanya ingin menyeberang untuk menghapus lapar?

Sejarah ini berulang bukan karena dunia lupa, tapi karena keadilan selalu kalah oleh kekuatan di meja diplomasi. Namun setiap kali sejarah ini berulang, ada lebih banyak hati yang tergerak, ada lebih banyak nurani yang menolak diam.

BACA JUGA: Bila Israel Runtuh, Kemana Perginya Yahudi?

Epilog: Kapal yang Tak Pernah Tenggelam

Mungkin kapal-kapal itu akan ditahan. Mungkin para aktivis akan disandera, dideportasi setelah Yom Kippur. Mungkin logistik akan dirampas, dihanguskan, atau ditumpuk di gudang entah di mana. Tapi ide yang mereka bawa tidak bisa ditahan. Kapal bernama Sumud bukan hanya kayu dan besi, melainkan tekad yang tak bisa ditenggelamkan.

Laut kembali berbisik: Aku telah melihat kapal-kapal karam, tapi aku belum pernah melihat harapan tenggelam. Harapan selalu mengapung, meski dihempas badai.

Di pantai Gaza, anak-anak masih menunggu. Mereka mungkin tak tahu siapa Thiago Avila, siapa Greta Thunberg, siapa aktivis dari Indonesia. Tapi mereka tahu ada orang-orang di luar sana yang berlayar membawa cinta. Itu sudah cukup untuk membuat mereka bertahan satu hari lagi.

Armada Sumud mungkin ditahan. Tapi armada nurani tak pernah bisa ditawan. Sebab selama ada laut, akan selalu ada kapal yang berani berlayar.

—

Kata Penutup

Petro Kolombia mengusir diplomat Israel. Turki menyebut Israel teroris. Hamas menuduh pembajakan. Italia menutup pelabuhan. Semua suara itu bertemu di satu titik: membela nurani. Tapi pada akhirnya, suara yang paling kuat bukanlah suara negara, melainkan suara laut dan anak-anak Gaza yang tetap bertahan.

Itulah makna sejati sumud: teguh, tabah, tak tergoyahkan. Dan sejarah mencatat: meski kapal-kapal bisa dirampas, sumud tidak akan pernah ditawan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *