DI tengah hiruk-pikuk kehidupan, manusia sering terjebak pada kesibukan yang keliru. Mata terlalu sibuk mengamati kesalahan orang lain, telinga gemar menangkap kabar yang belum tentu benar, dan lisan ringan mengomentari aib sesama. Padahal, para salafus shalih sejak awal telah mengingatkan: jalan keselamatan bukan pada mengawasi manusia, melainkan pada mengoreksi diri sendiri. Muhasabah—introspeksi yang jujur—adalah cermin yang membersihkan hati, bukan kaca pembesar untuk mencari noda orang lain.
Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, khalifah keempat yang dikenal dalamnya ilmu dan tajamnya hikmah, mewariskan nasihat yang ringkas namun menghunjam ke relung jiwa. Dua pesan ini bukan sekadar adab sosial, tetapi fondasi akhlak dan keselamatan akhirat.
Pesan pertama beliau adalah larangan keras untuk sibuk mengurusi aib orang lain.
“Jangan mengawasi orang lain, jangan mengintainya, jangan membuka aibnya, jangan menyelidikinya.”
Nasihat ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 12, yang melarang tajassus (mencari-cari kesalahan) dan ghibah. Mengintai aib saudara seiman bukan hanya merusak hubungan, tetapi juga mengeraskan hati dan menumbuhkan kesombongan terselubung—merasa diri lebih bersih dibanding yang lain.
Ulama salaf memahami bahaya ini dengan sangat dalam. Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata, “Jika engkau sibuk membicarakan aib orang lain, ketahuilah bahwa engkau telah lupa terhadap aib dirimu sendiri.” Karena sejatinya, siapa yang hatinya hidup akan lebih takut pada dosanya sendiri daripada dosa manusia lain.
Pesan kedua Ali bin Abi Thalib lebih tajam dan menenangkan sekaligus.“
Sibuklah dengan diri kalian, perbaiki aibmu, karena kamu akan ditanya (Allah) tentang dirimu, bukan tentang orang lain.”
Inilah inti muhasabah. Setiap jiwa akan berdiri sendiri di hadapan Allah. Tidak ada nilai plus karena berhasil membongkar kesalahan orang lain, tetapi ada keselamatan bagi mereka yang jujur menilai diri dan sungguh-sungguh memperbaikinya.
BACA JUGA: 6 Kunci Surga Menurut Ali bin Abi Thalib
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menguatkan makna ini dengan ucapannya yang masyhur, “Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.” Muhasabah bukan sekadar mengingat dosa, tetapi melahirkan taubat, kerendahan hati, dan kesungguhan untuk berubah.
Jika seorang hamba benar-benar sibuk memperbaiki hatinya, waktunya tidak akan tersisa untuk mengorek aib manusia. Ia akan lebih sering menangis atas dosanya sendiri daripada tertawa atas jatuhnya orang lain. Inilah muhasabah yang diajarkan para sahabat dan diwariskan oleh para ulama salaf—jalan sunyi yang membawa cahaya, menenangkan jiwa, dan mengantarkan keselamatan di hari perhitungan. []
___________
Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.
___________
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE




