“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan kebenaran…” (QS. Al-Hijr: 85)
—
ANGIN musim gugur berembus lembut di Stockholm, membawa aroma kayu lembap dan suara langkah wartawan di halaman Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia. Di ruang konferensi yang sederhana, tiga nama diumumkan—Susumu Kitagawa, Richard Robson, dan Omar Yaghi—ilmuwan dari Jepang, Australia, dan Amerika Serikat. Mereka dianugerahi Hadiah Nobel Kimia 2025, bukan karena menciptakan sesuatu yang bersinar atau berbunyi, tetapi karena menemukan ruang di antara zat, rongga dalam molekul yang tak terlihat mata, yang kini disebut kerangka logam-organik (metal-organic frameworks, atau MOFs).
Materi ini disebut-sebut seperti tas tangan Hermione Granger dalam novel Harry Potter—terlihat kecil di luar, tapi di dalamnya terdapat ruang seluas lapangan sepak bola. Imaji fiksi yang kini menjadi kenyataan kimiawi.
Namun di balik tepuk tangan dan sorotan kamera, tersimpan sebuah pertanyaan yang lebih dalam:
Apakah manusia kini sedang meniru cara Allah mencipta?
Ataukah kita hanya baru memahami sedikit dari rahasia cara semesta bekerja?
—
I. Dari Bola Kayu ke Dunia Molekul
Tahun 1974, di ruang kelas Universitas Melbourne, Richard Robson sedang mengajar tentang struktur molekul menggunakan bola-bola kayu kecil yang ia lubangi untuk mewakili atom. Saat ia menatap titik-titik kecil itu, muncul pertanyaan sederhana namun mengguncang:
“Bagaimana jika kita menghubungkan bukan atom, tetapi molekul-molekul yang lebih kompleks? Apakah ia bisa membentuk dunia baru?”
Pertanyaan itu seperti benih yang jatuh di tanah subur. Ia menunggu waktu.
Butuh lebih dari sepuluh tahun bagi Robson untuk menemukan jawabannya. Di tahun 1980-an, ia akhirnya melihat hasil percobaan: molekul-molekul itu menyusun diri dalam struktur rapi seperti berlian, namun tidak padat—melainkan berpori, penuh ruang kosong. Dalam kekosongan itu, ia melihat potensi: wadah bagi gas, uap air, bahkan energi.
Seolah-olah alam sedang berbisik kepadanya:
“Lihatlah, di antara yang padat ada ruang. Di antara yang penuh, ada kehampaan yang berguna.”
—
II. Sang Pencari “Kegunaan dari yang Tidak Berguna”
Sementara itu, di Kyoto, seorang profesor bernama Susumu Kitagawa menjalani hari-hari panjang di laboratorium. Ia dikenal tidak terburu-buru, tidak terlalu ambisius mengejar hasil. Ia lebih tertarik pada sesuatu yang tampak tidak berguna, karena menurutnya dari sanalah keajaiban sering muncul.
Ketika mendengar tentang penelitian Robson, Kitagawa tidak langsung percaya.
“Terlalu ideal,” katanya waktu itu. “Dunia nyata tidak selalu seindah struktur molekul di papan tulis.”
Namun rasa ingin tahunya lebih kuat dari keraguan. Ia mulai meneliti bagaimana molekul bisa saling mengunci membentuk ruang kosong yang stabil. Tahun 1992, ia memperkenalkan struktur molekul berpori pertama. Dunia sains menganggapnya eksentrik. Para penyandang dana penelitian menolak proposalnya.
Tapi Kitagawa tidak berhenti.
Ia pernah berkata dalam sebuah wawancara, “Tugas ilmuwan bukan membuktikan apa yang berguna hari ini, tapi menemukan apa yang akan menjadi berguna esok hari.”
Lima tahun kemudian, tahun 1997, ia berhasil menciptakan molekul yang mampu menyerap dan melepaskan gas metana, nitrogen, dan oksigen. Dunia terperangah. Struktur yang dulu dianggap tak mungkin kini menjadi nyata.
Ia telah menemukan cara memanfaatkan ruang kosong, sebagaimana Allah menciptakan semesta dari ketiadaan: “Dialah yang menciptakan (segala sesuatu) dari tiada.” (QS. Al-An‘am: 101)
—
III. Dari Yordania ke Arizona: Sang Pemanen Air Gurun
Dan di belahan bumi lain, seorang pemuda Yordania bernama Omar Yaghi datang ke Amerika Serikat di usia lima belas tahun. Ia tumbuh dengan rasa haus akan pengetahuan—dan secara literal, rasa haus akan air di tanah tandus.
Yaghi membaca karya Kitagawa dan Robson, lalu mencoba melangkah lebih jauh. Di Arizona State University, ia menggabungkan ide keduanya menjadi satu sistem baru: MOF-5, struktur logam-organik yang memiliki rongga-rongga besar dan stabil, bahkan ketika dipanaskan hingga 300°C.
Beberapa gram MOF-5 memiliki luas permukaan setara lapangan sepak bola.
Dengan bahan ini, tim Yaghi bisa menyedot air dari udara gurun Arizona. Pada malam hari, material itu menangkap uap air. Ketika fajar datang dan matahari memanaskannya, tetesan air mengalir keluar.
Bayangkan, sebuah bahan yang mampu memanen air dari udara kering—sebuah “sumur kimiawi” di tengah padang pasir.
Sebuah simbol bahwa pengetahuan bisa menjadi bentuk ibadah: menghidupkan bumi yang mati.
“Dan Kami turunkan dari langit air, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu berbagai macam tumbuhan.” (QS. Thaha: 53)
—
IV. Ketika Sains Menyentuh Filsafat
Nobel Kimia 2025 bukan sekadar penghargaan atas penemuan material baru. Ia adalah pintu filsafat—tentang bagaimana manusia belajar memahami “arsitektur ciptaan”.
Kerangka logam-organik (MOFs) memungkinkan manusia meniru cara alam menyusun ruang dan zat. Dengan struktur berpori, MOFs dapat menyimpan gas beracun, menangkap karbon dioksida, mengurai limbah, bahkan menyaring air.
Namun di balik semua manfaat itu, ada pesan yang lebih halus: bahwa kekuatan sains bukan pada kepadatan pengetahuan, tetapi pada ruang kosong di antara ide-ide—tempat di mana imajinasi dan keimanan bisa berdialog.
Seperti halnya rongga dalam molekul, ruang kosong dalam hati manusia adalah tempat bagi kesadaran tumbuh. Di sanalah cahaya pengetahuan bisa masuk.
—
V. Antara Hermionisme dan Hikmah
Heiner Linke, ketua Komite Nobel untuk Kimia, menggambarkan penemuan ini seperti tas tangan Hermione Granger—kecil di luar, luas di dalam. Perumpamaan itu, meski ringan, menyimpan makna mendalam.
Hermione dalam kisah Harry Potter melambangkan kecerdasan dan keberanian moral, dua kualitas yang seharusnya berjalan beriringan dalam ilmu pengetahuan.
Namun jika kita tarik ke dimensi spiritual, “tas tangan Hermione” ini sejatinya melambangkan potensi manusia. Ia kecil, terbatas, namun di dalamnya Allah letakkan keluasan yang tak terhingga.
Bahkan Al-Qur’an memberi petunjuk yang mirip: “Dan di bumi itu terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon kurma yang bercabang maupun tidak. Mereka disirami dengan air yang sama, tetapi Kami lebihkan sebagian dari yang lain dalam rasa.” (QS. Ar-Ra‘d: 4)
Ayat ini seolah berkata: ruang yang sama, air yang sama, tetapi hasilnya bisa berbeda—tergantung pada struktur batin yang menampungnya. Begitu pula manusia dan ilmu: apa yang tampak sama di permukaan, bisa menghasilkan keluasan makna yang berbeda jika struktur jiwanya berpori.
—
VI. Menenun Ilmu dan Etika
Ketika wartawan bertanya kepada Kitagawa tentang mimpinya setelah Nobel, ia menjawab dengan tenang: “Impian saya adalah menangkap udara dan memisahkannya—CO₂, oksigen, air—dan mengubahnya menjadi bahan yang berguna dengan energi terbarukan.”
Ucapan itu tampak sederhana, tetapi sebenarnya adalah manifesto etika sains.
Ia tidak berkata ingin menjadi kaya atau terkenal, tapi ingin menyaring udara—sebuah metafora spiritual untuk menyaring kehidupan dari polusi moral dan keserakahan.
Dalam tradisi Islam, sains selalu berakar pada etika. Imam Al-Ghazali menulis bahwa ilmu tanpa adab akan membawa kerusakan, sebagaimana api tanpa kendali membakar hutan. Maka, penemuan seperti MOFs harus dibaca bukan hanya sebagai kemajuan teknologi, tapi sebagai pengingat akan tanggung jawab manusia menjaga bumi.
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A‘raf: 56)
—
VII. Arsitektur Molekul, Arsitektur Semesta
Para ilmuwan sering berkata bahwa kimia adalah “arsitektur atom”. Tapi dalam dimensi spiritual, ia juga adalah arsitektur makna.
Robson membangun struktur, Kitagawa menambahkan jiwa, Yaghi memberi arah—seperti tiga unsur manusia: jasad, ruh, dan amal.
MOFs tidak hanya menampung gas; ia menampung harapan baru. Ia bisa menyerap karbon dari udara, menampung air dari gurun, dan menyaring racun dari bumi. Dalam dunia yang sedang sesak oleh polusi, ini seperti napas segar yang menandai masa depan ilmu pengetahuan yang lebih beretika.
Namun, seperti tas tangan Hermione, penemuan ini juga mengandung paradoks: kekuatan besar dalam wadah kecil. Ia bisa menjadi rahmat, tapi juga bencana—tergantung siapa yang memegangnya.
Jika digunakan untuk kemaslahatan, ia menyelamatkan bumi. Jika dipakai untuk keserakahan, ia akan menciptakan bentuk baru dari perbudakan energi dan sumber daya.
BACA JUGA: Di Balik Lagu ‘Imagine’ oleh John Lennon
VIII. Dari Nobel ke Nur
Hadiah Nobel adalah penghargaan tertinggi yang bisa diterima ilmuwan. Tapi dalam perspektif Islam, penghargaan sejati bukanlah piala di tangan manusia, melainkan nur (cahaya) dalam hati.
Ketiga ilmuwan ini, tanpa mereka sadari, telah menghidupkan kembali pesan Al-Qur’an bahwa segala sesuatu di alam memiliki hikmah. Bahkan ruang kosong dalam atom adalah tanda kekuasaan Allah yang mencipta keseimbangan di antara yang tampak dan tak tampak.
“Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu.” (QS. Ar-Rum: 22)
Sains tidak lagi berdiri berseberangan dengan wahyu; keduanya kini menatap arah yang sama—menuju pemahaman tentang tata arsitektur ilahi yang menyatukan semua keberadaan.
—
IX. Epilog: Di Antara Zat dan Ruh
Malam turun di Stockholm. Di luar gedung, salju pertama musim gugur mulai turun perlahan. Para jurnalis menulis berita, para ilmuwan tersenyum, dan dunia kembali bergerak. Namun bagi sebagian jiwa yang mau merenung, penghargaan ini bukan sekadar berita sains, melainkan tanda zaman: bahwa manusia semakin dekat memahami rahasia penciptaan, namun tetap jauh dari memahami Sang Pencipta.
Mungkin inilah makna terdalam dari “tas tangan Hermione” dalam dunia kimia:
bahwa di dalam sesuatu yang tampak kecil, tersembunyi keluasan tak terhingga—seperti dalam hati manusia yang, meski kecil, bisa menampung cahaya dari langit.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13) []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
