Gaza dari Era Yunani hingga Badai Al-Aqsa: Reruntuhan yang Tak Berhenti Bermimpi

Nasrulloh Baksolahar
10 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

Suara di Antara Reruntuhan

“Apakah mereka akan datang lagi, Ayah?” tanya seorang anak di antara debu, di bawah langit yang tidak lagi biru.
Ayahnya menatap reruntuhan bangunan yang dulu adalah rumah mereka, lalu menjawab pelan, “Mereka selalu datang, Nak. Sejak ribuan tahun yang lalu. Tapi setiap kali mereka datang, Gaza belajar satu hal — bahwa manusia bisa hancur, tapi tidak bisa padam.”

Suara itu seperti gema masa lalu. Seperti suara yang pernah terdengar saat pasukan Yunani mengepung kota ini lebih dari dua puluh tiga abad silam, ketika Alexander Agung—dengan seluruh ambisi penaklukan dunia—berhenti di depan gerbang Gaza dan menemukan sesuatu yang tak bisa ia pahami: keberanian kecil yang menolak tunduk.

—

 Jejak Yunani dan Romawi: Kota yang Tak Mau Mati

Catatan Arrianus menyebut pengepungan Gaza oleh Alexander berlangsung dua bulan. Komandan kota, Batis, menolak menyerah meski tahu tak ada bala bantuan. Ketika akhirnya tertangkap, Alexander memerintahkan tubuhnya diikat ke kereta dan diseret keliling kota—simbol penghinaan bagi perlawanan. Namun, justru dari adegan brutal itu, lahir legenda pertama Gaza: kota yang kalah secara militer tapi menang secara jiwa.

Dua abad kemudian, Romawi datang. Mereka membangun garnisun, teater, kuil, dan jalan batu. Tapi di balik kemegahan itu, bara tetap menyala. Gaza selalu menjadi titik antara: antara Mesir dan Syam, antara kekuasaan dan kemerdekaan, antara penjajahan dan penolakan.

—

Datangnya Islam: Cahaya di Antara Debu

Ketika pasukan Islam datang di bawah Amr bin al-‘Ash dan Khalifah Umar bin Khattab, Gaza tidak ditaklukkan dengan pedang, tapi dengan panggilan iman. Di sinilah lahir Imam Asy-Syafi‘i, ulama besar yang kelak menjadi simbol bahwa ilmu dan perjuangan tidak terpisahkan. Gaza menjadi perbatasan sekaligus benteng ilmu; di tepi perang, tapi tetap menjadi taman bagi ruh.

Bagi umat Islam, Gaza adalah perbatasan Syam yang diberkahi. Di sini, tanah berbicara dengan bahasa para nabi; di sini pula, jihad dan doa menyatu dalam satu napas sejarah.

—

Di Bawah Salib dan Panji Shalahuddin

Ketika Perang Salib berkecamuk, Gaza menjadi saksi benturan dua dunia. Antony Beevor menulis bahwa Gaza adalah “gerbang strategis Yerusalem.” Siapa menguasai Gaza, menguasai jalan menuju Baitul Maqdis. Tapi Gaza tidak pernah sepenuhnya tunduk. Dari sinilah Shalahuddin al-Ayyubi menyiapkan serangan balasan yang mengembalikan Yerusalem kepada kaum Muslimin.

Namun kemenangan Shalahuddin bukan hanya kemenangan militer. Ia menolak membalas kebengisan Salib dengan kebencian. Di Gaza, ia mendirikan kembali madrasah dan rumah sakit, mengajarkan bahwa keadilan lebih kuat dari pedang. Gaza pun memantulkan watak Islam itu: kuat dalam perang, lembut dalam damai.

—

Badai Mongol dan Kebangkitan Mamluk

Ketika Mongol datang menggulung dunia Islam, Gaza kembali menjadi korban. Kota dibakar, masjid diratakan, penduduk dibantai. Tapi dari puing-puing itu, kaum Mamluk bangkit. Mereka membangun benteng baru, menjadikan Gaza pangkalan untuk melawan sisa pasukan Mongol dan Salib.

Sejarawan militer Basil Liddell Hart pernah menulis, “Bangsa yang terus memelihara semangat bertahan di tengah kekalahan, pada akhirnya akan memenangi perang yang lebih panjang.”
Kata-kata itu seperti ramalan bagi Gaza—yang selama dua milenium berikutnya, hidup di antara puing, tapi tak pernah berhenti bernafas.

—

Zaman Ottoman dan Kolonialisme Inggris

Ketika Ottoman berkuasa, Gaza menikmati kedamaian singkat. Tapi setelah kekalahan Ottoman dalam Perang Dunia I, Inggris datang membawa janji beracun: Deklarasi Balfour (1917). Dalam sekali surat, Inggris menjanjikan tanah yang bukan miliknya kepada bangsa lain.

Gaza menjadi tempat pertama di mana janji itu meneteskan darah. Inggris dan kemudian Zionis mulai memetakan tanah, mendirikan koloni, dan menyingkirkan penduduk lokal. Ilan Pappé, sejarawan Israel, menyebut ini sebagai “pembersihan etnis yang terencana.” Ia menulis, “Gaza menjadi laboratorium kolonial modern — bukan hanya penaklukan tanah, tapi penaklukan memori.”

—

Nakba 1948: Awal Dari Luka yang Tak Pernah Sembuh

Tahun 1948, ketika negara Israel diproklamasikan, ratusan ribu warga Palestina diusir dari rumah mereka. Banyak yang melarikan diri ke Gaza. Dalam hitungan bulan, populasi Gaza melonjak dari 80 ribu menjadi lebih dari 200 ribu jiwa. Mereka tinggal di tenda-tenda, hidup dari bantuan, tapi menyimpan satu hal: tekad untuk pulang.

Sejak itu, Gaza menjadi simbol pengungsian permanen. Dunia menyebut mereka “refugees”, tapi bagi mereka sendiri, itu hanyalah masa singgah dalam perjalanan panjang menuju keadilan.

—

Fedayeen: Mereka yang Mengorbankan Diri

Tahun 1950-an, dari kamp pengungsi lahir gerakan Fedayeen — artinya, “mereka yang siap mati.” Dengan senjata seadanya, mereka menyerang pos militer Israel, bukan untuk menang, tapi untuk menunjukkan bahwa mereka masih ada.

Jenderal Israel Moshe Dayan menulis pada 1956:

“Rakyat Gaza adalah musuh yang tak bisa tidur. Mereka hidup di antara reruntuhan, tapi tak berhenti bermimpi.”

Perkataan itu, tanpa disadari, adalah pengakuan bahwa militer Israel, meski kuat secara teknologi, telah kalah dalam jiwa.

—

Intifada dan Lahirnya Hamas

Tahun 1987, di kamp pengungsi Jabalia, sebuah truk tentara Israel menabrak empat pekerja Palestina. Tragedi itu memicu ledakan kemarahan. Batu-batu dilempar, tembok ditulis dengan seruan kebebasan. Dunia menyebutnya Intifada — kebangkitan.

Dari situ lahirlah Hamas, bukan sekadar organisasi politik, tapi kesinambungan logis dari sejarah panjang Gaza: dari perlawanan Yunani hingga Shalahuddin, dari Fedayeen hingga anak-anak batu.

Ketika perjanjian Oslo ditandatangani pada 1993, harapan sempat tumbuh. Tapi seperti dikatakan Edward Said, “Oslo adalah perdamaian bagi penjajah, bukan bagi yang dijajah.”
Gaza dipenjara dalam nama damai.

—

Pengepungan dan Perlawanan Abad ke-21

Setelah kemenangan Hamas dalam pemilu 2006, dunia justru menghukum rakyat Gaza. Blokade diberlakukan. Listrik, air, dan bahan bakar dikontrol dari luar. Tahun 2008, 2012, 2014, 2021—Israel membombardir Gaza berkali-kali. Tapi setiap kali asap reda, anak-anak kembali ke sekolah, dan para pejuang kembali ke terowongan.

Norman Finkelstein, profesor asal AS, menyebut Gaza sebagai “eksperimen moral umat manusia.” Ia menulis, “Siapa pun yang bisa membenarkan penderitaan Gaza, sebenarnya sedang menolak kemanusiaannya sendiri.”

—

 7 Oktober 2023: Badai Al-Aqsa

Pagi itu, langit selatan Palestina terbuka oleh ratusan roket. Gerbang perbatasan ditembus. Dunia terperanjat. Israel menyebutnya serangan brutal; rakyat Gaza menyebutnya hari yang mengingatkan dunia bahwa kami masih hidup.

Bagi banyak pengamat militer, peristiwa itu menandai berakhirnya mitos “keamanan absolut” Israel. Martin van Creveld, sejarawan militer Israel, menulis, “Itu bukan hanya serangan fisik, tapi serangan terhadap kepercayaan diri nasional kami.”

Dari sisi geopolitik, 7 Oktober mengguncang seluruh struktur Timur Tengah. Normalisasi dengan Arab terhenti, Washington kehilangan kendali naratif, dan untuk pertama kalinya, opini publik dunia berbalik.

—

Dua Tahun Neraka dan Cermin Dunia

Selama dua tahun berikutnya, Israel menjatuhkan lebih dari 200.000 ton bahan peledak ke Gaza. Kota itu rata dengan tanah, tapi perlawanan tetap berdiri. Tank Merkava dihancurkan, drone ditembak jatuh, pasukan elit Israel kalah di jalan-jalan sempit kamp Nuseirat dan Khan Younis.

Pakar strategi Alastair Crooke menulis, “Gaza adalah Vietnam bagi Israel — tapi lebih dari itu, ia adalah ujian moral bagi dunia.”

Gaza memaksa kita melihat diri sendiri:
Apakah kita masih punya empati?
Apakah teknologi yang kita banggakan masih memiliki nurani?

BACA JUGA:  Gaza: Memanggil Dunia agar Kembali Menjadi Manusia

Gaza Sebagai Cermin Zaman

Di zaman ketika kecerdasan buatan memutuskan siapa yang harus dibom, Gaza memanggil manusia untuk berpikir ulang:
Apakah peradaban ini masih manusiawi?

Israel kini mengandalkan AI untuk menandai target — rumah, masjid, sekolah. Tapi di balik itu, Gaza menandai kebangkitan spiritual dunia. Miliaran orang mulai bertanya: bagaimana mungkin kekuatan yang mengaku beradab membunuh anak-anak dengan presisi digital?

—

Refleksi Akhir: Api yang Tidak Pernah Padam

Kita bisa menghancurkan rumah, tapi tidak kehendak. Kita bisa memblokade makanan, tapi tidak harapan.
Karena Gaza bukan sekadar tempat; ia adalah pelajaran.

Seorang ayah di Rafah pernah berkata kepada wartawan, “Kami tidak ingin mati. Kami hanya ingin hidup tanpa penjajahan. Jika itu dosa, biarlah Allah yang mengadilinya.”

Mungkin itulah doa Gaza sejak era Yunani hingga hari ini — doa yang menembus lapisan waktu, menertawakan kekuasaan yang merasa abadi.

—

Penutup: Langit yang Tak Buta

Kini, ketika dunia menatap reruntuhan Gaza dan menyebutnya “tragedi”, Gaza justru berdiri sebagai pengingat bahwa tragedi sejati bukanlah kehancuran, melainkan kehilangan kemanusiaan.

Dan mungkin, seperti firman Allah:

“Dan janganlah kamu menyangka orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati; mereka hidup di sisi Tuhan mereka, diberi rezeki.” (QS. Ali Imran: 169)

Mereka hidup di antara kita — dalam bentuk kesadaran baru, dalam keberanian anak-anak yang menolak menyerah, dalam doa-doa yang melintasi langit penuh debu.

Gaza telah menulis satu bab lagi dalam sejarah panjang manusia:
bahwa di atas segala kekuatan dan kekerasan, masih ada sesuatu yang tidak bisa dibunuh — jiwa manusia yang percaya pada kebenaran. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *