Film, Novel, Puisi, dan Berita — Saksi yang Mengepung Israel, Bisakah Berkelit?

Nasrulloh Baksolahar
9 Min Read
Foto: Freepik

ADA saatnya dunia diam, tapi kebenaran tidak.
Ketika lidah politik dibungkam oleh veto, dan suara kemanusiaan digunting oleh sensor, kebenaran mencari jalan lain: ia menembus layar film, menyelinap dalam bait-bait puisi, bersembunyi di halaman novel, dan akhirnya meledak dalam berita yang tak bisa disunting oleh propaganda.

Kini, kebenaran itu telah memiliki banyak bentuk — kamera, pena, suara, dan nyawa.
Mereka bersekutu tanpa perjanjian, tapi disatukan oleh satu tujuan: menjadi saksi.
Dan saksinya bukan sedikit. Ada film yang menatap tanpa takut, novel yang menulis luka dengan tinta darah, puisi yang berdoa dalam sunyi, dan berita yang setiap hari mencatat kebiadaban.
Semuanya berbaris dalam satu barisan moral yang sama: mengepung Israel dengan kebenaran.

Bisakah mereka berkelit?

—

Film: Kamera yang Menyaksikan Kebenaran

Kamera, sejak awal, tidak punya ideologi — tapi ia jujur.
Ia tidak pandai berbohong, sebab yang terekam akan terus hidup.

Lihatlah The Teacher (2024) karya Farah Nabulsi, yang mewakili Palestina di Oscar 2024.
Ia bukan film besar dengan efek ledakan, tapi denting hati seorang guru yang kehilangan muridnya karena kekerasan tentara Israel. Kamera mengikuti langkahnya, tanpa musik heroik, tanpa retorika — hanya keheningan yang lebih menusuk daripada peluru.

Atau Wajib (2017), karya Annemarie Jacir, yang memotret kehidupan keluarga Palestina di Nazareth.
Film ini sederhana — ayah dan anak berkeliling membagikan undangan pernikahan. Namun, di setiap jalan, di setiap ucapan, kita merasakan luka kolonial yang membelah generasi. Mereka hidup dalam kota yang tenang tapi terpenjara oleh identitas.

Lalu ada 5 Broken Cameras (2011), dokumenter oleh Emad Burnat dari desa Bil’in.
Ia punya lima kamera — semuanya rusak karena peluru dan gas air mata. Tapi sebelum setiap kamera pecah, ia sempat merekam satu babak kebenaran. Dari situ kita tahu: kamera bisa mati, tapi kesaksiannya tidak.

Dalam Gaza Fights for Freedom (2019), jurnalis Abby Martin menyodorkan realitas yang bahkan media arus utama enggan tampilkan: blokade, penembakan, dan kebisuan dunia. Ia bukan film yang dibuat untuk menang festival, tapi untuk menggugat nurani.

Dan siapa bisa lupa Farha (2021), film kecil dari Yordania yang mengguncang dunia.
Farha adalah gadis Palestina berusia 14 tahun yang menyaksikan keluarganya dibunuh saat Nakba 1948. Film itu dikecam Israel, tetapi semakin mereka membantah, semakin dunia menonton.

Setiap frame adalah bukti.
Setiap gambar adalah kesaksian yang tak bisa disuap.

Film-film ini tidak sekadar tontonan, tetapi perlawanan visual terhadap monopoli narasi Zionis.
Israel bisa menguasai tanah, tapi tidak bisa menguasai imajinasi manusia yang sudah melihat wajah kebenaran.

—

Novel dan Cerpen: Fiksi yang Lebih Nyata dari Fakta

Ketika realitas terlalu kejam untuk diberitakan, manusia menulisnya dalam bentuk cerita.
Fiksi, kadang, adalah satu-satunya cara untuk menceritakan kenyataan tanpa mati.

Ghassan Kanafani menulis Men in the Sun (1962).
Tiga pengungsi Palestina bersembunyi di dalam tangki air panas untuk menyelinap ke Kuwait. Mereka mati tercekik di tengah perjalanan — tanpa suara, tanpa berita.
Pertanyaan terakhirnya menggema seperti doa:

“Mengapa kalian tidak mengetuk dinding tangki itu?”

Pertanyaan itu kini menjadi metafora bagi dunia: mengapa kalian diam ketika manusia dicekik perlahan di Gaza?

Dalam Return to Haifa (1969), Kanafani menulis pasangan Palestina yang kembali ke rumah mereka setelah perang 1948 — hanya untuk mendapati rumah itu kini didiami keluarga Yahudi. Anak mereka yang dulu hilang kini tumbuh sebagai tentara Israel. Tragis. Dan benar-benar mungkin terjadi.

Penanya dibungkam oleh bom mobil — Mossad membunuh Kanafani di Beirut tahun 1972.
Sebab bagi penjajah, pena lebih berbahaya daripada senjata.

Lalu datang Susan Abulhawa, perempuan diaspora Palestina.
Dalam Mornings in Jenin (2010), ia mengisahkan empat generasi keluarga Abulheja, dari pengusiran di 1948 hingga hidup di kamp pengungsi. Ia menulis dengan kelembutan yang tajam: air mata, cinta, dan kehilangan menjadi saksi sejarah yang tak tertulis.

Dalam The Blue Between Sky and Water (2015), Abulhawa melukis Gaza dengan spiritualitas perempuan — perempuan yang tetap menanam zaitun meski pohonnya sudah berkali-kali ditebang.

Dan ada Colum McCann dengan Apeirogon (2020), novel berdasarkan kisah dua ayah — satu Israel, satu Palestina — yang kehilangan anak-anak mereka karena perang. Novel itu menunjukkan bahwa luka memiliki bahasa yang sama, bahkan di dua kubu yang berperang.

Fiksi Palestina hidup bukan karena imajinasi, tapi karena luka yang terlalu nyata untuk diucapkan harfiah.

Novel-novel ini menyatukan sejarah dan jiwa, memberi bentuk pada penderitaan yang tidak bisa dijelaskan laporan PBB mana pun.

—

Puisi: Lidah yang Tak Bisa Dibisukan

Kalau film adalah mata dan novel adalah hati, maka puisi adalah jiwa perlawanan.

Mahmoud Darwish, penyair terbesar Palestina, pernah menulis:

“Kami tidak membutuhkan bendera; kami cukup dengan darah yang tahu jalannya pulang.”

Ia menulis tentang cinta, tanah, dan kehilangan — tiga hal yang bagi Palestina tidak bisa dipisahkan.
Puisinya diterjemahkan ke puluhan bahasa, dibacakan di kamp pengungsi dan aula universitas, di mimbar gereja dan masjid.

Fadwa Tuqan, Rashid Hussein, dan Tawfiq Zayyad menulis dari balik pendudukan — menulis dalam bahasa yang dilarang, tapi justru menjadi abadi.
Kini, generasi muda Gaza menulis puisi di media sosial, di tengah suara drone dan jeritan anak-anak.
Mereka menulis bukan untuk dikenal, tapi untuk tidak hilang.

Mereka menulis dengan darah yang berubah menjadi tinta,
dan tinta yang berubah menjadi sejarah.

Puisi adalah bukti bahwa bahkan di tengah kehancuran, manusia masih punya cara untuk berdiri tegak.

—

Berita: Kebenaran yang Tak Bisa Dihapus

Dan akhirnya, datanglah barisan saksi paling dingin — berita.
Ia bukan fiksi, bukan simbol, tapi catatan faktual tentang kematian dan kezaliman yang terjadi setiap hari.

Al Jazeera mencatat pembunuhan jurnalisnya: Shireen Abu Akleh, ditembak mati saat meliput di Jenin.
Kini mereka juga menayangkan kisah Hind Rajab, gadis enam tahun yang tewas setelah terjebak dalam mobil keluarganya di Gaza — selama berjam-jam ia memohon pertolongan lewat telepon, hingga semuanya senyap.

Middle East Eye dan The Guardian menayangkan laporan investigatif tentang penghancuran rumah, kelaparan buatan, dan blokade medis.
Reuters, Associated Press, bahkan CNN kini tak lagi segan memakai kata “genosida.”
Kata yang dulu tabu di ruang redaksi Barat, kini muncul setiap hari.

Lembaga seperti Human Rights Watch dan Amnesty International sejak 2021 telah menetapkan Israel sebagai rezim apartheid.
Dan laporan terbaru PBB menunjukkan: rata-rata 28 anak Palestina dibunuh setiap hari di Gaza.

Setiap angka adalah wajah.
Setiap berita adalah kuburan yang berbicara.

Media bukan lagi sekadar saksi; mereka telah menjadi dokumen sejarah — bukti yang suatu hari akan digunakan untuk menuntut para pelaku kejahatan perang.
Dan bila dunia tetap diam, maka arsip itu akan menjadi dakwaan moral bagi kemanusiaan sendiri.

BACA JUGA:  Jiwa Retak Israel: Menjajah di Timur Tengah yang Ingin Menjadi Eropa

Saksi yang Mengepung

Kini bayangkan: dari empat arah mata angin — film, novel, puisi, berita — semuanya bergerak menuju satu titik yang sama: Gaza.
Dari layar bioskop hingga lembar puisi, dari feed berita hingga rak buku, satu narasi makin tak terbantahkan: ada kejahatan yang sedang terjadi, dan dunia mengetahuinya.

Kamera menatap, pena menulis, suara berbicara — dan sejarah mencatat.
Israel mungkin bisa membungkam satu film, menuduh satu novel, memblokir satu berita. Tapi tidak semua sekaligus.
Kebenaran kini berlipat ganda: setiap kali mereka membungkam satu saksi, sepuluh saksi baru lahir.

Kebenaran tak lagi tinggal di sidang PBB,
tapi di layar, di lembar, di hati manusia.

Mereka yang menulis, merekam, dan bersuara — bukan pejuang dengan senjata, tapi penjaga ingatan.
Dan ingatan, sekali hidup, tak bisa dibunuh.

—

Penutup: Bisakah Berkelit?

Maka pertanyaannya kembali menggema:
Film, novel, puisi, dan berita — saksi yang mengepung Israel, bisakah berkelit?

Tidak.
Karena yang mereka hadapi bukan propaganda, melainkan sejarah.
Dan sejarah, seperti air, selalu menemukan jalannya.

Dunia boleh berpaling,
tapi sejarah tak akan berkelit.

Karena yang mengepung bukan tentara,
melainkan kata yang tak bisa mati. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *