DALAM sejarah awal Islam, ada tokoh-tokoh yang bukan penentang kasar, bukan pula penyembah berhala fanatik.
Mereka mengenal tauhid, membenci kesyirikan, dan bahkan menanti datangnya nabi terakhir. Namun, justru mereka inilah yang gagal melangkah satu langkah terakhir: berserah diri kepada kebenaran. Salah satu figur paling mencolok dalam kategori ini adalah Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt ats-Tsaqafī.
Ia bukan orang awam. Ia penyair besar. Ia cendekia Arab pra-Islam. Ia dikenal sebagai pencari Tuhan. Namun, ia wafat tanpa Islam. Kisah Umayyah bukan kisah kejahatan, melainkan kisah kekalahan batin.
Latar Belakang dan Kepribadian
Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt berasal dari Thaif, dari kabilah Tsaqif, salah satu kabilah terpandang di Hijaz. Ia hidup di masa ketika penyembahan berhala mendominasi Mekah dan sekitarnya. Namun, sejak muda Umayyah telah menolak berhala. Ia merasa ada yang keliru dalam tradisi kaumnya. Hatinya resah.
Ia mengembara ke Syam dan wilayah-wilayah yang terpengaruh Yahudi dan Nasrani.
Dari sanalah ia mengenal kisah para nabi, konsep tauhid, hari kebangkitan, dan pembalasan. Ia bukan sekadar mendengar, tetapi menyerapnya ke dalam syair-syair religius yang kelak membuatnya terkenal.
Dalam banyak puisinya, Umayyah berbicara tentang:
Keagungan Tuhan Yang Esa
Hari kiamat dan pengadilan akhir
Kehancuran kaum yang zalim
Harapan akan datangnya seorang nabi
Secara teologis, syair-syairnya sering kali selaras dengan ajaran Islam. Inilah yang membuat posisinya unik dan problematik.
Menanti Nabi, tetapi Salah Mengharap
Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt termasuk orang-orang Arab yang menunggu kedatangan nabi terakhir. Ia yakin zaman kenabian belum berakhir. Namun, di sinilah letak penyakit batinnya: ia berharap nabi itu datang dari dirinya, atau setidaknya dari kaumnya, Tsaqif.
Ia merasa pantas. Ia berilmu. Ia berpuisi tentang Tuhan. Ia hidup asketis. Ia meninggalkan berhala. Semua itu membuatnya yakin bahwa dirinyalah yang layak menerima wahyu.
Ketika Rasulullah ﷺ diutus dari Bani Hasyim—bukan dari Tsaqif—harapan itu runtuh. Bukan karena ia tidak mengenali kebenaran, tetapi karena kebenaran itu datang dari orang lain.
Sikap terhadap Rasulullah ﷺ
Riwayat-riwayat menunjukkan bahwa Umayyah tidak memusuhi Rasulullah ﷺ secara frontal. Ia tidak termasuk barisan penindas atau provokator. Bahkan, ia mengakui keindahan ajaran tauhid yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
Namun, pengakuan itu tidak berujung pada iman.
Ia berada di wilayah abu-abu: kagum, mengakui, tetapi menolak tunduk. Hatinya menolak bukan karena kurang bukti, melainkan karena gengsi spiritual.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda tentangnya:
«آمَنَ شِعْرُهُ وَكَفَرَ قَلْبُهُ»
“Syairnya beriman, tetapi hatinya kafir.”
Ungkapan ini sangat dalam. Ia menunjukkan bahwa bahasa bisa tunduk pada kebenaran, tetapi hati belum tentu.
Antara Ilmu dan Hidayah
Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt menjadi contoh klasik bahwa:
Mengetahui kebenaran tidak
sama dengan menerima kebenaran
Memuji Islam tidak sama dengan beriman
Menunggu nabi tidak sama dengan mengikuti nabi
Ia tahu tentang Allah, tetapi tidak mau bersujud kepada Rasul-Nya. Ia berbicara tentang akhirat, tetapi enggan menyerahkan dunia dan reputasi dirinya.
Di sinilah perbedaan antara ‘ilm (pengetahuan) dan hidayah (petunjuk). Ilmu bisa dicari. Hidayah menuntut kerendahan hati.
Penyakit Hati: Hasad dan Ambisi
Masalah Umayyah bukan logika, melainkan penyakit hati. Ia tersandung pada dua hal besar:
Hasad (kedengkian)
Ia tidak iri kepada ajaran Islam, tetapi iri kepada orang yang membawanya. Kebenaran terasa berat ketika datang dari sosok yang tidak ia harapkan.
Ambisi spiritual
Ia ingin menjadi pusat. Ia ingin menjadi pembawa wahyu, bukan pengikut wahyu. Ketika kenyataan menuntutnya berada di barisan orang yang taat, egonya menolak.
Inilah jebakan paling halus dalam dakwah: ingin kebenaran tegak, tetapi tidak ingin diri berada di posisi tunduk.
Akhir Kehidupan yang Tragis
Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt wafat dalam keadaan tidak memeluk Islam. Ia membawa serta seluruh pengetahuan, syair, dan pencarian panjangnya—tanpa syahadat.
Sejarah mencatatnya bukan sebagai musuh Islam, tetapi sebagai pelajaran pahit: seseorang bisa sangat dekat dengan kebenaran, bahkan hampir menyentuhnya, namun gagal masuk ke dalamnya.
Ia berdiri di ambang pintu, tetapi tidak pernah melangkah.
BACA JUGA: Perlakuan Orang Kafir Quraisy terhadap Anak-anak Rasulullah ﷺ
Ibrah Dakwah: Cermin untuk Setiap Zaman
Kisah Umayyah tidak berhenti di masa pra-Islam. Ia berulang di setiap zaman.
Ada orang yang:
Paham dalil, tetapi tidak taat
Menulis tentang Islam, tetapi tidak tunduk
Membela Islam secara intelektual, tetapi menolak komitmen
Mereka mengenali kebenaran, tetapi tidak mau kehilangan posisi, reputasi, atau ambisi pribadi.
Umayyah mengingatkan bahwa dakwah bukan sekadar soal benar atau salah, tetapi soal siapa yang rela menunduk.
Penutup: Ketika Kebenaran Menuntut Kerendahan
Umayyah bin Abī aṣ-Ṣalt adalah tragedi sunyi dalam sejarah. Ia tidak dihukum oleh manusia, tetapi dikalahkan oleh hatinya sendiri. Ia mengajarkan bahwa bahaya terbesar bukan kebodohan, melainkan kesombongan halus.
Islam tidak hanya menuntut pengakuan, tetapi kepatuhan. Tidak hanya kekaguman, tetapi penyerahan. Dan sering kali, ujian terberat bukan menerima kebenaran, melainkan menerima bahwa kebenaran itu tidak datang melalui diri kita.
Dalam kisah Umayyah, kita belajar satu hal:
jalan menuju iman bukan soal seberapa tinggi ilmu, tetapi seberapa rendah hati. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE
