Akhir Mengenaskan Abdullah bin Ubay

4 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos Media

DI tepian kota Madinah, angin sore berhembus lesu, membawa jejak-jejak kisah yang telah lama dikubur oleh waktu. Daun kurma bergetar pelan, seakan ikut meratap atas sosok yang namanya terpatri bukan karena kemuliaan, melainkan karena pengkhianatan yang tak termaafkan oleh sejarah. Dialah Abdullah bin Ubay bin Salul — lelaki yang hampir saja dinobatkan sebagai raja Yatsrib sebelum cahaya Islam datang memberkati kota itu.

Sejak Rasulullah ﷺ hijrah ke Madinah, iri hati mulai berakar dalam dadanya. Bukan sekadar cemburu, tetapi bara yang membakar jiwa. Ia melihat manusia yang dahulu memujanya berubah mengelilingi seorang Nabi yang membawa wahyu dari langit. Dan ia tak mampu menerima kenyataan itu. Diam-diam, ia menanam benih permusuhan, menyemai fitnah, dan memelihara dendam.

Dalam Perang Uhud, langkahnya terungkap. Dengan wajah tanpa malu, ia menarik sepertiga pasukan dari medan perang. Pedang kaum muslimin masih terhunus, tetapi dari belakang ia menancapkan belati pengkhianatan. Di mulutnya tersenyum, namun di hatinya gelap — hitam pekat seperti malam tanpa rembulan.

BACA JUGA:  14 Keutamaan Kota Mekkah

Hari-hari berikutnya, namanya terus bergema sebagai pemuka kaum munafik. Dialah yang menyulut bara fitnah terhadap Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Kata-kata busuknya menyebar seperti asap racun di jalan-jalan Madinah, membuat hati goyah dan wajah pucat karena kegelisahan. Hingga Allah sendiri menurunkan ayat membersihkan kehormatan sang istri Nabi, dan menjatuhkan laknat atas para penyebar dusta.

Namun waktu tak pernah abadi. Musim berganti, usia merangkak senja. Abdullah bin Ubay terbaring lemah, tubuhnya digerogoti sakit yang tak kunjung sembuh. Di sekelilingnya, para pengikut munafik terdiam kelu; mulut yang dulu lantang kini kelu menatap lelaki yang sekarat. Tidak ada lagi kebanggaan, tidak ada lagi harga diri. Yang tersisa hanyalah penyesalan yang terlambat.

https://shopee.co.id/product/1343587831/27310804639?gads_t_sig=VTJGc2RHVmtYMTlxTFVSVVRrdENkVHQ3ZkZSUTMrR3pBWmZZNzdrcnRBMGQ5Mk1KZHhtSGtnTWtzVThsYU9vOW9tR2ttNnRJQnBkZzdXbEhLallWVVd0TzlrNHYzQm1QOGxrd1Awcy9PZ0xwMjZMWVZLUXYwa1J6Q0cra0xUbFVWS2VPeGU4dVZFM3R2aVRYV0lrOEgyUzJ1Nk5RVTUxTjVHeVZ0enhPNGRzPQ&mmp_pid=an_11336250108&uls_trackid=54johp4400l6&utm_campaign=id_HSaHp71NrV&utm_content=----&utm_medium=affiliates&utm_source=an_11336250108&utm_term=e8k5u62pusnw

Ketika nafasnya semakin berat, hatinya bergetar oleh ketakutan yang ia sembunyikan sepanjang hidupnya. Dia meminta kepada Rasulullah ﷺ agar mengampuninya, mengharapkan seberkas cahaya yang selama ini ia padamkan sendiri. Rasulullah ﷺ mendatanginya — dengan akhlak yang tak pernah pudar walau kepada musuh paling busuk — namun langit telah menentukan keputusan lain.

Ruhnya keluar dalam kegelisahan. Tidak ada senyum terakhir, tidak ada kedamaian di wajahnya. Para sahabat memalingkan muka, enggan menshalatinya. Dan Allah menurunkan ayat yang menggema hingga akhir zaman:

“Janganlah engkau (wahai Muhammad) menshalati seorang pun dari mereka yang mati selama-lamanya, dan janganlah engkau berdiri di atas kuburnya…” (QS. At-Taubah: 84)

Maka ia dikuburkan tanpa kehormatan—di tanah yang dingin dan sunyi. Tidak ada seruan salam, tidak ada doa yang mengiringi. Hanya tanah yang menutup tubuhnya seperti lembaran sejarah yang enggan dibuka kembali.

BACA JUGA: 2 Menantu Rasulullah Ini Ternyata Anak dari Abu Lahab

Dan Madinah melanjutkan hidupnya tanpa namanya.
Burung-burung kembali berkicau, matahari kembali bersinar, dan manusia belajar satu pelajaran abadi:

Permusuhan terhadap kebenaran tidak pernah membawa kejayaan. Dan kemunafikan selalu berakhir dalam kehinaan.

Adapun nama-nama yang jujur akan terus bersinar,
sedangkan nama-nama pengkhianat akan terkubur,
bukan hanya di bawah tanah,
melainkan di kedalaman hati manusia yang mengenang sejarah. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *