Kenapa Kok Aku Ga Pernah Bisa Tahajjud?

Umar Faqih
4 Min Read
Foto: Umar Faqih | Islampos

SIAPA  pun yang jujur pada dirinya pasti pernah bergumam lirih: “Kenapa ya, aku kok nggak pernah bisa tahajjud?”
Alarm bunyi, tangan mematikannya. Niat ada, tapi badan rasanya berat. Hati ingin bangun, tapi kasur lebih memikat. Tenang, kamu tidak sendirian.

Para ulama salaf sejak dahulu sudah membedah penyakit batin ini dengan sangat jujur—bahkan kadang menohok.

1. Bukan Karena Kamu Lemah, Tapi Karena Dosa Terlalu Akrab

Imam Sufyan ats-Tsauri pernah berkata kurang lebih maknanya:

“Aku terhalang dari shalat malam selama berbulan-bulan hanya karena satu dosa yang aku lakukan.”

Tahajjud bukan sekadar ibadah fisik, tapi kehormatan ruhani. Dosa-dosa yang kita anggap sepele—pandangan haram, lisan yang tajam, hati yang dengki—perlahan menggelapkan jiwa. Saat jiwa berat, badan ikut berat.

Bukan Allah yang menjauh, tapi kitalah yang menutup pintu.

Rasulullah ﷺ dan Tahajjud, Bagaimana dengan Dirimu?

2. Hati Terlalu Kenyang Dunia

Al-Hasan al-Bashri pernah ditanya:
“Kenapa kami sulit bangun malam?”
Beliau menjawab,

“Karena dosa-dosa kalian membelenggu hati kalian.”

Dalam riwayat lain, beliau juga mengisyaratkan:
hati yang terlalu sibuk dunia akan sulit menikmati sepi bersama Allah.

Siang kita habiskan untuk mengejar pujian, validasi, dan layar yang tak pernah gelap. Malam, Allah memanggil—tapi hati sudah kelelahan oleh dunia, bukan oleh ibadah.

https://s.shopee.co.id/6Kxvb6YE1V

3. Terlalu Banyak Makan, Terlalu Sedikit Menahan Diri

Yahya bin Mu’adz ar-Razi pernah mengingatkan:

“Bagaimana mungkin seseorang berharap bisa shalat malam, sementara perutnya penuh dan syahwatnya liar?”

Tahajjud itu ringan bagi orang yang siangnya menjaga diri. Tapi berat bagi yang siangnya memanjakan nafsu. Bukan karena Allah tidak memberi taufik, tapi karena kita menimbun penghalangnya sendiri.

4. Kamu Mengira Tahajjud Itu Beban, Bukan Kehormatan

Ibn Mas’ud pernah berkata dengan makna:

“Tidaklah seseorang terhalang dari qiyamul lail kecuali karena dosa yang ia lakukan.”

Para salaf tak pernah mengeluh capek tahajjud. Justru mereka menangis kalau terhalang. Karena bagi mereka, tahajjud bukan kewajiban tambahan—tapi undangan khusus.

Kalau kita masih berkata, “Tahajjud berat,” mungkin masalahnya bukan di badan, tapi di cara kita memandang Allah.

BACA JUGA: Cara Ulama Salaf Memaknai Tahajjud

5. Allah Sedang Mengajarimu Rendah Hati

Ada satu hikmah yang sering dilupakan:
kadang Allah menunda tahajjudmu agar kamu sadar, kamu butuh Dia.

Bukan semua yang rajin tahajjud itu mulia, dan bukan semua yang belum tahajjud itu hina. Ada orang yang belum bisa bangun malam, tapi hatinya remuk karena rindu. Dan ada yang bangun malam, tapi hatinya penuh ujub.

Allah lebih peduli kerendahan hatimu daripada jumlah rakaatmu.

Penutup: Jangan Berhenti Mengetuk

Kalau hari ini kamu belum bisa tahajjud, jangan putus asa.
Perbaiki siangmu. Ringankan dosamu. Jujurlah pada Allah.

Ulama salaf tidak mengajarkan kita untuk putus asa, tapi untuk terus mengetuk pintu—meski dengan tangan gemetar dan mata sembab.

Karena suatu malam nanti, tanpa kamu sadari,
Allah akan membangunkanmu.
Bukan oleh alarm,
tapi oleh rindu. []

___________

Kirim tulisan Anda ke Islampos. Isi di luar tanggung jawab redaksi. Silakan kirim ke: [email protected], dengan ketentuan tema Islami, pengetahuan umum, renungan dan gagasan atau ide, Times New Roman, 12 pt, maksimal 650 karakter. Sertakan foto diri, Kartu Tanda Identitas (KTP/KTP/SIM), akun media sosial (IG, Facebook, atau Tiktok), dan imel.

___________

Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

TAGGED:
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *