PADA suatu sore yang bening, Nabi Sulaiman a.s. duduk di tepi danau. Airnya tenang, memantulkan langit seperti cermin yang sedang berzikir. Angin berjalan pelan, seakan takut mengganggu tafakur seorang nabi yang dianugerahi bahasa makhluk-makhluk kecil.
Di hadapannya, seekor semut melangkah tekun. Tubuhnya ringkih, tetapi punggungnya memikul sebutir gandum—sebuah beban yang, bagi dunia semut, adalah amanah besar. Langkahnya lurus menuju tepi danau, tanpa ragu, tanpa menoleh.
Tiba-tiba air beriak. Seekor katak muncul dari kedalaman, membuka mulutnya lebar. Tidak ada kegelisahan. Semut itu masuk bersama gandum yang dibawanya. Katak lalu menyelam, hilang ditelan air, lama… sangat lama, hingga waktu terasa berhenti bernapas.
Danau kembali tenang.
Beberapa saat kemudian, katak itu muncul lagi. Mulutnya terbuka. Semut keluar—kini tanpa gandum. Ia kembali ke darat, seolah baru pulang dari perjalanan jauh yang tak perlu diceritakan kepada siapa pun.
BACA JUGA: Nabi Ibrahim Menghancurkan Patung
Nabi Sulaiman a.s. memanggilnya dengan suara yang lembut, suara yang dipahami angin dan daun.
“Wahai semut, apa yang engkau lakukan di dalam mulut katak itu?”
Semut itu menunduk hormat.
“Wahai Nabiyullah,” katanya, “di dasar danau ini ada sebuah batu yang cekung dan berongga. Di dalam rongga itu hidup seekor cacing yang buta.”
Ia berhenti sejenak, seperti memilih kata dari gudang kejujuran.
“Cacing itu tak mampu keluar untuk mencari rezekinya. Maka Allah mempercayakan urusan itu kepadaku.”
Air danau ternyata bukan penghalang, hanya jalan. Katak menjadi perahu. Mulutnya menjadi pintu. Semut itu melanjutkan,
“Dengan izin Allah, katak ini membawaku ke batu itu. Air tidak membahayakanku. Di sana, katak meletakkan mulutnya tepat di rongga batu. Aku masuk, menyerahkan gandum itu. Setelah amanahku selesai, aku kembali, dan katak ini mengantarkanku ke tepi danau.”
Nabi Sulaiman a.s. terdiam. Ada sunyi yang penuh makna. Lalu beliau bertanya,
“Apakah engkau mendengar tasbih cacing itu?”
“Ya,” jawab semut, suaranya jernih.
Cacing itu berdoa dalam gelapnya dunia:
Yâ man lâ yansânî fî jaufi hâdzihî bi rizqika, lâ tansâ ‘ibâdakal mu’minîna bi rahmatik.
“Wahai Dzat yang tidak melupakanku di kedalaman ini dengan rezeki-Mu, jangan Engkau lupakan hamba-hamba-Mu yang beriman dengan rahmat-Mu.”
BACA JUGA: Nabi Yusuf di Tengah Kesedihan Mekah
Maka danau itu pun terasa lebih luas. Batu yang cekung itu terasa lebih lapang. Dan makna rezeki menjelma bukan sekadar gandum, melainkan kepastian.
Dari kisah kecil ini, kita belajar tentang janji besar. Bahwa rezeki tidak selalu datang dengan suara gemuruh. Kadang ia tiba dalam diam, lewat jalan yang tak kita sangka. Bahwa Allah tidak pernah lupa—tidak pada cacing di dasar danau, tidak pula pada anak Adam yang berjalan di atas bumi.
Dan selama napas masih diberi waktu, rezeki telah ditakar, dicatat, dan disampaikan, melalui tangan siapa pun yang Dia kehendaki.
Wallahu a’lam bish-shawab. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE




