KETIKA Heraklius memutuskan meninggalkan Palestina menuju Konstantinopel, ia tidak pergi dalam keadaan tenang. Dalam riwayat futuhat Syam, diceritakan bahwa sebelum keberangkatannya, seorang prajurit Bizantium yang pernah tertangkap tentara Muslimin menyampaikan kesaksian yang mengguncang keyakinannya.
Prajurit itu menggambarkan pasukan Muslimin sebagai kaum yang malamnya diisi shalat dan munajat, sementara siangnya menjadi singa di medan perang. Mereka hidup dalam disiplin moral yang ketat: tidak mabuk, tidak berzina, tidak berkhianat, dan tidak mengambil harta tanpa hak. Jika ada pelanggaran, mereka menghukum diri mereka sendiri. Ketaatan mereka lahir dari takut kepada Allah, bukan karena pengawasan panglima.
Yang paling menggetarkan Heraklius adalah kesaksian bahwa mereka mencintai kematian sebagaimana manusia lain mencintai kehidupan, karena dunia tidak menguasai hati mereka. Mendengar itu, Heraklius dikabarkan berkata, “Jika apa yang engkau katakan benar, mereka akan merebut tempat kakiku ini.”
Maka saat Heraklius meninggalkan Palestina, ia seakan meninggalkan tanah yang telah divonis sejarah. Baitul Maqdis bukan lagi soal benteng dan pasukan, tetapi soal nilai. Dan sejarah membuktikan, kota suci itu jatuh tanpa pembantaian, dibebaskan oleh pasukan yang akidahnya hidup dan akhlaknya tegak. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
