Sabarnya Imam Hasan al-Bashri Menghadapi Tetangganya Hingga Masuk Islam

3 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DI kota yang disirami angin asin dari sungai dan langit yang kadang lupa tersenyum, terbaringlah seorang lelaki tua pecinta malam—Hasan Al-Bashri dari Basrah, yang namanya biasa bergetar di bibir para perindu.

Pada suatu musim, tubuhnya luruh, seakan tulang-tulangnya menjadi ranting rapuh di bawah hujan takdir. Langkahnya tak lagi sampai ke mihrab, suaranya tak lagi bergema di lingkar-lingkar ilmu. Masjid raya pun terasa lebih lengang, seperti taman yang kehilangan mata air.

Orang-orang datang bagai ombak kecil menyentuh tepi ranjangnya: rakyat jelata, bangsawan, para penguasa yang biasanya lupa menundukkan kepala. Mereka membawa doa-doa, seperti burung yang dilepas dari dada, berharap sayapnya menyentuh langit.

BACA JUGA:  7 Mutiara Nasihat Imam Hasan Al-Bashri: Renungan untuk Jiwa yang Lelah

Di atas atap rumah kayunya, hiduplah seorang tetangga yang bukan dari kiblat yang sama, seorang Nasrani.

Namun dilimpahi rasa ingin tahu yang jernih. Ia datang menjenguk, bukan hanya membawa sopan santun, tetapi juga keheranan: dari ruang tengah rumah itu, terbit aroma pahit, bau kesakitan yang tak bersuara.

Ia naik ke lantai atas. Lantai kayu di bawah kakinya berderit seperti mengadu. Dan di sanalah ia melihatnya: sebuah wadah tua, bocor, meneteskan sesuatu yang seharusnya disimpan dalam sunyi. Tanpa gaduh, tanpa celaan, ia mengangkatnya. Lalu ia melangkah ke luar, membuang isinya sejauh lemparan hati yang ingin menebus.

Ketika ia kembali, ia berdiri di sisi ranjang Hasan Al-Bashri, dan suaranya gemetar seperti daun yang bertanya pada angin.

“Wahai lelaki yang mengajarkanku diam tanpa kata… sudah berapa lama engkau memanggul malu yang seharusnya kupikul?”

Hasan Al-Bashri yang sedang sakit itu tersenyum, senyum yang tak bersandar pada kuatnya tubuh, melainkan pada luasnya jiwa.

“Dua puluh tahun,” katanya pelan, seperti menyebut bilangan yang tak ingin dibesar-besarkan.

Langit di langit-langit rumah itu seakan runtuh ke dalam dada sang tetangga. Ia membuka ikat pinggang yang selama ini mengikat keyakinannya seperti membuka simpul dari jantungnya sendiri. Ia berdiri, dan kata-katanya jatuh bukan ke lantai, melainkan ke langit.

BACA JUGA:  Imam Hasan Al-Bashri dan Nasihatnya tentang Tetangga, Utang, dan Kematian

“Aku bersaksi, tiada cahaya yang patut disembah selain Dia. Dan Muhammad adalah utusan cahaya itu.”

Dan malam di Basrah, yang biasanya sunyi, tiba-tiba terasa seperti subuh yang terlalu cepat datang—di sebuah rumah sempit, tubuh yang lemah telah melahirkan iman pada jiwa yang sebelumnya berjalan dalam bayang-bayang.

Diam-diam, dunia menjadi sedikit lebih terang.

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *