Aisyah r.a. pernah mengisahkan sebuah peristiwa yang sunyi, namun sarat makna. Pada suatu malam, Rasulullah ﷺ mendengar suara seorang sahabat yang sedang mengerjakan shalat malam di masjid. Suaranya lirih, bacaan Al-Qur’annya tenang, namun menembus keheningan.
Mendengar itu, Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah pasti akan merahmatinya.”
Tidak ada teguran. Tidak pula nasihat panjang. Hanya sebuah pengakuan langit terhadap ibadah yang dilakukan tanpa riuh, tanpa ingin dilihat siapa pun.
Pada kesempatan lain, Rasulullah ﷺ sendiri sedang mengerjakan shalat malam. Di tengah munajatnya, beliau kembali mendengar suara bacaan Al-Qur’an dari masjid. Suara itu kali ini lebih dikenali—jernih, khusyuk, dan penuh penghayatan.
Beliau pun bertanya kepada Aisyah r.a.,
“Wahai Aisyah, apakah itu Ibad ibn Bisyr?”
“Ya,” jawab Aisyah.
Mendengar kepastian itu, Rasulullah ﷺ pun berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia.”
Dua peristiwa ini menunjukkan satu hal yang sama: Rasulullah ﷺ tidak sekadar melihat ibadah sahabatnya, tetapi juga menyaksikannya dengan hati. Shalat malam yang dilakukan dalam sunyi tidak pernah benar-benar tersembunyi. Ia disaksikan oleh Rasulullah ﷺ, lalu diangkat ke langit melalui doa dan pujian beliau.
Di hadapan manusia, shalat itu mungkin tak dikenal. Namun di sisi Rasulullah ﷺ—dan di sisi Allah—ia memiliki nilai yang besar. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
