Genosida di Gaza: Pencipta Konflik Antara Yahudi, Zionisme, Israel, dan Dunia

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Freepik

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang diberikan sebagian dari Al-Kitab beriman kepada kamu; mereka berkata: ‘Kami telah beriman.’ Tetapi apabila mereka mengundurkan diri, mereka mengingkari …” (QS. Ali Imran: 99)

DI Gaza, darah anak-anak tumpah, puing-puing rumah bertebaran, dan sunyi sirine menjadi lagu tragis manusia. Dalam kehancuran itulah muncul sosok “Pemutus” — bukan sekadar figur tunggal, melainkan rangkaian pemisahan historis yang memecah hubungan antara banyak kelompok, ideologi, generasi, dan institusi. Genosida Gaza menjadi titik pemutusan yang menandai revolusi moral dunia: bahwa lama-lama, yang tidak sedang diuji pasti akan runtuh oleh beban keheningannya.

Berikut bagaimana setiap “pemutus” itu bekerja — dan bagaimana dunia merespons.

—

1. Yahudi dengan Zionisme

Zionisme menjanjikan tanah air bagi Yahudi, tetapi di Gaza, janji itu berubah menjadi kutukan. Ketika bom menghantam rumah warga, ketika rezim Israel memerintahkan “penghancuran total”, banyak Yahudi mulai bertanya: apakah ini Zionisme, atau hanya bentuk baru pengkhianatan terhadap ajaran Taurat?

Kelompok Yahudi anti-Zionis seperti Neturei Karta menolak negara Yahudi yang mendirikan kekuasaan melalui darah bangsa lain. Mereka menegaskan bahwa identitas Yahudi bukan nasionalisme etnis, tetapi iman dan moral. Sebagai Rabbi Dovid Weiss pernah bilang: “Zionisme mengubah rumah iman menjadi benteng senjata, dan itu mencederai roh umat Yahudi.”

Dengan demikian, Gaza menjadi pemutus yang memisahkan Yahudi yang mempertanyakan Zionisme dari identitas Zionis yang mereka warisi. Zionisme, yang dulu dianggap simbol kebangkitan Yahudi, kini dilihat sebagai penjajah moral yang memecah hubungan orang Yahudi dengan ajarannya sendiri.

—

2. Diaspora Yahudi dengan Israel

Diaspora Yahudi di Amerika, Eropa, dan belahan dunia lainnya pernah menjunjung Israel sebagai representasi bangsa Yahudi modern. Namun setelah ribuan warga Palestina tewas, survei baru-baru ini menunjukkan perubahan dramatis. Menurut Washington Post, 39 % orang Yahudi Amerika kini mengatakan Israel telah melakukan genosida di Gaza, dan 61 % percaya Israel melakukan kejahatan perang.

Dulu diaspora mendukung Israel tanpa syarat; sekarang banyak di antaranya bertanya: apakah Israel berbicara untuk kami, atau terhadap nurani kami? Pemutus ini menggerus landasan dukungan identitas: bahwa kasih kepada satu bangsa tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan manusia lain.

—

3. Generasi Z dengan Yang Tua

Di Israel sendiri, perbedaan sudut pandang antara generasi muda dan tua semakin mencolok. Kaum muda menyaksikan video dari Gaza lewat media sosial, mendengar tangisan anak-anak, dan mereka malu bahwa pemerintah mereka memerintahkan serangan luar biasa itu. Mereka bertanya: Apakah ini negeriku? Apakah ini moral kita?

Generasi tua masih mempertahankan narasi keamanan, sejarah, dan “hak mempertahankan tanah”. Tetapi Gaza menyeret narasi itu ke medan moral yang lebih dalam. Dalam beberapa kota Israel, demonstrasi diam-diam muncul: mahasiswa Yahudi memprotes kebijakan pemerintah atas nama kemanusiaan. Pemutus ini menciptakan jurang kesadaran: bahwa cinta tanah air tidak boleh mencabut cinta kemanusiaan.

—

4. Kaum Haredim dengan Komunitas Lainnya

Kaum Haredim (Yahudi ultra-ortodoks) secara historis skeptis terhadap Zionisme — sebagian karena mereka percaya bahwa negara Yahudi hanya boleh berdiri ketika Mesias datang. Tindakan militer Israel yang ekstrem membuat sebagian Haredim semakin menjauh dari komunitas Zionis sekuler.

Pemutus ini bukan hanya pemisahan agama-politik, tetapi pemecahan ikatan komunitas: bahwa beberapa orang Yahudi melihat Israel bukan sebagai rumah mereka, melainkan sumber dosa moral yang mengancam identitas keagamaan. Ketika Zionisme menjadi tangisan anak-anak Gaza, banyak Haredim memilih senyap atau protes kecil, memisahkan diri dari kebisingan nasionalisme.

—

5. Sayap Kanan Ekstrem dengan Moderat

Israel hari ini terbagi: di satu sisi, kelompok sayap kanan ekstrem (Ben-Gvir, Smotrich, dan lainnya) yang mendorong kebijakan keras dan ideologi supremasi; di sisi lain, warga “seluler” moderat yang menginginkan solusi damai dan menghormati hukum internasional.

Ketika perang Gaza memuncak, kelompok garis keras bersorak “kemenangan total”, sementara moderat diselimuti rasa malu dan pertanyaan etis. Reuters melaporkan bahwa Netanyahu menghadapi tekanan dari sayap kanan ekstrem saat Trump mendesak akhir perang.

Pemutus ini menandai keterbelahan internal dalam Israel sendiri: antara tanāhan supremasi dan civitas kemanusiaan.

—

6. Proyek Demokrasi menjadi Otoriter

Negara-negara yang dulu mengklaim diri sebagai lentera demokrasi kini diuji oleh perang Gaza. Di Amerika Serikat, dukungan tanpa syarat terhadap Israel menjadi bagian retorika politik. Pemerintah yang seharusnya membatasi kekuasaan justru memperkuat aliansi militer dan diplomasi tanpa tuntutan keadilan.

Fenomena yang disebut “capture democracy” (demokrasi yang ditangkap oleh elite) bisa dilihat begitu jelas: bantuan militer tanpa akuntabilitas, veto diplomatik, dan penolakan untuk mendesak Israel agar tunduk pada hukum internasional — semua ini menjadikan proyek demokrasi sebagai alat legitimasi kekuasaan militer. Ahli demokrasi memperingatkan bahwa ketika konflik luar negeri digunakan untuk membungkam oposisi dalam negeri, demokrasi itu sendiri menjadi korban.

—

7. Eropa & Timur Tengah dengan Israel

Dulu banyak negara Eropa dan negara-negara Arab memiliki relasi diplomatik atau pragmatis dengan Israel. Namun genosida Gaza mengubahnya: opini publik Eropa dan Timur Tengah menunjukkan kemarahan luar biasa. Vatikan melalui Kardinal Parolin menyebut pemboman di Gaza sebagai “pembantaian yang terus berlangsung.” Reuters melaporkan kritik keras terhadap Israel dari negara-negara Eropa dan sekutu semula.

Di dunia Arab, normalisasi yang dahulu lambat kini terbanting karena rakyat meminta jarak moral terhadap Israel. Hubungan diplomatik menjadi eye-to-eye moral, bukan sekadar strategis.

—

8. PBB dengan Israel

PBB, sebagai simbol hukum internasional, kini terbentur kenyataan kekuasaan absolut Israel dan veto kuat sekutu. Komisi Independen PBB menyimpulkan bahwa Israel melakukan genosida di Gaza dan bahwa pejabat tertinggi Israel—Netanyahu, Herzog, Gallant—telah menghasut pembantaian.

Meski temuan ini kuat, PBB sebagai lembaga politik (RUU, veto, resolusi tak mengikat) terbatas dalam menegakkan keadilan. Pemutus ini melucuti PBB dari kredibilitas moral terhadap Israel—bahwa kadang lembaga dunia diam ketika manusia dibantai.

—

9. Pemutus Hubungan Diplomatik dengan Banyak Negara

Akibat genosida Gaza, banyak negara meninjau ulang hubungan dengan Israel: menghentikan pembelian senjata, mendesak embargo, atau memutus hubungan diplomatik secara terbuka. AP melaporkan bahwa Komisi PBB mendesak negara-negara untuk menghentikan transfer senjata ke Israel.

Beberapa negara telah mengurangi atau menangguhkan kerja sama militer dan diplomatik sebagai bentuk protes moral. Pemutus ini menciptakan isolasi strategis untuk Israel — bahwa tindakan brutal tidak lagi bisa ditutupi oleh aliansi lama.

—

10. Jalinan “Sang Pemutus” yang Menjadi Simfoni Kesadaran

Setiap “pemutus” yang terhampar di atas bukanlah bagian terpisah; mereka membentuk simfoni pemutusan:

Zionisme kehilangan kedudukan moral

Diaspora Yahudi menolak dukungan tanpa syarat

Generasi Z Israel mulai berpaling

Haredim menarik diri dari Zionisme

Sayap kanan ekstrem bertikai dengan warga moderat

Demokrasi domestik dilegitimasi oleh perang

Eropa dan negara-negara Arab melepas ikatan diplomatik

PBB dipermalukan dalam diamnya

Hubungan diplomatik runtuh satu demi satu

Gaza menjadi titik potong — garis di mana masa lalu retak dan masa depan dipertaruhkan.

BACA JUGA:  Gaza yang Dicekik, Mungkinkah Terhapus?

Pendapat Pakar & Bukti Kuat

Komisi Independen PBB menyatakan bahwa Israel telah melakukan genosida di Gaza, menyebut bahwa pejabat tinggi negara itu telah menghasut genosida.

Chris Sidoti, anggota komisi, mengatakan pembunuhan massal di Gaza “berbeda dari genosida lain” karena korban tidak bisa lari; mereka terperangkap.

Komisi menyimpulkan bahwa Israel melakukan empat dari lima tindakan genosida di Gaza: membunuh anggota kelompok, mencederai mental/fisik, menciptakan kondisi untuk kehancuran, dan tindakan yang menghambat kelahiran.

Reuters melaporkan bahwa Israel menolak temuan genosida dan menyebutnya “fitnah.”

—

Penutup: Dari Pemutus Menuju Panggilan Kemanusiaan

Pemutus-pemutus itu bukan hanya pemisahan — mereka adalah panggilan agar kita melihat kembali tali moral yang telah terputus. Gaza memaksa kita bertanya: apakah kebijakan, identitas, dan diplomasi diperoleh dengan harga darah? Apakah eksistensi negara harus bergantung pada penindasan orang lain?

Di akhir, Gaza bukan hanya medan perang—ia menjadi cermin nurani dunia. Siapa pun yang menyebut diri manusia harus memilih: mempertahankan pemisahan kejam, atau membangun sinergi keadilan. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *