Ketika Kebaikan Dilupakan Manusia

Umar Faqih
2 Min Read
Foto: Freepik

PERNAHAKAH itu terjadi.
Kamu menolong seseorang dengan tulus.
Tenaga dikeluarkan.
Waktu dikorbankan.
Harta pun mungkin ikut berkurang.

Namun yang datang bukan terima kasih.
Justru sikap dingin.
Bahkan permusuhan.
Nama baikmu diburukkan.
Hatimu pun terasa sesak.

Inilah ujian keikhlasan.
Bukan ujian kecil.
Karena kebaikan yang dilupakan manusia, sering kali lebih menyakitkan daripada kejahatan yang terang-terangan.

BACA JUGA:  Sembunyikan Kebaikanmu

Islam sudah menyiapkan jawabannya.
Ambil ikhlasnya.
Relakan saja.
Jangan simpan luka terlalu lama.
Karena yang membalas kebaikan, bukan manusia.

Allah-lah seadil-adil pembalas amal.
Tidak satu pun kebaikan yang hilang.
Walau dilupakan manusia.
Walau dicaci.
Walau diputarbalikkan.

Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengharapkan balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih” (QS. Al-Insaan: 9).

Inilah fondasi amal seorang mukmin.
Berbuat bukan untuk pujian.
Bukan untuk balasan.
Apalagi untuk pengakuan.

Ulama salaf memahami ini dengan sangat dalam.
Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
“Beramal karena manusia adalah syirik, dan meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”
Maka luruskan niat.
Tetap berbuat baik.
Walau manusia berubah.

Hasan Al-Bashri rahimahullah juga berpesan,
“Jika Allah menerima amalmu, maka tidak penting siapa pun yang mencelamu.”
Kalimat ini menenangkan jiwa.
Sekaligus menguatkan langkah.

Kadang Allah sengaja membuat manusia lupa.
Agar hatimu tidak bergantung pada mereka.
Agar amalmu murni untuk-Nya.
Agar pahala itu utuh.
Tanpa tercampur harapan dunia.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Siapa yang mengharap balasan dari manusia, maka ia akan kecewa. Dan siapa yang mengharap balasan dari Allah, maka ia tidak akan rugi.”

Maka jika kebaikanmu dibalas keburukan.
Jangan berhenti berbuat baik.
Jangan berubah menjadi pahit.
Teruskan amal.
Perbaiki niat.

Biarlah manusia lupa.
Allah tidak pernah lupa.
Dan itu sudah lebih dari cukup. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *