MEKAH pada awal abad ke-7 bukan sekadar pusat perdagangan dan ziarah. Ia adalah pusat produksi narasi. Di kota itulah para pemuka Quraisy merawat mitos, membangun opini, dan memelihara ketakutan massal demi satu tujuan: menghentikan laju dakwah Muhammad bin Abdullah ﷺ.
Berbagai label pun disematkan: penyair gila, dukun, pemecah belah keluarga, ancaman stabilitas sosial. Semua itu diulang dari satu pasar ke pasar lain, dari satu kabilah ke kabilah lain. Namun propaganda, betapapun masifnya, selalu memiliki satu titik lemah: pertemuan langsung dengan fakta.
Dan pada satu hari, fakta itu bernama Dhammād al-Azdi.
Seorang Tabib dari Azd: Datang Tanpa Kepentingan
Dhammād bin Tsa‘labah al-Azdi berasal dari kabilah Azd Syanu’ah, bagian dari Arab ‘Āribah (Arab Selatan). Ia bukan politisi Mekah, bukan simpatisan Quraisy, dan bukan pula pengikut Muhammad ﷺ. Ia datang sebagai orang luar—dan justru karena itu, posisinya netral.
Dhammād dikenal sebagai:
tabib tradisional,
peruqyah,
dan ahli pengobatan jiwa menurut tradisi Arab kala itu.
Ia terbiasa menangani orang-orang yang dianggap “kerasukan”, “gila”, atau “terganggu”.
Ketika memasuki Mekah, ia mendengar satu narasi yang terus diulang:
“Di tengah kami ada seorang lelaki yang terkena gangguan jin.”
Nama lelaki itu: Muhammad bin Abdullah.
BACA JUGA: Cara Quraisy Menghalangi Hijrah ke Habasyah
Propaganda Quraisy: Satu Narasi, Banyak Versi
Menariknya, Quraisy tidak konsisten dalam tuduhannya:
kadang disebut penyair,
kadang dukun,
kadang orang gila,
kadang tukang sihir.
Namun bagi Dhammād, inkonsistensi itu justru mencurigakan. Sebab dalam dunia pengobatan jiwa:
Orang gila tidak mungkin menghasilkan ajaran yang konsisten.
Rasa ingin tahu Dhammād bukan didorong iman, melainkan naluri profesional.
Ia berkata dalam hatinya:
“Jika lelaki ini memang terganggu, mungkin aku bisa menyembuhkannya.”
Dengan niat itu, ia mendatangi Nabi ﷺ.
Pertemuan Tanpa Perantara
Tanpa pengantar, tanpa rekomendasi, tanpa protokol Quraisy, Dhammād berdiri di hadapan Muhammad ﷺ dan berkata:
“Wahai Muhammad, aku adalah orang yang biasa mengobati gangguan jiwa. Aku mendengar bahwa engkau mengalami sesuatu. Mungkin Allah menyembuhkanmu melalui tanganku.”
Kalimat ini penting dicatat:
Dhammād tidak datang memusuhi,
tidak datang mengejek,
tidak datang berdebat,
tapi membawa asumsi yang dibangun oleh propaganda Quraisy.
Inilah momen investigatif paling jujur dalam sejarah dakwah:
seorang saksi independen menilai langsung objek fitnah.
Jawaban Nabi: Tanpa Retorika, Tanpa Emosi
Alih-alih marah, Nabi ﷺ menjawab dengan tenang. Beliau memulai dengan khutbah pendek:
“Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya…”
Bukan puisi.
Bukan mantra.
Bukan rayuan.
Bagi Dhammād, ini bukan bahasa orang gila. Ini adalah:
bahasa terstruktur,
bertauhid,
jernih,
dan sarat makna.
Dhammād terdiam.
Seorang Tabib Menyimpulkan
Dhammād kemudian berkata jujur:
“Demi Allah, aku telah mendengar ucapan para penyair, dukun, dan orang gila. Namun aku tidak pernah mendengar ucapan seperti ini.”
Ini adalah kesaksian profesional, bukan kesaksian iman.
Ia lalu berkata:
“Ulurkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu.”
Tanpa tekanan.
Tanpa ancaman.
Tanpa mukjizat visual.
Hanya kejujuran kata dan kejernihan akal.
Propaganda Quraisy Runtuh di Tangan Orang Luar
Masuk Islamnya Dhammād adalah tamparan sunyi bagi Quraisy.
Mengapa?
Ia bukan dari Bani Hasyim,
bukan penduduk Mekah,
bukan orang yang diuntungkan secara sosial.
Justru sebaliknya:
Ia datang membawa asumsi Quraisy, lalu pulang membawa kebenaran Islam.
Inilah yang paling ditakuti oleh rezim propaganda mana pun: kesaksian independen yang tak bisa dibeli.
Dakwah Dhammād: Kebohongan yang Terbongkar di Kampung Sendiri
Dhammād tidak berhenti pada keislamannya. Ia kembali ke kaumnya dan berkata:
“Wahai kaumku, aku telah datang dari orang terbaik di muka bumi. Ikutilah dia.”
Tidak lama kemudian, banyak dari kaumnya masuk Islam, bahkan sebelum hijrah Nabi ﷺ ke Madinah.
Artinya:
kebohongan Quraisy tidak hanya runtuh di Mekah,
tapi terbongkar ke luar Jazirah Hijaz.
Mengapa Kisah Ini Penting Hari Ini?
Kisah Dhammād al-Azdi menunjukkan satu pola sejarah yang berulang:
Kebenaran selalu difitnah terlebih dahulu
Fitnah selalu disebarkan oleh elite yang terancam
Orang luar yang jujur justru sering menjadi saksi paling adil
Islam tidak menang karena propaganda tandingan, tetapi karena:
ketika kebohongan diuji langsung oleh akal sehat, ia runtuh dengan sendirinya.
BACA JUGA: Utusan Kafir Quraisy Datang untuk “Menasihati” Rasulullah ﷺ
Penutup: Islam Tidak Takut Diperiksa
Dhammād tidak datang dengan iman, tapi dengan skeptisisme sehat.
Dan Islam tidak takut diuji olehnya.
Karena kebenaran:
tidak butuh teriakan,
tidak butuh sensor,
dan tidak takut pada pertanyaan jujur.
Di hadapan Dhammād al-Azdi, kebohongan Quraisy tidak dibantah dengan makian, tetapi dibongkar oleh realitas.
Dan sejak hari itu, satu tuduhan Quraisy kehilangan maknanya untuk selamanya.
Tidak lama kemudian, banyak dari kaumnya masuk Islam, bahkan sebelum hijrah Nabi ﷺ ke Madinah.
Artinya:
kebohongan Quraisy tidak hanya runtuh di Mekah,
tapi terbongkar ke luar Jazirah Hijaz. []
Ikuti Kami di Media Sosial:
Facebook: https://www.facebook.com/islampos.global.media
Instagram: : https://www.instagram.com/islamposcom/
Telegram: https://t.me/islamposgroupmedia
Tiktok: https://www.tiktok.com/@islamposmedia2
Youtube : https://www.youtube.com/@IslamposMedia-25/videos
Whatsapp Group : https://chat.whatsapp.com/IpX9u3UsWpnJiRcbau17XE

