ANGKA 87 persen penduduk Indonesia yang beragama Islam pada tahun 2025 tidak hanya menunjukkan besarnya jumlah pemeluk agama ini, tetapi juga menjadi titik tolak penting untuk melihat kualitas praktik keagamaan sehari-hari, terutama dalam melaksanakan shalat lima waktu. Shalat lima waktu adalah kewajiban utama dalam Islam dan disebut sebagai tiang agama yang membentuk karakter dan disiplin spiritual seorang Muslim.
Namun, data dari survei Indonesia Moslem Report 2019 yang dipublikasikan oleh Avara Research menunjukkan bahwa hanya sekitar 38,9 persen umat Islam di Indonesia yang secara konsisten menunaikan shalat lima waktu setiap hari, baik sendirian maupun berjamaah. Sisanya masih sering atau kadang-kadang menjalankannya, sementara hanya sekitar 2 persen yang selalu shalat berjamaah dan 7,7 persen sering berjamaah. Sisanya adalah mereka yang melaksanakan shalat tetapi tidak rutin, dan hanya 0,4 persen yang tidak pernah melaksanakan shalat lima waktu.
Artinya, dari populasi Muslim yang mencapai ratusan juta jiwa, kurang dari setengahnya yang bisa disebut konsisten dalam menjalankan kewajiban shalat lima waktu setiap hari. Ini menjadi bahan refleksi penting, karena shalat merupakan aspek inti yang membentuk praktik spiritual dalam Islam.
Di sisi lain, survei global seperti yang dilaporkan oleh Pew Research Center 2025 menunjukkan bahwa sekitar 84 persen responden Muslim di Indonesia mengaku melaksanakan shalat lima waktu setiap hari dalam konteks survei internasional yang membandingkan negara-negara berpenduduk Muslim.
Artinya, jika 87 juta dijadikan basis, maka sekitar 73 juta orang termasuk dalam kelompok 84 persen tersebut.
Ini menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi dibanding survei lokal, tetapi tetap menjadi indikator bahwa praktik shalat tetap menjadi kegiatan sehari-hari bagi sebagian besar masyarakat Muslim.
Perbedaan angka ini bisa dilihat sebagai cerminan metodologi survei yang berbeda, serta variasi cara orang memahami istilah “konsisten” atau “melaksanakan shalat lima waktu.” Survei lokal memberikan gambaran yang lebih rinci tentang frekuensi dan kondisi pelaksanaan—termasuk aspek berjamaah maupun sendiri—sementara survei internasional lebih fokus pada apakah shalat dilakukan secara umum dalam skala harian.
BACA JUGA: Berapa Banyak Jumlah Orang Islam di Indonesia di Tahun 2025?
Kenapa ini penting? Shalat lima waktu bukan semata ritual pribadi; ia memiliki dampak sosial dan psikologis. Praktik yang konsisten mengajarkan disiplin waktu, fokus batin, dan nilai-nilai moral yang stabil dan berulang. Ketika mayoritas penduduk secara konsisten menjaga shalat lima waktu, dampaknya akan terasa dalam kehidupan keluarga, pendidikan anak, serta dalam interaksi sosial yang lebih luas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas penduduk Muslim Indonesia mengetahui dan mengimani kewajiban shalat, masih ada ruang signifikan untuk meningkatkan kualitas ibadah sehari-hari—bukan hanya sebagai penanda identitas, tetapi sebagai praktik spiritual yang konsisten dan menyeluruh. Data-data ini mengingatkan bahwa angka statistik besar harus dikawal dengan kualitas praktik yang nyata di lapangan. []
SUMBER:RADAR LAWU | DATALOKA
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

