Dari Perut Ikan ke Kebun Thaif: Ketika Nama Yunus Menguatkan Langkah Muhammad ﷺ

Nasrulloh Baksolahar
7 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

DALAM sejarah kenabian, tidak semua pertolongan Allah datang dalam bentuk kemenangan terbuka. Sebagian justru hadir dalam bentuk pertemuan kecil, dialog singkat, atau satu nama yang diucapkan pada saat yang tepat. Seperti nama Yunus—yang diucapkan Rasulullah ﷺ di sebuah kebun anggur di Thaif, ketika seluruh dunia seolah menutup pintunya.

Tahun Kesedihan: Titik Terendah Dakwah

Sejarah mencatatnya sebagai ‘Āmul Ḥuzn, tahun kesedihan. Dalam waktu yang berdekatan, Rasulullah ﷺ kehilangan dua penopang utama dakwahnya: Khadijah binti Khuwailid, istri sekaligus penenang jiwanya, dan Abu Thalib, paman yang selama ini menjadi pelindung sosial di tengah kerasnya Quraisy.

Sejak wafatnya Abu Thalib, tekanan di Mekah meningkat drastis. Rasulullah ﷺ tidak lagi hanya dicemooh, tetapi mulai disakiti secara fisik. Perlindungan kabilah melemah. Jalan dakwah terasa semakin sempit.

Dalam kondisi itulah Rasulullah ﷺ mengambil langkah yang secara strategis tampak logis namun secara emosional sangat berat: pergi ke Thaif. Kota itu dikenal sebagai pusat ekonomi dan pertanian, serta memiliki pengaruh politik di Hijaz. Harapannya sederhana: ada telinga yang mau mendengar, ada hati yang mau menerima.

Namun Thaif justru mencatat salah satu episode paling menyakitkan dalam hidup Rasulullah ﷺ.

Thaif: Penolakan yang Berdarah

Alih-alih sambutan, Rasulullah ﷺ justru menerima penghinaan. Para pemuka Thaif tidak hanya menolak dakwahnya, tetapi menghasut anak-anak dan budak untuk melempari beliau dengan batu. Darah mengalir dari kaki beliau hingga membasahi sandal.

Dalam kondisi terluka, Rasulullah ﷺ berlindung di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi‘ah, dua tokoh Quraisy Mekah. Di sanalah beliau duduk, bukan untuk meratapi nasib, melainkan menengadah ke langit, melafalkan doa yang kelak dikenang sebagai salah satu doa paling menyayat dalam sejarah Islam:

“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, sedikitnya upayaku,…”

Doa itu bukan keluhan. Ia adalah pengakuan total seorang nabi yang sepenuhnya bersandar kepada Tuhannya.

BACA JUGA:  Perceraian di Era Rasulullah ﷺ

Adas: Sosok Kecil dari Negeri Besar

Melihat kondisi Rasulullah ﷺ, Utbah dan Syaibah—meski memusuhinya—merasa iba. Mereka memerintahkan seorang budak Nasrani bernama Adas untuk mengantarkan sepiring anggur.

Adas bukan orang Arab. Ia berasal dari Ninawa, sebuah wilayah di Irak yang memiliki jejak kenabian besar. Ninawa bukan kota sembarangan; ia adalah negeri Nabi Yunus a.s.

Ketika Adas menyerahkan anggur itu, Rasulullah ﷺ mengucapkan satu kalimat sederhana yang mengubah segalanya:

“Bismillah.”

Adas tertegun. Di Thaif, orang-orang tidak memulai makan dengan menyebut nama Allah.

“Ucapan ini tidak biasa di negeri ini,” kata Adas.

Rasulullah ﷺ pun bertanya dengan lembut:

“Dari mana asalmu?”

“Dari Ninawa,” jawab Adas.

Di titik inilah sejarah bergetar.

Nama Yunus di Tengah Luka

Rasulullah ﷺ tersenyum dan berkata:

“Dari negeri orang saleh—Yunus bin Matta.”

Adas tersentak. Ia tahu siapa Yunus. Ia mengenal kisah nabi itu dari ajaran Nasrani. Bagaimana mungkin seorang Arab yang ditolak, disakiti, bahkan dituduh gila, mengenal dan menyebut Nabi Yunus dengan penuh penghormatan?

“Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?” tanya Adas dengan suara gemetar.

Rasulullah ﷺ menjawab:

“Ia adalah saudaraku. Ia seorang nabi, dan aku juga seorang nabi.”

Adas tidak mampu menahan emosinya. Ia menangis, lalu mencium kepala, tangan, dan kaki Rasulullah ﷺ. Di tengah kebun yang sunyi, di saat seluruh Thaif menolak, Allah menghadirkan satu hati dari negeri Yunus untuk menguatkan Muhammad ﷺ.

Yunus dan Muhammad: Dua Jalan Sunyi Kenabian

Pertemuan ini bukan kebetulan. Ia adalah isyarat ilahi yang menghubungkan dua kisah kenabian.

Nabi Yunus a.s. pernah berada di titik keputusasaan. Ia meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah, lalu ditelan ikan besar. Dalam kegelapan laut dan perut ikan, Yunus melantunkan doa yang diabadikan Al-Qur’an:

“Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Allah menyelamatkannya. Lebih dari itu, kaum Yunus menjadi satu-satunya kaum yang beriman secara massal setelah azab diancamkan.

Rasulullah ﷺ pun berada di titik terendahnya di Thaif. Bedanya, beliau tidak pergi karena marah. Beliau justru berkata:

“Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Jika Yunus diselamatkan dari perut ikan, maka Muhammad ﷺ diselamatkan dari keletihan batin, melalui satu pertemuan kecil dan satu nama besar.

Mengapa Yunus?

Mengapa Allah menghadirkan Adas dari Ninawa, bukan dari kota lain?

Dalam tafsir dan sirah, Surah Yunus dikenal sebagai surah penguat dakwah di masa tekanan Mekah. Ia turun untuk menegaskan bahwa penolakan umat bukan tanda kegagalan nabi. Bahkan seorang nabi seperti Yunus pun pernah diuji dengan penolakan dan kesendirian.

Dengan menyebut Yunus di hadapan Adas, Rasulullah ﷺ seolah sedang diteguhkan kembali:

bahwa jalan ini pernah dilalui nabi lain,

bahwa kesabaran memiliki ujung,

dan bahwa penolakan hari ini bisa berubah menjadi penerimaan esok hari.

Pertolongan yang Tidak Selalu Besar

Adas bukan pemimpin. Bukan bangsawan. Bukan tokoh berpengaruh. Namun dalam sunnatullah, penguatan sering datang bukan dari kekuasaan, melainkan dari kesaksian kebenaran.

Dalam catatan sejarah, Utbah dan Syaibah bahkan menegur Adas:

“Celaka kamu! Jangan sampai orang itu memalingkanmu dari agamamu.”

Namun Adas menjawab dengan keyakinan:

“Tidak ada yang lebih baik daripada apa yang dikatakannya.”

Di saat kaum Quraisy menutup semua pintu, Allah membuka satu pintu kecil—cukup untuk menjaga hati Rasulullah ﷺ tetap tegak.

BACA JUGA: Saat Rasulullah ﷺ Menyaksikan Sahabatnya Shalat Malam

Dari Thaif Menuju Hijrah Besar

Peristiwa Thaif dan pertemuan dengan Adas menjadi jembatan psikologis dan spiritual menuju fase besar berikutnya: hijrah ke Madinah. Ia membuktikan bahwa meski Mekah dan Thaif menolak, masih ada hati-hati lain yang siap menerima cahaya.

Sebagaimana Yunus kembali kepada kaumnya dan mendapati mereka beriman, Rasulullah ﷺ pun kelak kembali ke Mekah—bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai pembawa ampunan.

Penutup: Dakwah Tidak Pernah Sia-Sia

Kisah Yunus dan Adas mengajarkan satu hal mendasar: dakwah tidak pernah sia-sia. Ia hanya bergerak dalam waktu dan cara yang Allah kehendaki.

Kadang Allah tidak mengubah satu kota, tetapi mengirim satu orang. Kadang bukan kemenangan yang datang, tetapi penguatan jiwa agar seorang nabi mampu melangkah ke fase berikutnya.

Di kebun Thaif itu, Rasulullah ﷺ tidak memenangkan kota. Tetapi beliau memenangkan satu hati—dan dengan itu, Allah menjaga agar cahaya kenabian tetap menyala.

Karena sejarah besar sering kali diselamatkan oleh peristiwa kecil yang dipilih Allah dengan sangat presisi. []

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *