Kenapa Aku Masih Terus Mengkhawatirkan Rezekiku? Kenapa Aku Malah Tidak Pernah Memikirkan Amal Ibadahku?

5 Min Read
Foto: Azkia Karima | Islampos

DI antara malam yang sunyi dan dada yang sesak,
Aku termenung menatap bintang di langit yang retak,
Rezeki, aku kejar seperti bayangan yang tak pernah tetap,
Padahal janji Allah sudah tegak, rezeki tiap insan takkan lenyap.

“Wahai jiwa,” bisikku pelan pada hati yang rapuh,
“Mengapa engkau takut lapar, sedang Tuhanmu Maha Mampu dan penuh?”
Imam Ibnul Qayyim pernah berkata lembut dan teduh:
“Yang paling celaka ialah hati yang tak percaya janji Allah yang sungguh.”

Aku resah tentang apa yang belum aku makan,
Aku gundah tentang apa yang belum aku simpan,
Padahal bumi luas, langit terbentang, dan rahmat Tuhan tanpa batasan,
Namun aku tak pernah resah, apakah ibadahku diterima di hadapan.

BACA JUGA: Terlena, Puisi Renungan dari Buya Hamka

Oh, betapa aneh diriku—mengejar sesuatu yang sudah dijamin,
Sementara amal yang belum pasti, ku biarkan hilang dan dingin,
Ibnul Jauzi menulis: “Bila engkau sibuk dengan dunia, maka hatimu akan miskin.”
Dan aku kini merasa, hatiku benar-benar kehilangan cahaya yang makin tipis dan ringin.

Setiap pagi, aku berlari pada ambisi dan asa,
Setiap sore, aku menghitung hasil kerja,
Tapi adakah aku pernah menghitung dzikir yang tertinggal di dada?
Atau air mata taubat yang sempat kutahan di sepertiga malam yang sepi tanpa suara?

Imam Hasan Al-Bashri berkata:
“Jangan takut miskin, takutlah jika hatimu mati sebelum engkau wafat.”
Dan kini aku merasakan maknanya begitu dekat,
Karena betapa sering aku sibuk mencari dunia, tapi lupa mencari taat.

Kenapa aku masih terus mengkhawatirkan rezekiku?
Bukankah burung keluar pagi dengan perut kosong, kembali senja dengan penuh isi?
Dan bukankah aku manusia—yang diberi akal, hati, dan janji suci?
Namun sering kufur, seolah tak percaya Tuhan Maha Pemberi.

Aku takut lapar, tapi tak takut dosa,
Aku takut miskin, tapi tak takut hina di hadapan Yang Maha Kuasa,
Padahal Umar bin Khattab pernah menegur dengan kata-kata tegas dan nyata:
“Kami dahulu mencari akhirat, lalu dunia datang menyusul kami dengan rela.”

Ah, mengapa aku tak meniru para salaf yang berserah diri?
Yang jika rezeki datang, mereka syukuri,
Dan jika tertunda, mereka sabari,
Karena yakin: setiap butir nasi, telah ditulis di Lauhul Mahfuzh sejak azali.

Sementara aku, manusia modern yang gelisah tak bertepi,
Mengeluh di layar kaca, mencari makna di gawai sepi,
Namun lupa bahwa makna sejati bukan di gaji, bukan di materi,
Melainkan di rukuk yang khusyuk, di sujud yang menundukkan hati.

Betapa sering aku iri pada yang kaya raya,
Padahal aku tak tahu, barangkali mereka diuji lebih parah dari segala,
Dan betapa jarang aku iri pada yang shalih dan banyak amalnya,
Padahal merekalah yang kelak tersenyum di padang Mahsyar, saat semua meratap dan merana.

Imam Al-Ghazali berkata dalam bisikan hikmah abadi:
“Rezekimu akan mendatangimu, walau engkau lari darinya seperti engkau lari dari maut sendiri.”
Tapi amalmu tidak akan datang kecuali engkau yang mendatangi,
Dan bila engkau lalai, amalmu hilang bersama angin pagi.

Wahai hati, tenanglah dalam janji Tuhanmu,
Rezeki bukan karena hebatnya engkau, tapi karena kasih sayang-Nya padamu,
Namun amal, amalmu itu yang menentukan nasibmu,
Di mana engkau akan tinggal, di surga atau di dalam api yang menyala pilu.

Maka mulai hari ini, biarlah aku berhenti risau tentang perut,
Biarlah aku sibuk memperbaiki niat yang telah keruh dan lusut,
Karena jika amal diterima, maka rezeki menjadi berkah yang lembut,
Dan jika amal ditolak, maka dunia hanyalah fatamorgana yang menyesatkan langkah yang surut.

BACA JUGA: 9 Renungan: Dunia yang Melenakan Ini

Ya Allah, aku malu…
Malu karena sering mengeluh tentang sedikitnya pemberian-Mu,
Padahal Engkau tak pernah berhenti menurunkan kasih-Mu,
Sedang aku jarang bersujud dengan hati yang benar-benar tunduk pada wajah-Mu.

Izinkan aku belajar seperti para salaf dahulu,
Yang bila lapar mereka tersenyum, karena yakin pada kasih-Mu,
Yang bila miskin mereka bersyukur, karena dunia hanya sementara tempat berlalu,
Dan yang bila beramal, mereka menangis takut tak Engkau terima di hadapan-Mu.

Maka, bila esok pagi mentari datang menyapa,
Aku ingin mengawali hari bukan dengan angka,
Tapi dengan doa dan dzikir yang lembut di jiwa,
Sebab kini aku tahu: rezeki bukan kekayaan, tapi ridha Allah yang utama. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *