SAAT malam menggulung kota Ramallah, di balik tembok tinggi dan kawat berduri, ada ratusan suara yang terhenti. Bukan karena pepohonan membisu — tapi karena manusia dibungkam oleh tangan tak terlihat. Suara tak hanya hilang; tubuh mulai berteriak.
“Sejak 1967, lebih dari 800 000 warga Palestina telah ditahan oleh Israel.”
Sejak pendudukan awal, sistem penahanan dan penangkapan massal menjadi mesin utama kolonisasi ini — bukan hanya alat nyeri, tetapi inti dari strategi pemukiman.
Dan hari ini, di masa ketika perang di Gaza telah melewati dua tahun, penangkapan massal dan penyiksaan sistemik terhadap warga Palestina mencapai skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, sebagian besar tetap tersembunyi—tersembunyi dari radar media Barat, terbungkam oleh geopolitik dan ketakutan.
“Tahanan dan narapidana Palestina … selama ini diperlakukan sebagai subjek sampingan. Namun praktik-praktik ini berada di pusat mesin kebrutalan, kontrol, dan pendudukan yang telah mengatur setiap aspek kehidupan Palestina sejak 1967.”
—
Jejak di sel: Ketidakadilan dalam diam
Bayangkan sebuah sel: dinding dingin, lantai tanpa selimut, sepotong pakaian musim panas di musim dingin, borgol menempel di pergelangan. Mata tertutup, tangan diikat, lembaga kemanusiaan yang seharusnya datang dilarang masuk. Tak ada pengadilan, tak ada pembela — hanya ketidakpastian dan ketakutan.
Menurut laporan Office of the United Nations High Commissioner for Human Rights (OHCHR), detainee Palestina ditahan secara “arbitrary, prolonged and incommunicado” — tanpa akses ke pengacara, keluarga, atau alasan resmi penahanan.
Hak asasi yang paling dasar — pemberitahuan penahanan, pengadilan cepat — dilewati. Dalam beberapa kasus, mereka “dicuri” dari Gaza, Tepi Barat atau Yerusalem Timur dan dipindahkan ke fasilitas Israel.
Testimoni itu bukan sekadar kata:
“Saya melihat kematian seribu kali,” kata seorang mantan tahanan di penjara Naqab. Ibunya mati tanpa kabar. Tubuhnya dipenuhi penyakit dan bekas luka.
Di kamp -‐ seperti Sde Teiman Detention Camp, sebuah situs yang kini menjadi simbol kekejaman tersembunyi — jenazah dikembalikan ke Gaza dengan tanda-tanda penyiksaan: tangan terikat, kepala tertutup, bekas luka tembak, bahkan jejak tank dan pembunuhan eksekusi. Setidaknya 135 jenazah dikembalikan dengan bukti-bukti itu.
—
“Mereka jadi objek — bukan manusia”
Seorang psikiater Palestina berkata:
“Ketika Anda kehilangan nama, Anda mulai kehilangan nyawa. Di dalam sel itu, Anda bukan tahanan — Anda objek eksperimen.”
Dan laporan membenarkan: Penggunaan senjata baru seperti stun-gun, peluru karet dan senjata elektrik dilaporkan sebagai “ujicoba” pada tahanan Palestina.
Tahanan menyatakan: yang mereka alami bukan pelanggaran sesekali — melainkan kebijakan sistemik yang menyasar mereka hanya karena status mereka sebagai Palestina.
Sebuah langkah kecil di pengadilan Israel menggambarkan impunitas yang merajalela: seorang prajurit Israel divonis hanya tujuh bulan penjara atas penganiayaan berat terhadap tahanan Gaza.
Bukannya jera, ini malah memperkuat pesan—bahwa sistem mengizinkan kekerasan terhadap orang yang sudah tertindas.
—
Penahanan administratif: masa depan yang digantung
Di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, warga Palestina hidup di bawah rezim militer Israel — yaitu hukum militer yang memungkinkan penahanan administratif: ditahan tanpa tuduhan, tanpa pengadilan, dengan bukti rahasia yang tidak bisa diakses pengacara.
Seorang mantan tahanan menceritakan:
“Saya tidak tahu kapan akan dibebaskan. Saya tidak tahu kenapa ditahan. Yang saya tahu: tiap malam saya bertanya-tanya apakah saya akan bangun esok hari.”
Penahanan yang tak jelas ini menjadi alat ketakutan kolektif. Warga hidup dalam bayang-bayang: bisa datang tengah malam tanpa pemberitahuan, tanpa pemeriksaan, tanpa kejelasan.
Dan saat keluar dari sel, banyak yang keluar fisik tetapi tertinggal jiwa mereka.
—
Penjara, perang, dan logika kolonial
Permukiman Israel dan aparat militer bukan hanya di jeruji besi, tapi tersebar di permukaan kehidupan sehari-hari Palestina — check-point, penjara, rumah yang dibongkar, tanah yang direbut. Penjara adalah salah satu sendi logika kolonial: penghilangan kebebasan, penghapusan identitas, penghancuran harapan.
“Tidak ada warga Palestina yang aman,” tulis Zoé Paris. Penangkapan, penyiksaan, dan tahanan sistemik adalah bagian dari proyek kolonial-permukiman: bukan hanya menghentikan perlawanan, tetapi mengekang kehidupan itu sendiri.
Sejak 7 Oktober 2023 saja, Israel dilaporkan menculik dan menahan lebih dari 18.500 warga Palestina — termasuk dokter, mahasiswa, jurnalis.
Jumlah tahanan yang melebihi 11.000 di penjara Israel — termasuk 400 anak dan 49 perempuan — menandai puncak represif sejak Intifada Kedua.
Di tengah perang, penjara berubah menjadi tempat “eksekusi tanpa pengadilan”.
“Kami dicoba, diuji, dihancurkan perlahan,” kata seorang mantan tahanan.
—
Suara yang dibungkam, tubuh yang berbicara
Ketika tahanan akhirnya bebas, mereka membawa luka — bukan hanya fisik, tetapi jiwa yang terkoyak. Wajah-wajah yang dulu penuh harapan kini letih, berat badan turun drastis, kulit diselimuti penyakit. Kisah-kisah ini terdokumentasi oleh lembaga kemanusiaan:
Salah satu tahanan menceritakan bahwa ia “dipukuli hingga buta” selama interogasi.
Ada yang kehilangan hampir setengah berat badan mereka dalam kurun waktu beberapa bulan penahanan.
Tubuh-tubuh ini menjadi bukti berjalan bahwa kekerasan bukan insiden tunggal — tetapi sistem.
Dan ketika senyap menjadi norma, setiap langkah menjadi duri, setiap nafas jadi terbatas.
—
Keberanian dan keterbatasan solidaritas
Kita bisa membaca laporan, menandatangani petisi, tetapi apa artinya ketika sistem tetap berfungsi tanpa konsekuensi?
Beberapa lembaga HAM telah menyerukan investigasi internasional independen. United Nations High Commissioner for Human Rights menyatakan bahwa pelecehan dan penyiksaan yang dilaporkan “melawan hukum humaniter internasional”.
Namun kenyataan: kasus-kasus nyaris nihil penuntutan.
“Lebih dari 1.400 pengaduan penyiksaan telah diajukan ke Kementerian Kehakiman Israel sejak 2001; hanya tiga penyelidikan kriminil dibuka.”
Ketimpangan ini menegaskan struktur kekuasaan: satu pihak yang menahan, satu pihak yang didiamkan.
Solidaritas global memang hadir — tapi sering terhenti di tanda tangan atau unggahan media sosial. Sementara di balik jeruji, keberanian tumbuh dalam senyap: para tahanan yang menolak untuk menyerah meskipun nyaris tak bersuara.
—
Tawanan sebagai kunci pembebasan
“Para tahanan Palestina harus ditempatkan di pusat pertahanan dan solidaritas terorganisasi global.”
Karena untuk memahami konflik ini secara utuh, kita tak hanya melihat ke medan perang, ke tabloid, atau meja diplomasi — tetapi ke sel-sel penjara yang menjadi pilar penindasan.
Konsepnya sederhana: jika Anda ingin meruntuhkan kolonialisme, Anda harus memampukan yang tertahan — bukan hanya mereka yang bebas.
Karena di dalam penjara itulah, dalam kondisi paling ekstrem, harapan bisa lahir kembali. Dan tanpa pengakuan dan keadilan bagi mereka, perdamaian hanyalah ilusi yang dijual.
BACA JUGA: Saat Ilmu Sejarah Membaca Senjakala Israel
Penutup: Menjadi saksi dalam bisu
Saya ingin mengakhiri dengan sebuah dialog kecil. Bayangkan seorang tahanan di sel: ia berkata,
“Saya belajar satu hal: bahwa kebebasan tidak hanya soal pintu terbuka—melainkan bahwa tubuh dan hati belum lagi dikurung oleh rasa takut.”
Ketika kita membaca berita seperti “135 jenazah Palestina yang dimutilasi dikembalikan oleh Israel”, kita seolah melihat angka — padahal itu adalah tulang, darah, dan rasa kehilangan yang tak bisa dibungkam.
Lalu kita bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan?”
Jawabannya tidak hanya di dompet atau unggahan media sosial. Ia ada di keputusan untuk tidak lupa — bahwa ada tubuh-tubuh yang menahan malam panjang agar kita bisa melihat matahari pagi.
“Tidak ada perdamaian di Palestina tanpa menghancurkan negara penjara Israel.”
Kalimat ini bukan seruan kebencian—ia seruan keadilan. Karena penjara ini bukan hanya tempat fisik, melainkan kondisi di mana satu bangsa dibelenggu oleh aturan, kebijakan dan kekerasan yang sistemik.
Ketika tahanan berkembang sebagai simbol, maka pembebasan mereka menjadi pra-syarat bagi keseluruhan kebebasan bangsa.
Karena apa artinya menang jika luka tetap terbuka?
Apa artinya hidup jika sebagian masyarakat tak boleh bernapas bebas?
Kita bisa memilih untuk diam atau menjadi saksi.
Karena bisu kita bukan pelindung—melainkan bagian dari mekanisme yang membiarkan penjara-penjara ini terjadi.
Dan suara-suara yang dibungkam itu tak akan meneriakkan keadilan sendirian. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
