“Kita tidak mati karena peluru. Kita mati karena dunia memilih untuk tidak melihat.”
— Wael Dahdouh, Kepala Biro Al Jazeera Gaza
1. Prolog: Ketika Kamera Menjadi Perisai
ANGIN laut dari pesisir Gaza berhembus lembut, membawa aroma garam dan debu mesiu. Di antara reruntuhan yang masih berasap, seorang pria tua berdiri memegang kamera retak. Ia menatap langit senja yang merah, lalu berkata pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri,
“Tanpa kamera ini, kami tak punya saksi.”
Di tanah di mana setiap sudutnya bisa menjadi kuburan, jurnalis bukan sekadar pelapor. Mereka adalah saksi mata sejarah, penulis puisi di antara ledakan, dan penjaga terakhir antara kebenaran dan penghapusan.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 184 jurnalis Palestina gugur di Gaza—angka yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern media dunia. Beberapa dari mereka meninggal ketika sedang siaran langsung, beberapa lainnya ditemukan di bawah reruntuhan rumah mereka, masih memeluk kamera.
Namun dunia nyaris tak bisa melihat apa yang mereka lihat. Israel menutup Gaza dari jurnalis asing, membiarkan hanya beberapa reporter yang masuk dalam rombongan militer—dengan narasi yang telah disunting sebelum disiarkan.
“Selama dua tahun, kami berteriak agar dunia datang melihat,” ujar Asosiasi Pers Asing (FPA) di Israel dalam pernyataannya, “namun pintu tetap terkunci.”
Mereka menuntut agar setelah gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025, wartawan internasional diizinkan masuk “secara bebas dan independen.” Tapi hingga kini, dunia masih menatap Gaza dari jauh—melalui lensa yang retak, melalui suara yang bergetar dari wartawan yang mungkin tak lagi hidup ketika beritanya tayang.
—
2. Gaza Tanpa Saksi
Sejak awal perang, Gaza bukan hanya dikepung secara fisik, tapi juga secara informasi. Semua jalur masuk bagi jurnalis asing ditutup. Mereka yang melaporkan dari dalam hanyalah penduduk Gaza sendiri—para jurnalis lokal yang hidup di bawah pemboman setiap hari.
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat, Gaza adalah wilayah paling mematikan di dunia bagi pekerja media.
Kepala program Timur Tengah CPJ, Sherif Mansour, mengatakan:
“Israel tidak hanya membunuh jurnalis. Mereka mencoba membunuh narasi.”
Dan memang, di Gaza, narasi adalah medan perang. Setiap foto menjadi ancaman, setiap siaran menjadi sasaran.
Wael Dahdouh, ikon Al Jazeera yang kehilangan istri, anak, dan cucunya dalam serangan udara Israel, pernah berdiri di depan jenazah keluarganya sambil berkata,
“Mereka membalas dendam kepada kami melalui anak-anak kami.”
Kata-kata itu mengguncang dunia—bukan hanya karena kesedihannya, tapi karena keberanian untuk tetap bekerja setelah kehilangan segalanya. Esok harinya, Dahdouh kembali ke medan liputan, dengan kamera di tangan, wajah yang belum kering air mata, dan suara yang masih bergetar.
“Jika kami berhenti,” katanya, “maka mereka menang.”
Di sebuah ruangan bawah tanah, Motasem Dalloul, jurnalis dari Middle East Monitor, menulis laporan dengan generator kecil yang hampir kehabisan bahan bakar. Ia berkata kepada temannya, “Kita menulis bukan untuk hari ini, tapi agar anak-anak kita tahu bahwa dunia pernah diam.”
Dan di tengah malam yang hanya diterangi api, seorang jurnalis perempuan muda, Bisan Owda, menyiarkan langsung dari reruntuhan Khan Younis. Rambutnya berdebu, napasnya cepat, tetapi ia tersenyum tipis ke kamera ponsel:
“Jika kau mendengar ini, artinya aku masih hidup. Dan jika suatu hari kau tak mendengarnya lagi—tolong jangan biarkan kisah kami mati.”
—
3. Mereka yang Hidup untuk Menulis Kematian
Di Gaza, menjadi jurnalis berarti menulis berita tentang sahabat sendiri. Tidak ada jarak profesional; semua berita adalah luka pribadi.
Ketika Mohammed Qreiqeh, jurnalis muda Al Jazeera, gugur dalam serangan, rekannya menulis di media sosial:
“Dia bukan hanya teman. Dia adalah orang yang setiap pagi mengingatkan kami untuk tersenyum sebelum berangkat liputan.”
Sementara Yazan al-Zuweidi, juru kamera Al-Ghad, tewas saat sedang melaporkan evakuasi pengungsi. Kamera yang ia pegang ditemukan di dekat tubuhnya—masih merekam.
Kematian para jurnalis ini menjadi bagian dari “genosida dua kali lipat”: pertama, genosida terhadap rakyat Gaza; kedua, genosida terhadap saksi.
Seorang akademisi media dari Universitas Birzeit, Dr. Ayman al-Khatib, menulis dalam jurnal Palestinian Studies:
“Ketika Israel membunuh jurnalis, mereka sedang menargetkan memori kolektif Palestina. Mereka tahu, dunia tanpa saksi adalah dunia tanpa bukti.”
Oleh karena itu, perang di Gaza bukan sekadar tentang tanah—ia adalah perang atas kebenaran, perang atas narasi.
—
4. Dari Tepi Barat, Mereka Menyapa
Di Hebron, ratusan kilometer dari Gaza, para jurnalis Palestina berkumpul di kantor sempit yang penuh foto rekan mereka yang gugur. Mereka tidak memegang senjata, tapi pena, mikrofon, dan air mata.
Mamoun Wazwaz, jurnalis foto, berkata dengan suara bergetar:
“Seribu berkat untuk kalian di Gaza. Kalian mengguncang dunia karena kalian menyiarkan kebenaran. Tak ada yang bisa melakukan apa yang kalian lakukan.”
Ia menatap foto Wael Dahdouh yang sedang berdiri di depan jenazah keluarganya. “Saya melihat itu di televisi dan menangis tersedu-sedu,” katanya. “Bayangkan bagaimana rasanya bagi mereka yang merekamnya langsung.”
Sementara Malak al-Atrash, jurnalis muda yang baru lulus sekolah media, menulis pesan di akun pribadinya:
“Setiap kali seorang dari kalian terbunuh, saya merasa seperti kehilangan anggota keluarga sendiri. Kalian membuat dunia melihat arti perang yang sebenarnya.”
Bagi mereka di Tepi Barat, setiap liputan adalah bentuk solidaritas. Meskipun mereka juga hidup di bawah penjajahan, mereka tahu bahwa Gaza menanggung beban paling berat.
Raed al-Sharif, jurnalis senior, berkata:
“Kami merasa malu. Pengorbanan kami di sini tak sebanding dengan rekan-rekan kami di Gaza. Mereka mengorbankan nyawa dan tubuh mereka—itulah pengorbanan tertinggi.”
Baginya, menjadi jurnalis Palestina adalah menjadi penyampai berita dari neraka—menulis di antara peluru, memotret di antara reruntuhan, berbicara kepada dunia yang mungkin tidak mendengar.
—
5. Ketika Dunia Memilih Diam
Selama dua tahun perang Gaza, dunia menyaksikan genosida secara langsung. Namun yang lebih mengerikan dari pembantaian itu adalah keheningan global.
Di ruang sidang PBB, kata-kata “gencatan senjata” berulang-ulang disebut, tapi suara yang paling jujur datang bukan dari diplomat—melainkan dari jurnalis yang menyiarkan dengan darah.
Reporters Without Borders (RSF) menyebut Gaza sebagai “kuburan terbuka bagi jurnalis”.
Mereka menuduh Israel melanggar hukum internasional dengan menargetkan pekerja media. “Pembunuhan berulang terhadap jurnalis tidak bisa dianggap sebagai kecelakaan militer,” kata laporan RSF pada Juli 2025.
Namun, di balik semua laporan itu, ada pertanyaan yang menggema di hati banyak orang: Mengapa dunia butuh gambar darah untuk percaya pada penderitaan manusia?
Seorang penulis Palestina, Khaled Hroub, menulis refleksi tajam di Doha Institute Journal:
“Setiap kali jurnalis Gaza terbunuh, dunia kehilangan cermin. Dan bangsa tanpa cermin akan mengulang kekejaman yang sama.”
Israel memahami hal itu. Karena itu mereka mematikan sinyal, mengebom kantor berita, dan melarang akses internasional. Dengan membunuh jurnalis, mereka membunuh ingatan.
Tetapi Gaza, dengan caranya sendiri, melawan kebisuan itu. Dalam setiap siaran langsung dari reruntuhan, dalam setiap foto yang lolos sensor, ada sejenis keajaiban yang tak bisa dibunuh: suara yang menolak padam.
—
6. Kamera sebagai Iman
“Setiap klik kamera adalah doa,” tulis Hind Khoudary, jurnalis muda Gaza. “Kami tidak bisa berhenti, karena dunia harus tahu kami pernah ada.”
Kata-katanya mengingatkan kita bahwa di Gaza, jurnalisme telah melampaui profesi—ia menjadi bentuk ibadah.
Para jurnalis bekerja bukan karena perintah redaksi, tetapi karena kesadaran spiritual: bahwa kebenaran adalah amanah, dan menyampaikannya adalah jihad.
Dalam salah satu khutbahnya, Syaikh Mohammed al-Qassam, ulama Gaza, berkata:
“Mereka yang menulis di bawah bom lebih berani dari tentara. Mereka tidak membawa senjata, tapi pena mereka menembus lebih dalam dari peluru.”
Dan benar. Di dunia yang menuhankan citra, para jurnalis Gaza justru menjadi syuhada narasi.
Mereka mati agar dunia tahu bahwa kemanusiaan pernah diuji—dan sebagian besar gagal.
—
7. Geopolitik Bisu dan Perang atas Kebenaran
Secara geopolitik, perang atas jurnalis di Gaza adalah bagian dari perang yang lebih luas: perang mengontrol persepsi global tentang Palestina.
Israel, dengan dukungan teknologi intelijen dari Barat, menjalankan strategi kontrol informasi total: membatasi akses media, memanipulasi narasi melalui media arus utama, dan mendiskreditkan liputan independen sebagai “propaganda Hamas.”
Di Washington dan London, algoritma media sosial disesuaikan agar gambar-gambar kekejaman tidak viral. Di ruang redaksi Barat, istilah “genosida” disensor, diganti dengan “konflik bersenjata.”
Namun di sisi lain, jurnalis Palestina terus menulis dengan darah mereka sendiri.
Dalam analisisnya di The Guardian, Chris Hedges, jurnalis veteran perang, menulis:
“Tidak ada perang yang bisa disebut adil bila hanya satu pihak yang diizinkan bicara.”
Itulah inti tragedi Gaza: bukan hanya perang yang menghancurkan kota, tapi juga perang yang menghancurkan makna.
Sebab tanpa jurnalis, dunia hanya punya cerita dari pihak yang memegang senjata. Dan itu berarti: genosida bisa disulap menjadi pertahanan diri.
BACA JUGA: 2 Tahun Genosida Gaza yang Terdokumentasi dengan Baik: Dunia Menyaksikan Langsung tapi Terus Membisu
8. Epilog: Suara yang Tak Mati
Kini, setelah gencatan senjata diumumkan, reruntuhan Gaza masih berasap.
Anak-anak bermain di antara batu-batu puing, dan dari kejauhan terdengar suara drone. Namun di antara debu itu, ada kehidupan yang keras kepala.
Di tenda-tenda pengungsian, para jurnalis muda menulis lagi.
Mereka tak punya kamera, tak punya studio, tapi mereka punya pena dan tekad.
“Jika kami tak bisa menyiarkan,” kata seorang dari mereka, “kami akan menulis di pasir.”
Mungkin esok ombak akan menghapus tulisan itu, tapi sebelum hilang, seseorang akan melihatnya—dan itulah yang mereka harapkan.
Seorang jurnalis veteran dari Rafah menulis di catatan terakhirnya sebelum gugur:
“Kami menulis agar dunia tak punya alasan untuk bilang ‘kami tidak tahu.’”
Kata-kata itu menjadi epitaf bagi seluruh profesi jurnalis di Gaza.
Mereka yang memilih untuk tidak menutup mata, walau tahu mata mereka bisa jadi target berikutnya.
Mereka yang memilih menulis, bukan demi karier, tapi demi sejarah.
Dan di tengah dunia yang sering lupa, mereka mengingatkan kita pada satu hal:
Bahwa kebenaran tidak bisa dibunuh, selama masih ada yang berani mengucapkannya.
“Pada akhirnya, setiap gambar yang keluar dari Gaza bukanlah sekadar dokumentasi. Ia adalah bentuk doa—agar dunia melihat, dan tak lagi diam.” []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
