I. Pembukaan: Tiga Suara di Tanah Israel
SUARA satu: “Aku belajar Torah. Aku tidak mengenal senjata.” — Haredi muda di yeshiva Yerushalayim.
Suara dua: “Tanah ini adalah janji Tuhan. Kita akan memperluasnya dan menegakkannya.” — Pemuda Zionis Religius dari pemukiman Samaria.
Suara tiga: “Ini negeri modern, kita butuh industri, inovasi, dan diplomasi — bukan kitab atau penaklukan.” — Profesional Zionis Sekuler di Tel Aviv.
Ketiga suara ini hidup berdampingan namun sering bertabrakan di Israel modern. Mereka bukan label sekadar religi-politik — mereka adalah poros internal yang menggerakkan arah negara. Ketika kita menyorot konflik di Gaza, kita tak hanya melihat perang antar bangsa, tetapi refleksi pertarungan identitas di dalam Israel itu sendiri.
—
II. Tiga Blok Internal Israel: Karakter dan Suaranya
2.1 Haredim (Yahudi Ultra-Ortodoks)
Hidup tertutup, menekan nilai Torah di atas urusan politik dan militer.
Populasi yang tumbuh cepat (sekitar 13% dari rakyat Israel) — menjadikan mereka kekuatan demografis signifikan.
Menolak wajib militer: aksi protes besar di Yerusalem dan Bnei Brak 2025 menandakan penolakan sistematis terhadap integrasi militer.
Politik: Melalui partai seperti Shas dan United Torah Judaism, Haredim selalu menjadi mitra koalisi kanan — bukan karena mereka militan nasionalis, tetapi karena mereka menjamin dukungan pemilih dan stabilitas sosial-agama.
Sementara itu, mereka sering tersingkir dari wacana penaklukan wilayah atau perang besar — lebih memilih kehidupan internasional studi dan komunitas mereka sendiri.
2.2 Zionis Religius (Religious Zionism)
Ideologi menyatukan iman dan nasionalisme: kawasan Tanah Israel (Eretz Yisrael) adalah warisan keagamaan.
Pemuda dari yeshivot Hesder digabungkan militer dan studi Torah — mendorong senjata sebagai sarana penebusan.
Partai-partai seperti Religious Zionist Party, Otzma Yehudit merepresentasikan blok ini: retorika agresif, manifesto perluasan wilayah, pembangunan pemukiman.
Dalam konteks Gaza, Zionis Religius memainkan peran utama sebagai agen ideologis dari kebijakan “tanah, keamanan, misi ilahi”.
2.3 Zionis Sekuler (Secular Zionism)
Kelompok ini mendirikan negara Israel pada 1948: nasionalis, modernis, sekuler — mendukung negara Yahudi tetapi bukan ke dalam kerangka teologis.
Fokus pada ekonomi, teknologi, diplomasi — namun juga bertanggung jawab atas pembangunan dan militerisasi awal Israel.
Dalam politik modern, Zionis Sekuler kadang merasa terpinggirkan oleh koalisi kanan yang semakin dipengaruhi kelompok religius.
Mereka adalah “pembayar pajak”, “penyedia tenaga kerja”, dan sering merasa bahwa mereka menanggung beban militer besar sementara Haredim dibebaskan.
—
III. Geopolitik Internal Israel & Dampaknya ke Gaza
3.1 Koalisi Politik: Timbangan Kekuatan
Israel membentuk pemerintahan melalui koalisi. Keyakinan internal ini: Haredim + Zionis Religius + Zionis Sekuler harus saling berbagi kekuasaan.
Haredim memberi suara pemilih dan stabilitas sosial-agama.
Zionis Religius memberi agenda ekspansi militer dan dominasi wilayah.
Zionis Sekuler memberi legitimasi negara modern dan ekonomi.
Ketika Zionis Religius ingin langkah agresif ke Gaza, mereka memerlukan dukungan koalisi — dan Haredim sering kali menjadi kunci dalam mempertahankan mayoritas legislatif.
Dengan demikian, kebijakan ke Gaza — blokade, operasi militer, pemukiman — mendapat dukungan tak hanya militer, tetapi politik internal yang kompleks.
3.2 Persenjataan Ideologi ke Lembaga Militer
Zionis Religius menembus struktur militer: lulusan Hesder menduduki posisi komando. Ini menjadikan militer Israel — yang dulu sekuler dominan — sekarang semakin “beragama” dalam terminologi dan motivasi.
Operasi Gaza bukan semata strategi militer, tetapi sering diwarnai narasi teologis: “pertarungan antara umat Tuhan dan musuh-amalah (Amalek).”
Sementara Haredim mungkin tidak bertempur langsung, stabilitas politik mereka memungkinkan pelaksanaan kebijakan militer yang ekstrem — karena pemerintahan tahu bahwa koalisi tetap aman.
3.3 Ketegangan Wajib Militer & Beban Sosial
Haredim menolak wajib militer, sementara Zionis Religius dan Zionis Sekuler mendukung mobilisasi penuh. Ketidakseimbangan ini menciptakan ketegangan sosial: Zionis Sekuler dan militer menuntut keadilan dalam beban militer, Haredim menuntut pengecualian demi studi Torah.
Dalam keadaan perang (Gaza 2023-25), beban militer meningkat — ini secara internal memberi dukungan bagi narasi Zionis Religius: “Kita mesti bertahan dan menyerang.” Haredim menuntut pengecualian lebih besar — yang memberi ruang bagi pemerintahan untuk mengejar agenda militer eksternal agar mempertahankan dukungan internal.
3.4 Kebijakan Gaza sebagai Proyeksi Internal
Ketika konflik internal makin kompleks, pemerintahan Israel sering menggunakan perang eksternal sebagai alat stabilisasi domestik. Dengan memfokuskan pada Gaza, pemerintah bisa menyatukan publik — walau sebagian Haredim tetap menolak mobilisasi.
Blokade Gaza, pemukiman, bahkan tuntutan pembersihan etnis — menjadi kebijakan yang mendapatkan “payung” internal: Zionis Religius mendorongnya, Zionis Sekuler melihatnya sebagai keamanan nasional, Haredim tetap berada dalam koalisi untuk mendapatkan jaminan komunitas mereka.
—
IV. Pengaruh Langsung dalam Genosida Gaza
4.1 Doktrin Territorial dan Militer Zionis Religius
Zionis Religius menganggap wilayah Gaza sebagai bagian dari warisan Israel yang harus dikendalikan atau dikosongkan. Pernyataan seperti yang dilontarkan Bezalel Smotrich: “Tidak ada orang tak berdosa di Gaza” menandakan retorika penghapusan.
Militer Israel, yang kini banyak komandonya dari kalangan Religius, melaksanakan operasi besar: pembombardan, pemukiman kembali, blokade—semuanya sesuai visi ideologis. Kebijakan ini sering dikritik sebagai genosida atau pembersihan etnis.
4.2 Legitimasi Koalisi Internal bagi Kebijakan Eksternal
Operasi militer ekstrem hanya bisa dilakukan jika pemerintahan memiliki legitimasi politik. Haredim – meskipun tidak aktif bertempur – memberi stability internal melalui suara mereka, yang memungkinkan pemerintahan kanan melaksanakan kebijakan Gaza tanpa takut kehilangan mayoritas.
Zionis Sekuler mungkin merasa diberangus, tapi karena koalisi tetap berjalan, rasionalisasi keamanan memberi mereka alasan: “kami semua di bawah ancaman.”
4.3 Konflik Internal sebagai Pemicu Eskalasi
Ketika Haredim memprotes wajib militer dan menuntut pengecualian, pemerintahan menghadapi dilema: jika tunduk terlalu banyak → kehilangan dukungan Zionis Religius; jika paksakan → pecah koalisi.
Salah satu “jalan keluar” adalah memperluas konflik ke Gaza sebagai bentuk legitimasi eksternal. Dengan demikian, pembersihan Gaza bukan hanya produk kebijakan militer, tetapi hasil logika dalam negeri: eskalasi sebagai jawaban terhadap tekanan internal.
—
V. Akibat Ketegangan Internal: Masa Depan yang Berbahaya
5.1 Jika Haredim terus menolak wajib militer
Ketegangan domestik akan makin membesar. Militer menuntut pasukan, publik menuntut keadilan — sementara Zionis Religius menuntut kemenangan. Ini bisa memaksa pemerintahan untuk mengambil langkah militer yang lebih ekstrim sebagai kompensasi internal.
5.2 Jika Zionis Religius terus mendominasi agenda militer
Israel akan semakin terisolasi secara internasional. Kebijakan Gaza yang menuntut penghapusan nama bagi warga Sipil, pembangunan pemukiman secara besar-besaran, akan membawa sanksi, penurunan dukungan internasional, dan potensi konflik internal antara sekuler dan religius.
5.3 Zionis Sekuler sebagai kekuatan yang terpinggirkan
Jika kelompok ini terus merasa dibebani oleh wajib militer sementara pengecualian terus untuk Haredim, maka ketidakpuasan domestik meningkat — yang bisa memecah kohesi nasional. Dan ketika kohesi nasional rapuh, konflik eksternal seperti Gaza bisa digunakan sebagai pengalih.
—
VI. Refleksi: Dialog Akhir
Suara Haredim: “Kami lebih baik dipenjara daripada memakai seragam.”
Suara Zionis Religius: “Kami wajib memperluas tanah, karena Tuhan memerintah.”
Suara Zionis Sekuler: “Kami ingin negara modern, tapi kami jadi bayang-bayang di negeri sendiri.”
Di tengah suara-suara itu, Gaza menjerit. Anak-anaknya bukan bagian dari perdebatan internal kita — tetapi keputusan kita berdampak ke mereka.
—
VII. Kesimpulan
Haredim, Zionis Religius, dan Zionis Sekuler bukan hanya label dalam politik Israel — mereka adalah mesin ideologi internal yang menggerakkan arah negara dan kebijakan luar negeri.
Ketika mereka saling bertemu dalam koalisi, konflik eksternal seperti Gaza menjadi panggung implementasi ideologi mereka: perang, penaklukan, penghapusan identitas.
Konflik Gaza bukanlah fenomena terpisah dari Israel — ia adalah gema dari konflik dalam Israel itu sendiri. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

