DI sudut sore yang teduh, dua perempuan berkerudung sampir duduk berhadapan. Kerudung mereka jatuh lembut di bahu, seolah menyimpan rahasia yang siap dilepas perlahan.
A mendekatkan wajahnya, suaranya direndahkan seperti angin yang takut terdengar. Ia bercerita tentang C, tentang pertengkaran yang pecah dua hari lalu, tentang sebuah nomor di layar ponsel suami—nama laki-laki, suara perempuan. Tawa kecilnya mengalir, tipis namun tajam.
B hanya mengangguk. Heningnya bukan kosong, melainkan penuh, seperti wadah yang siap diisi cerita berikutnya.
Hari lain, B dan C duduk berdua. Kata-kata B tumpah tanpa ditahan. Tentang D yang selalu terlambat, tentang utang yang susah ditagih, tentang rasa jengkel yang lama dipelihara. C terkejut, lalu tersenyum getir. Rupanya luka yang sama bisa terasa serupa di dada yang berbeda.
Giliran C bertemu D. Nada suaranya berubah, lebih panas, lebih berani. Ia mengeluh tentang A, tentang ucapan yang tak disaring, tentang sikap seolah paling benar. D mengangguk mantap, merasa tak sendiri. Persetujuan itu terasa seperti kelegaan, padahal diam-diam menambah berat di timbangan jiwa.
Lalu datanglah hari ketika mereka berkumpul di sebuah kafe. Empat perempuan, empat kerudung sampir, satu meja. Kamera ponsel diangkat. Senyum dipasang. Tawa dilepas. Foto diunggah ke Instagram dengan caption manis: “Kebersamaan yang indah.”
Tak ada yang tahu, di balik bingkai persegi itu, ada kata-kata yang pernah berkelana tanpa izin.
BACA JUGA: Adab dan Aturan Tidak Tertulis tentang WhatsApp (WA)
Padahal, setiap jiwa akan dikumpulkan dengan jiwa yang serupa. Lidah yang gemar membicarakan akan menemukan lingkarannya sendiri. Dan siapa yang terbiasa menggunjing orang lain, sesungguhnya sedang membuka pintu agar dirinya digunjing saat ia pergi.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan, ketika ditanya tentang ghibah, beliau bersabda bahwa menyebut saudaramu dengan apa yang ia benci adalah ghibah; sekalipun itu benar. Kebenaran yang melukai tetaplah dosa, dan kebohongan yang menyertainya lebih berat lagi.
Maka berhati-hatilah dengan tawa yang terlalu mudah, dan percakapan yang terlalu ringan. Bisa jadi, di sanalah amal-amal kita luruh—pelan, tapi pasti. []
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
