DI tengah hiruk-pikuk perdebatan sejarah Islam, ada satu pertanyaan yang terus muncul—kadang tulus, kadang provokatif: apakah Abdullah, Aminah, dan Abdul Muthalib pernah menyembah berhala? Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi di baliknya tersembunyi lapisan riwayat, tafsir, bias orientalis, hingga perbedaan metodologi ulama klasik.
Tulisan ini tidak hendak menjadi pembela emosional, juga bukan penuduh serampangan. Ia mencoba berjalan di jalur jurnalistik: mengumpulkan data, memeriksa sumber, membedakan fakta dan asumsi, serta menimbang pendapat dengan adil. Sebab dalam sejarah Islam, tidak semua yang populer itu sahih, dan tidak semua yang kontroversial itu benar.
Mekah Pra-Islam: Lingkungan Musyrik, Bukan Jaminan Kemusyrikan Personal
Mekah abad ke-6 M dikenal sebagai pusat perdagangan dan ziarah. Ka‘bah dikelilingi ratusan berhala. Quraisy mengelola ritual, ekonomi, dan simbol-simbol agama yang telah jauh menyimpang dari tauhid Nabi Ibrahim. Namun satu kekeliruan metodologis sering terjadi: menganggap setiap individu Quraisy otomatis penyembah berhala.
BACA JUGA: Siapa Ummu Hani, Wanit yang Menolak Cinta Rasulullah?
Sejarah tidak sesederhana itu.
Bahkan sumber-sumber klasik mencatat adanya kelompok ḥunafā’—orang-orang yang menolak berhala dan tetap bertauhid, meski tanpa kitab dan nabi. Waraqah bin Naufal, Zaid bin ‘Amr bin Nufail, dan Umayyah bin Abi Shalt adalah contoh terkenal. Artinya, kehidupan di tengah masyarakat musyrik tidak otomatis mencerminkan akidah personal seseorang.
Di sinilah investigasi harus dimulai.
Abdullah bin Abdul Muthalib: Sosok Sunyi Tanpa Tuduhan Sahih
Abdullah, ayah Nabi Muhammad ﷺ, wafat muda—bahkan sebelum Nabi lahir. Ia tidak meninggalkan pidato, tidak memimpin kabilah, dan tidak terlibat konflik teologis. Anehnya, justru sosok yang paling sunyi ini sering diseret ke dalam tuduhan besar: penyembah berhala.
Masalahnya, tidak ada satu pun riwayat sahih yang menyebut Abdullah pernah menyembah berhala.
Para penulis sirah klasik seperti Ibnu Ishaq, Ibnu Hisyam, dan Al-Waqidi tidak mencatat satu peristiwa pun yang menunjukkan praktik kemusyrikan Abdullah. Tuduhan ini biasanya disandarkan secara tidak langsung pada hadits tentang “orang tua Nabi”, yang sendiri diperselisihkan secara serius oleh para ulama—baik dari sisi sanad maupun pemahaman makna.
Imam As-Suyuthi dalam Masalik al-Hunafa’ justru menegaskan bahwa orang tua Nabi wafat di atas tauhid atau termasuk ahlul-fitrah. Ibnu Katsir pun menyampaikan bahwa persoalan ini bukan perkara ijma‘, dan tidak boleh dipastikan dengan klaim mutlak.
Dalam jurnalisme investigatif, ketiadaan bukti adalah fakta penting. Dan dalam kasus Abdullah, tuduhan menyembah berhala tidak memiliki bukti historis yang sahih.
Aminah binti Wahab: Perempuan Mekah yang Diseret Tuduhan
Nama Aminah sering hanya muncul sebagai “ibu Nabi”, seolah ia tidak punya identitas personal. Padahal, tuduhan terhadapnya juga mengambang tanpa bukti.
Aminah wafat ketika Nabi Muhammad ﷺ masih kecil. Tidak ada catatan ia pernah memimpin ritual, bernazar kepada berhala, atau mempraktikkan pemujaan pagan. Lagi-lagi, tuduhan lahir dari asumsi lingkungan, bukan dari data.
Sebagian ulama memasukkan Aminah ke dalam kategori ahlul-fitrah—orang yang tidak sampai kepadanya dakwah rasul secara jelas. Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa Allah tidak mengazab suatu kaum sebelum mengutus rasul.
Dalam pendekatan sejarah kritis, menuduh tanpa riwayat adalah bentuk bias, bukan analisis. Apalagi terhadap sosok yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai bagian dari nasab Rasulullah ﷺ yang dimuliakan.
Abdul Muthalib: Antara Tuduhan Syirik dan Jejak Tauhid
Abdul Muthalib adalah figur paling kompleks. Ia pemimpin Quraisy, penjaga Ka‘bah, dan tokoh publik. Karena itu, jejaknya lebih terlihat—dan lebih mudah dipelintir.
Benar, ia hidup di tengah masyarakat yang memelihara berhala. Namun apakah ia menyembahnya? Di sinilah data justru berbicara sebaliknya.
Dalam peristiwa Pasukan Gajah, ketika Abraha datang hendak menghancurkan Ka‘bah, Abdul Muthalib tidak berdoa kepada Hubal. Ia berkata kalimat yang terus dikutip sejarah:
“Aku adalah pemilik unta-unta itu, dan Ka‘bah memiliki Tuhan yang akan menjaganya.”
Ini bukan bahasa politeisme. Ini bahasa tauhid.
Riwayat-riwayat juga mencatat bahwa nazar Abdul Muthalib ditujukan kepada Allah, bukan kepada berhala. Doa-doanya langsung, personal, dan tidak melalui perantara patung.
Sebagian ulama seperti Al-Qurthubi dan As-Suyuthi menyebut Abdul Muthalib sebagai ḥanīf, pengikut agama Ibrahim yang tersisa dalam fitrah Arab.
Tentu, ada ulama yang berbeda pendapat. Namun perbedaan pendapat bukan izin untuk memvonis. Dalam metodologi ilmiah, ketika bukti tauhid lebih kuat daripada bukti syirik, maka tuduhan harus ditangguhkan.
Hadits Kontroversial dan Cara Membacanya
Sebagian pihak mengandalkan hadits tentang orang tua Nabi ﷺ untuk menyimpulkan kemusyrikan. Namun ulama hadits dan ushul fiqh tidak membaca teks secara mentah.
Ada perdebatan panjang:
Apakah hadits itu bersifat khusus atau umum?
Apakah konteksnya sebelum atau sesudah syafaat?
Apakah “orang tua” dimaknai biologis atau umat sebelumnya?
Imam Nawawi, Imam As-Suyuthi, hingga Al-Baihaqi menulis bab khusus tentang ini. Artinya, ini bukan perkara sederhana, apalagi untuk dijadikan senjata polemik.
Orientalisme dan Proyek Dekonstruksi Nasab Nabi
Dalam kajian modern, tuduhan terhadap orang tua Nabi sering diperkuat oleh tulisan orientalis. Tujuannya bukan akademik murni, melainkan mendekonstruksi kemuliaan simbolik Rasulullah ﷺ.
Strateginya klasik: jika tidak bisa menyerang ajaran, serang nasab. Jika tidak bisa mematahkan wahyu, runtuhkan silsilah.
Namun sejarah Islam tidak berdiri di atas propaganda. Ia berdiri di atas sanad, kritik matan, dan kehati-hatian ilmiah.
BACA JUGA: Jaminan Allah yang Menentramkan Rasulullah ﷺ
Kesimpulan
Setelah menelusuri riwayat, pendapat ulama, dan fakta sejarah, kesimpulan paling jujur adalah:
Tidak ada bukti sahih bahwa Abdullah menyembah berhala
Tidak ada bukti sahih bahwa Aminah menyembah berhala
Abdul Muthalib menunjukkan indikasi kuat tauhid dan tidak dapat disamakan dengan musyrik Quraisy
Dalam jurnalisme, kesimpulan tidak boleh melampaui data. Dan data tidak mendukung tuduhan.
Penutup: Antara Ilmu dan Adab
Sejarah bukan alat untuk mencederai kehormatan. Dalam Islam, adab mendahului ilmu. Rasulullah ﷺ bukan hanya pembawa wahyu, tetapi juga anak dari nasab yang dijaga Allah.
Maka pertanyaan ini seharusnya dijawab bukan dengan emosi, tapi dengan kejujuran ilmiah. Dan kejujuran itu membawa kita pada satu titik: tuduhan menyembah berhala terhadap keluarga inti Nabi ﷺ tidak memiliki dasar yang kokoh. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

