SEBAGAI umat Islam, iman kita bertumpu pada satu keyakinan yang kokoh: Al-Qur’an adalah kebenaran mutlak. Ia bukan sekadar bacaan ritual, melainkan peta jalan kehidupan. Di dalamnya, Allah bukan hanya berbicara tentang hukum dan akhlak, tetapi juga tentang masa depan. Tentang akhir perjalanan dunia. Tentang kiamat yang pasti datang, meski sering kita tunda dalam kesadaran.
Salah satu tanda besar yang Allah sebutkan dengan bahasa yang singkat, padat, namun mengguncang jiwa adalah peristiwa terbelahnya bulan.
Allah SWT berfirman,
اِقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ
“Telah dekat hari kiamat dan bulan pun terbelah.” (QS. al-Qamar: 1)
Ayat ini tidak diawali dengan ancaman panjang. Tidak pula dengan kisah yang bertele-tele. Hanya satu kalimat. Tapi cukup untuk membuat orang beriman menunduk, dan orang lalai terdiam—jika mereka mau berpikir.
BACA JUGA: Dari Mana Saja Sumber Uang Haram di Akhir Zaman Ini?
Para ulama salaf sepakat bahwa ayat ini bukan sekadar perumpamaan. Ibn Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjelaskan bahwa terbelahnya bulan adalah peristiwa nyata, bukan kiasan, dan terjadi di masa Rasulullah ﷺ sebagai mukjizat yang disaksikan banyak orang. Ia menyebutkan berbagai riwayat sahih dari Ibnu Mas‘ud, Anas bin Malik, dan sahabat lainnya yang menguatkan peristiwa tersebut.
Peristiwa itu terjadi ketika kaum musyrikin Makkah menantang Nabi ﷺ. Mereka meminta bukti. Mereka ingin tanda. Seakan-akan iman bisa dipaksa oleh keajaiban. Padahal, hati yang keras tak akan lunak meski gunung berjalan.
Malam itu, Rasulullah ﷺ berdiri di bawah cahaya rembulan. Beliau berdoa. Bukan untuk membinasakan mereka, tapi agar mereka mendapat hidayah. Lalu, dengan izin Allah, beliau menunjuk bulan. Satu gerakan kecil dari tangan seorang hamba. Tapi dampaknya mengguncang langit.
Bulan pun terbelah. Dua bagian. Terpisah jelas. Satu di sisi gunung, satu di sisi lainnya.
Imam an-Nawawi rahimahullah menegaskan bahwa peristiwa ini adalah mukjizat hissiyyah—mukjizat yang bisa dilihat langsung oleh mata, bukan hanya dirasakan oleh hati. Bahkan sebagian kafilah dari luar Makkah pun menyaksikannya, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis-hadis sahih.
Rasulullah ﷺ berseru, “Isyhadu! Isyhadu!”
“Saksikanlah! Saksikanlah!”
Namun apa jawaban orang-orang kafir?
“Ini sihir.”
Inilah tabiat manusia yang digambarkan Al-Qur’an. Jika mukjizat datang, mereka berkata sihir. Jika azab ditunda, mereka berkata dusta. Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah pernah berkata, “Sungguh, dunia ini adalah negeri tipuan. Ia menipu orang-orang yang lalai, bukan orang-orang yang sadar.”
Menariknya, ayat ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Ia juga membuka pintu perenungan tentang masa depan. Allah tidak berkata, “Bulan telah terbelah.” Tapi, “Telah dekat kiamat dan bulan pun terbelah.” Seakan Allah ingin mengatakan: peristiwa besar itu bukan sekadar mukjizat Nabi, tapi juga alarm waktu.
Akhir zaman bukan datang tiba-tiba. Ia diawali tanda-tanda. Sebagian sudah berlalu. Sebagian sedang berjalan. Dan sebagian masih menunggu giliran.
Ulama salaf seperti Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah mengingatkan bahwa tanda-tanda kiamat bukan untuk memuaskan rasa ingin tahu, melainkan untuk membangunkan rasa takut dan harap dalam hati seorang mukmin. Jika tanda itu membuat seseorang semakin sibuk berdebat, maka ia gagal memahami hikmahnya.
Di zaman modern, sebagian orang mencoba mengaitkan peristiwa terbelahnya bulan dengan temuan ilmiah. Tahun 1969, manusia menginjakkan kaki di bulan. Sampel tanah diambil. Struktur permukaannya diteliti. Sebagian ilmuwan menemukan indikasi retakan panjang di permukaan bulan. Bagi orang beriman, ini bukan dasar iman. Tapi penguat.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata, “Tidak akan baik generasi akhir umat ini kecuali dengan apa yang telah memperbaiki generasi awalnya.” Maka sandaran kita bukan laboratorium, melainkan wahyu.
BACA JUGA: Apa Kesamaan Kejadian di Film Lord of The Rings dengan Peristiwa Akhir Zaman dalam Islam?
Jika bulan saja pernah terbelah karena isyarat seorang Nabi, lalu apa alasan kita untuk tetap merasa aman di dunia yang rapuh ini?
Akhir zaman bukan hanya tentang huru-hara kosmik. Ia juga tentang hati yang keras. Tentang manusia yang sibuk mengumpulkan dunia, tapi lupa mengumpulkan amal. Tentang lisan yang fasih, tapi sujud yang jarang.
Karena itu, pesan terbesar dari kisah ini bukan pada keajaiban bulan, tetapi pada persiapan diri. Bekal iman. Bekal takwa. Bekal amal saleh yang ikhlas.
Sebab ketika kiamat benar-benar datang, tak ada lagi waktu untuk berkata, “Seandainya dulu aku beriman.” Bulan sudah tak perlu terbelah lagi. Saat itu, seluruh penyesalan tak akan mengubah apa-apa. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE





