DI sebuah kota kecil yang pagi harinya selalu berbau tanah basah dan doa ibu-ibu yang terbit sebelum matahari, seorang imam berdiri di mimbar. Suaranya lembut, tapi setiap kalimat yang keluar seperti mengetuk pintu hati yang paling dalam.
Ia berbicara tentang satu kalimat sederhana—
“Insya Allah.”
Satu frasa yang sering diucapkan sambil lalu, padahal ia adalah pengakuan jujur bahwa kita hanyalah hamba, dan masa depan bukan milik kita.
Beberapa hari kemudian, di jalan tanah yang menuju pasar hewan, seorang lelaki melangkah dengan langkah penuh keyakinan. Di kepalanya hanya ada satu tujuan: membeli sapi. Ia merasa kuat. Ia merasa mampu. Ia merasa cukup.
BACA JUGA: Kaos Kaki Sobek Warisan Ayah
Seorang teman menyapanya, menanyakan ke mana ia hendak pergi.
“Aku akan membeli sapi,” jawabnya mantap—tanpa jeda, tanpa embun kerendahan hati, tanpa Insya Allah.
Temannya tersenyum kecil, mengingatkannya pada khutbah Jumat yang baru saja mereka dengar.
“Saudaraku… jangan lupa mengatakan Insya Allah.”
Namun lelaki itu tertawa pelan, penuh percaya diri.
“Aku punya uangnya, aku punya tenaganya. Aku pasti bisa membelinya. Mengapa harus mengatakan Insya Allah?”
Seolah dunia berada dalam genggamannya.
Seolah tak ada yang mampu mengguncang rencananya.
Di pasar yang bising, ia menemukan sapi yang selama ini ia bayangkan. Negosiasi berjalan manis, harga telah disepakati. Hatinya mengembang.
Tapi saat tangan merogoh saku untuk membayar—
kosong.
Bukan sekadar kosong, tapi mengejutkan.
Dingin.
Menggigit.
Uang itu lenyap.
Digondol pencuri di tengah keramaian.
Penjual menatapnya sambil menunggu jawaban.
“Jadi… kau jadi membeli sapi ini atau tidak?”
Lelaki itu menelan ludah, dan untuk pertama kalinya hari itu—
ia merasakan kelembutan sekaligus ketajaman sebuah kalimat:
“Insya Allah… saya akan membelinya minggu depan.”
Betapa sering kita baru merendah setelah dunia menampar kita dengan pelan.
Di rumah, istrinya yang bijak bertanya tentang sapi yang hendak dibeli.
Ia menceritakan semuanya, bahkan menambahkan,
“Insya Allah uangku dicuri… Insya Allah aku akan membelinya minggu depan.”
Istrinya tersenyum lirih. Sebuah senyum yang membawa hikmah.
“Kita mengucapkan Insya Allah untuk hal yang belum terjadi, bukan untuk hal yang sudah Allah tetapkan terjadi,” katanya lembut.
Kalimat itu menembus hatinya lebih dalam dari kehilangan yang baru ia alami.
Sejak hari itu, lelaki tersebut tak pernah lagi lupa mengatakan Insya Allah—bukan sekadar sebagai kebiasaan di bibir, tapi sebagai kesadaran bahwa masa depan bukan ladang yang bisa kita garap sesuka hati.
Renungan Pelan untuk Kita Semua
Kadang, kita berjalan terlalu yakin.
Kadang, kita menenteng rencana seolah takdir telah kita kantongi.
Kadang, kita lupa bahwa hanya Allah yang memiliki esok.
Mengatakan Insya Allah bukan tanda kelemahan.
Itu tanda bahwa kita sadar:
Ada zat yang lebih tahu, lebih kuasa, lebih dekat kepada masa depan kita daripada diri kita sendiri.
BACA JUGA: Amplop Titipan Ustad
Sebab yang kuat saja bisa runtuh,
yang pasti saja bisa lenyap,
yang digenggam saja bisa hilang—
dalam hitungan detik.
Dan mungkin, yang kita perlukan hanyalah sebuah kalimat pendek
untuk mengingatkan diri:
Aku merencanakan, tapi Allah yang menentukan.
Insya Allah.
Kalimat kecil, namun mampu menuntun langkah menjadi lebih rendah hati, lebih tenang, dan lebih berserah. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

