ADA kalimat yang pelan tapi mengguncang dunia politik Washington minggu ini. Seorang anggota Kongres dari Massachusetts, Seth Moulton, mengumumkan bahwa ia mengembalikan dana kampanyenya sebesar 35.000 dolar yang bersumber dari jaringan AIPAC (American Israel Public Affairs Committee).
Alasannya sederhana, tapi berani: “AIPAC sudah terlalu dekat dengan pemerintahan Netanyahu.”
Kalimat itu, di negeri yang menjadikan dukungan pada Israel sebagai salah satu batu ujian kesetiaan politik, terdengar seperti azan di tengah pasar yang bising oleh propaganda.
Moulton bukan tokoh pinggiran. Ia seorang veteran militer dan tokoh Demokrat yang pernah disanjung sebagai calon bintang masa depan partainya. Tetapi ia kini memilih jarak dari lembaga lobi paling kuat di Amerika — lembaga yang, dalam analisis banyak peneliti, lebih menentukan arah kebijakan luar negeri AS daripada suara rakyatnya sendiri.
—
AIPAC: Lobi yang Bukan Sekadar Lobi
AIPAC bukan sekadar kelompok advokasi. Ia adalah gurita politik dengan tentakel yang menjangkau kongres, departemen pertahanan, think tank, media, hingga industri hiburan.
Dalam The Israel Lobby and U.S. Foreign Policy (2007), dua akademisi ternama — John Mearsheimer dari University of Chicago dan Stephen Walt dari Harvard — menyebut AIPAC sebagai “the most powerful and feared lobby in Washington.”
Ia mampu mengubah hasil pemilu lokal, memaksa senator mengubah suara, bahkan menjatuhkan karier politik seseorang hanya karena berani mengkritik Israel.
Itulah mengapa, seperti dicatat The Hill, para politisi Demokrat dan Republik selama puluhan tahun bersaing untuk tampil di forum AIPAC dengan pidato paling berapi-api tentang “keamanan Israel” — sementara kata “Palestina” nyaris tak pernah terucap kecuali dalam konteks terorisme.
Kini, retakan mulai muncul.
Bukan hanya Moulton. Deborah Ross, Morgan McGarvey, dan Valerie Foushee, semuanya anggota Demokrat, juga menolak dana AIPAC. Di kubu lain, bahkan tokoh pro-Trump seperti Marjorie Taylor Greene menyerukan agar AIPAC didaftarkan sebagai agen asing.
Sebuah ironi sejarah: ketika orang kiri dan kanan Amerika, yang biasanya tak pernah sepakat, kini mulai menganggap AIPAC sebagai racun bagi demokrasi mereka sendiri.
—
Uang yang Menjadi Peluru
AIPAC bekerja dengan strategi yang nyaris matematis: mengalirkan jutaan dolar kampanye kepada kandidat yang pro-Israel, dan menghancurkan karier siapa pun yang menolak perang di Gaza.
Al Jazeera melaporkan, setelah Senator Bernie Sanders memimpin upaya memblokir penjualan bom senilai $8,8 miliar ke Israel, AIPAC meluncurkan kampanye iklan enam digit untuk menyerangnya.
Iklan itu menyebut Sanders “membahayakan sekutu Amerika” — bahasa yang sama persis seperti jargon Pentagon saat menginvasi negeri-negeri Muslim.
Sanders membalas dengan kalimat yang menohok:
“Jika Anda menentang perang Netanyahu di Gaza, AIPAC akan menghukum Anda dengan jutaan dolar agar Anda kalah.”
Dan benar. Sejak 2023, lebih dari 67.000 warga Palestina terbunuh dalam agresi Israel.
Namun di Washington, mesin AIPAC terus berputar, membungkam politisi dengan uang, membungkus genosida dengan kata “keamanan”, dan mengubah setiap serangan udara menjadi “tindakan membela diri”.
Dalam logika kekuasaan itu, uang berubah menjadi peluru, dan diam berubah menjadi kolusi.
—
Gurita yang Menyusup ke Militer
Bukan hanya parlemen yang dicekik AIPAC. Pentagon pun hidup di bawah bayangannya.
Banyak pejabat tinggi militer AS yang kemudian menjadi pembicara atau penasihat untuk lembaga yang berafiliasi dengan AIPAC atau think tank pro-Israel seperti Washington Institute for Near East Policy (WINEP).
Setelah purnatugas, mereka menerima posisi bergaji besar — semacam “hadiah diam” — karena mendukung kebijakan senjata tanpa syarat kepada Israel.
Dalam sistem itu, darah Gaza hanyalah kontrak pertahanan yang diperpanjang.
Ketika bom-bom buatan AS menghantam rumah sakit, kompleks industri-militer di Washington memetik laba.
Dan di balik layar, AIPAC memastikan tidak ada senator yang berani menolak “bantuan militer tahunan $3,8 miliar” kepada Israel, yang sebenarnya adalah subsidi tetap bagi mesin perang Zionis.
—
Dari “Perlindungan” ke Penjajahan
Narasi AIPAC selalu dibungkus dengan kalimat “Israel adalah demokrasi satu-satunya di Timur Tengah.”
Tetapi, demokrasi macam apa yang membutuhkan genosida untuk bertahan?
Demokrasi macam apa yang mengandalkan blokade terhadap dua juta jiwa di Gaza selama lebih dari 17 tahun?
Bahkan Amnesty International, Human Rights Watch, dan B’Tselem (lembaga HAM Israel sendiri) telah menegaskan bahwa Israel menjalankan sistem apartheid.
Namun AIPAC terus memoles wajah kebiadaban itu dengan dana, dengan narasi, dan dengan tekanan politik.
Dalam bukunya Goliath: Life and Loathing in Greater Israel, jurnalis Yahudi-Amerika Max Blumenthal menulis:
> “AIPAC tidak hanya mendukung Israel; ia mendukung ideologi Zionisme tanpa batas — ide bahwa kekuasaan Yahudi harus dipertahankan dengan kekuatan apa pun, termasuk kebohongan.”
—
Cengkeraman terhadap Media
Kekuatan AIPAC tidak hanya di parlemen, tapi juga di narasi publik.
Ketika ribuan anak Gaza tewas, media besar Amerika menulisnya dengan frasa yang telah disusun oleh lembaga lobi: “Israel retaliates after Hamas attacks.”
Padahal, seperti dicatat oleh Reuters dan AP, serangan Israel jauh melampaui proporsionalitas, menghancurkan seluruh infrastruktur sipil dan melanggar Konvensi Jenewa.
AIPAC juga bekerja sama dengan jaringan think tank seperti HonestReporting dan Camera.org untuk menekan jurnalis yang menulis kritis tentang Israel.
Dalam era digital, mereka membayar influencer, menandai aktivis Palestina di media sosial, dan bahkan melobi Meta dan X (Twitter) untuk menghapus konten yang “mendorong kebencian” — yang sering kali berarti “menyebut genosida sebagai genosida.”
—
Keruntuhan Moral Kekaisaran
Inilah puncak ironi Amerika modern: negara yang mengajarkan demokrasi, tetapi berlutut pada lobi yang melindungi penjajah.
Negara yang menegakkan hukum internasional, tetapi menolak Mahkamah Pidana Internasional ketika menuntut Netanyahu.
Negara yang berkhotbah tentang hak asasi manusia, tetapi mengirim bom kluster ke rumah sakit anak-anak.
AIPAC bukan penyebab tunggal, tetapi simbol dari korupsi moral sebuah kekaisaran.
Ia membuktikan bahwa ketika kebenaran bisa dibeli, maka yang tersisa hanyalah kebohongan yang disponsori.
Namun sejarah selalu menulis babnya sendiri.
Di masa lalu, Pharaoh pun punya juru bicara, punya penyihir, punya birokrasi yang memoles tirani dengan narasi. Tapi Allah menenggelamkannya di laut karena satu hal yang sama:
“Dia menindas manusia dengan kebenaran yang dibungkam.”
BACA JUGA: 21,7 Milyar Dollar Uang Pajak Rakyat Amerika untuk Proyek Kematian Gaza
Cahaya yang Tak Bisa Dipadamkan
Hari ini, ketika Moulton dan beberapa anggota Kongres mulai berani menolak dana AIPAC, kita sedang menyaksikan retakan pertama pada tembok kemunafikan politik AS.
Kecil, tapi bersejarah.
Mereka mungkin tidak sepenuhnya berpihak pada Palestina, tapi mereka menolak dijadikan alat bagi pembunuh anak-anak Gaza.
Dan di luar sana, jutaan manusia — dari kampus Harvard hingga jalanan Jakarta — telah melihat siapa yang sebenarnya memegang kendali atas kebijakan luar negeri Amerika.
Bukan presiden, bukan rakyat, tapi sebuah gurita bernama AIPAC yang menukar nurani dengan dana kampanye.
Tapi sebagaimana setiap gurita, kekuatannya ada pada bayangan.
Begitu bayangan itu disorot cahaya, ia mengecil, menyingkir, lalu lenyap.
Dan cahaya itu kini datang — bukan dari Washington, tapi dari reruntuhan Gaza yang masih bersujud dalam gelap.
Mereka mungkin kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan,
tetapi mereka masih memiliki satu hal yang tak bisa dibeli oleh semua dolar AIPAC: keyakinan bahwa Allah tidak buta terhadap darah yang tumpah.
—
“Dan janganlah kamu menyangka bahwa Allah lalai terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Dia menangguhkan mereka sampai hari yang pada waktu itu mata mereka terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)
Gurita itu mungkin masih mencengkram hari ini.
Tapi tangan sejarah telah menulis akhir bagi setiap kekuasaan yang berdiri di atas darah.
Dan di antara puing-puing Gaza, dunia sedang belajar ulang bahwa kebenaran tidak butuh pelobi, ia hanya butuh keberanian untuk diucapkan. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
