DALAM perspektif ilmu biologi dan kedokteran, tubuh manusia pada dasarnya dirancang untuk mengenali, memproses, dan memanfaatkan senyawa alami yang berasal dari makanan, udara, dan lingkungan biologis. Karena itu, banyak ilmuwan menyebut bahwa obat kimia sintetis adalah zat asing (xenobiotik) bagi tubuh. Xenobiotik adalah istilah untuk semua substansi yang tidak secara alami diproduksi oleh tubuh, sehingga keberadaannya dapat memicu respons khusus, termasuk metabolisme detoksifikasi dan reaksi protektif lainnya.
Menurut Dr. James M. Roberts, ahli farmakologi dari University of Michigan, “setiap obat, seaman apa pun, tetaplah benda asing yang harus diproses tubuh melalui sistem metabolik agar bisa dieliminasi.” Hal ini menunjukkan bahwa tubuh tidak melihat obat kimia sebagai bagian dari dirinya, melainkan sesuatu yang harus dipecah, dimetabolisme, dan dikeluarkan.

Nah, ketika obat kimia masuk ke dalam tubuh, hati menjadi organ pertama yang bekerja keras melalui proses yang disebut biotransformasi. Pada tahap ini, enzim-enzim hati seperti sitokrom P450 berusaha mengubah struktur kimia obat menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan. Namun proses ini bukan tanpa risiko. Beberapa obat dapat menghasilkan metabolit aktif yang bersifat toksik apabila digunakan berlebihan atau dalam jangka panjang. Inilah alasan utama mengapa obat kimia selalu memiliki efek samping, meskipun digunakan dengan benar.
Dr. Edward K. Proctor, seorang toksikolog, menjelaskan bahwa “tidak ada obat yang benar-benar aman; yang ada hanyalah obat yang manfaatnya lebih besar daripada risikonya.” Ini menegaskan bahwa obat kimia bekerja dengan prinsip manfaat vs. risiko, karena tubuh tetap menganggapnya sebagai molekul asing yang bisa mengganggu keseimbangan biologis.
Selain itu, obat kimia bekerja secara spesifik namun tidak selektif secara penuh. Contohnya, obat pereda nyeri seperti NSAID memang menekan peradangan, tetapi pada saat yang sama dapat menyebabkan iritasi lambung, gangguan ginjal, atau memengaruhi pembekuan darah. Hal ini terjadi karena obat memblokir jalur biokimia tertentu tanpa bisa memilih hanya jaringan yang sakit saja. Efek samping ini merupakan bukti bahwa tubuh merespons obat kimia sebagai zat asing, bukan sebagai bagian alami dari sistemnya.
Tidak hanya hati dan ginjal yang terpengaruh, sistem kekebalan tubuh pun dapat memberikan reaksi berupa alergi atau hipersensitivitas. Reaksi ini muncul ketika sistem imun membaca obat sebagai ancaman, bukan sebagai nutrisi atau zat alami. Reaksi seperti ruam, gatal, bahkan syok anafilaksis menunjukkan bahwa tubuh secara biologis tetap waspada terhadap masuknya zat asing.
BACA JUGA: Makanan dari Jalan Haram Berpengaruh pada Perilaku dan Kesehatan
Meskipun demikian, perlu ditegaskan bahwa obat kimia tetap memiliki manfaat besar dalam dunia medis modern. Antibiotik menyelamatkan jutaan nyawa, obat jantung menurunkan angka kematian, dan berbagai terapi kimia memberikan harapan hidup bagi penderita penyakit berat. Namun kesadaran bahwa obat kimia adalah zat asing mengingatkan kita agar menggunakannya secara bijak, terukur, dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Pada akhirnya, memahami bahwa obat kimia bukan bagian alami dari tubuh membantu kita menjaga keseimbangan: menggunakan obat saat diperlukan, menghindari penggunaan berlebihan, dan tetap mengutamakan pola hidup sehat sebagai fondasi utama kesehatan. []
Yudhistira Adi Maulana
_ Owner Bekam ruqyah centre Purwakarta.
_ Certified Tour leader haji dan umroh PT.Muhandis Qur’ani wisata.
_ Inisiator Bimbel Qur’an Madinah.
_ Praktisi Thibbunnabawi di bekam Ruqyah Al-Muhajirin.
Jl. Veteran No 106, Kebon Kolot Purwakarta, Jawa Barat / WhatsApp: 0817 – 9207- 630 .
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

