Merokok karena Stres: Jalan Pintas yang Justru Mempercepat Penyakit dan Kematian

4 Min Read
Foto: Freepik

BANYAK orang mengaku merokok untuk menenangkan diri ketika stres. Asap rokok seolah menjadi teman yang membantu melepas tekanan, kecemasan, atau kelelahan mental. Namun di balik rasa “tenang” sesaat itu, terdapat bahaya besar yang mengintai. Secara ilmiah, merokok justru memperburuk kondisi stres dan meningkatkan risiko berbagai penyakit mematikan, termasuk penyakit jantung, stroke, kanker, dan gangguan paru-paru kronis.

Secara biologis, saat seseorang mengalami stres, tubuh melepaskan hormon kortisol dan adrenalin. Hormon-hormon ini membuat jantung berdetak lebih cepat, tekanan darah naik, dan sistem saraf bekerja lebih keras. Banyak orang mencoba menenangkan diri dengan nikotin — zat adiktif dalam rokok yang memberikan sensasi relaksasi sementara. Nikotin bekerja dengan menstimulasi pelepasan dopamin, yaitu neurotransmiter yang menimbulkan rasa senang. Karena itu, perokok merasa seolah stres mereka “mereda”.

Namun, efek ini sangat menipu. Dalam jangka panjang, otak menjadi bergantung pada nikotin untuk menghasilkan dopamin. Akibatnya, tanpa rokok, seseorang justru menjadi lebih mudah stres, cemas, dan gelisah. Ini menciptakan lingkaran setan kecanduan: stres memicu keinginan merokok, lalu rokok memperparah stres ketika efeknya hilang. Secara ilmiah, ini disebut “nicotine withdrawal cycle” — mekanisme yang membuat perokok sulit berhenti dan terus terjebak dalam kebiasaan berbahaya.

Selain efek psikologis, merokok karena stres mempercepat kerusakan fisik. Nikotin dan ribuan zat kimia beracun dalam asap rokok — seperti tar, karbon monoksida, dan formaldehida — merusak pembuluh darah dan jaringan tubuh. Karbon monoksida menurunkan kadar oksigen dalam darah, membuat jantung bekerja lebih keras untuk menyuplai oksigen ke otak dan organ lainnya. Dalam jangka panjang, hal ini meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke.

Penelitian oleh World Health Organization (WHO) dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menunjukkan bahwa perokok memiliki risiko kematian dini dua kali lebih tinggi dibandingkan non-perokok. Setiap batang rokok yang dihisap memperpendek usia sekitar 11 menit. Bahkan, sekitar 8 juta orang di dunia meninggal setiap tahun akibat kebiasaan merokok, baik secara langsung maupun karena paparan asap rokok orang lain (perokok pasif).

Selain itu, merokok juga memperparah dampak stres terhadap sistem imun. Nikotin dan bahan kimia lain menurunkan jumlah sel darah putih, melemahkan pertahanan tubuh terhadap infeksi dan peradangan. Itulah sebabnya perokok lebih rentan terhadap bronkitis kronis, pneumonia, hingga kanker paru-paru. Secara ilmiah, peradangan kronis akibat asap rokok menyebabkan mutasi DNA sel paru yang berujung pada pertumbuhan sel kanker.

BACA JUGA: Hati-hati dan Waspada, Stroke Bisa Menyerang Anak Muda!

Dari sisi mental, merokok karena stres bukan solusi, melainkan penundaan masalah. Sebuah studi dari University College London (2021) membuktikan bahwa setelah berhenti merokok selama beberapa minggu, tingkat stres dan kecemasan justru menurun signifikan dibandingkan sebelum berhenti. Ini menunjukkan bahwa otak sebenarnya lebih stabil tanpa nikotin.

Kesimpulannya, merokok karena stres hanyalah ilusi ketenangan. Yang sebenarnya terjadi adalah tubuh dan pikiran dipaksa bergantung pada racun yang perlahan merusak kesehatan. Jalan keluar dari stres bukan dengan asap, melainkan dengan pernapasan dalam, olahraga, meditasi, atau terapi alami seperti bekam dan relaksasi saraf. Karena pada akhirnya, ketenangan sejati datang dari tubuh yang sehat dan pikiran yang jernih — bukan dari sebatang rokok yang membakar masa depan. []

Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.

Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *